
Malam mulai merangkak larut. Dua orang yang baru saja selesai makan malam bersama, kini dalam perjalanan pulang ke tempat tinggal sang gadis.
Evangeline nampak diam seribu bahasa di kursi depan. Sangat berbeda dengan saat mereka berangkat tadi, dimana gadis itu terus bergurau dan terkekeh dengan Malcolm.
Sementara dokter tersebut pun tak beda jauh. Dia sama sekali tak terlihat baik. Jelas kekecewaan terpancar di wajahnya, dan membuatnya juga diam seribu bahasa.
Di dalam mobil benar-benar hening. Bahkan tak ada satu pun yang ingin mendengarkan musik untuk membuang kecanggungan ini.
Semuanya berawal saat Malcolm mengajaknya makan malam, dan ingin memperkenalkannya dengan seseorang yang spesial.
Siapa tahu, rupanya yang ingin diperkenalkan oleh dokter tersebut adalah sang ayah, Morgan Andara, sang CE Andara Corporation.
Saat makan malam, Evangeline sudah berusaha terlihat biasa saja. Bahkan saat Morgan bertanya ini itu padanya, dia terus menjawabnya dengan sopan.
Namun, wajahnya benar-benar berubah ketika Morgan menyinggung tentang kedekatan mereka, dan Malcolm menjawab bahwa dia ingin serius dengan Evangeline.
Seketika itu, gadis tersebut kembali bersikap dingin pada Malcolm. Dia hanya tak menunjukkannya di depan Morgan, demi menjaga muka sang dokter di depan ayahnya.
Namun semuanya berubah saat makan malam usai. Setelah mengantarkan Morgan Andara yang pergi lebih dulu dari restoran, Evangeline seketika berjalan ke arah jalan raya dan hendak mencegat taksi.
Hal itu membuat Malcolm sontak mengejarnya dan berhasil meraih tangan gadis itu.
“Lepaskan!” seru Evangeline datar, sembari menepis tangan Malcolm.
“Eva, aku bisa jelaskan,” ucap Malcolm.
“Apa? Kau mau jelaskan apalagi? Semuanya sudah kau katakan di dalam sana. Apa kau gila? Kau ingin serius denganku sementara kau tahu aku perempuan yang telah bersuami,” tepis Evangeline.
“Apa kau masih memikirkan Ardiaz? Dia sudah mati. Mau sampai kapan kau akan seperti ini? Life must go on, Eva,” sanggah Malcolm.
Evangeline terlihat tersenyum sinis ke arah sang dokter.
“Benar. Bukankah kabar itu juga berasal dari mu. Apa semua ini ada hubungannya denganmu?” ucap Evangeline tiba-tiba.
“Apa maksudmu, Eva?” tanya Malcolm tak paham.
__ADS_1
“Lupakan. Aku akan pulang sendiri,” sahut Evangeline.
Di pun berbalik hendak pergi, namun lagi-lagi ditahan oleh Malcolm.
“Ev...,” panggilnya.
“LEPAS!” sela Evangeline yang terus menepis tangan Malcolm.
“Eva, tidak bisakah kau membuka hati untuk ku? Aku bisa menggantikan Ardiaz untuk mu. Aku bisa membuatmu bahagia, Eva. Aku tulus mencintaimu. Apa kau tak bisa melihatnya sama sekali?” ucap Malcolm.
Evangeline nampak menyingkap rambutnya yang mulai berantakan akibat tertiup angin, ditambah tarik menarik yang membuat tubuhnya berguncang.
“Jika kau tulus padaku, cukup hargai keputusanku. Bukankah sejak di Wisteria, aku sudah mengatakan padamu bahwa aku adalah istri Ardiaz, dan selamanya akan seperti itu, entah dia hidup atau mati. Apa kau mengerti?” ucap Evangeline tegas.
Mendengar hal itu, seketika membuat Malcolm tampak benar-benar kecewa. Dia mengira Evangeline bisa mulai menerimanya sedikit demi sedikit, seiring perhatian yang dia berikan.
Namun ternyata, gadis itu benar-benar telah menutup hatinya dari siapapun, dan terus menyimpan Ardiaz di dalam sana.
Dia pun melepaskan tangan gadis itu yang sejak tadi terus ia genggam.
Dia membuka jalan untuk Evangeline, dan menunjukkan ke arah parkiran.
Awalnya Evangeline masih ingin memanggil taksi dan enggan naik ke mobil Malcolm lagi. Namun, dokter muda itu kembali membujuknya.
“Aku hanya ingin bertanggung jawab mengantarkanmu kembali saja. Kumohon mengertilah. Apa ini pun tak bisa?” bujuk Malcolm.
Evangeline nampak menutup mata, sembari mengusap poninya ke atas. Helaan nafas berat terdengar jelas dari gadis itu.
Dia tau Malcolm adalah orang baik. Hanya saja hatinya sudah terisi dan penuh sesak oleh Ardiaz, meski hubungan mereka benar-benar sangat rumit.
Akhirnya, karena masih menghormati Malcolm, Evangeline pun mau masuk ke mobil dokter itu, dan mereka pun meninggalkan restoran tanpa sepatah katapun keluar dari mereka keduanya.
Sesampainya di apartemen, Malcolm tetap mengantarkan Evangeline hingga tiba di depan unit miliknya.
“Kau bisa mengantarku sampai di sini saja,” ucap Evangeline, saat mereka tiba di depan pintu.
__ADS_1
Ketika gadis itu selesai mengatakan hal tersebut, dia pun berbalik dan hendak masuk. Saat itu, tiba-tiba saja Malcolm kembali menarik tangannya, hingga membuat gadis tersebut terhuyung dan menabrak dada kekar sang dokter muda.
Evangeline sampai harus kembali mundur beberapa langkah untuk menyeimbangkan tubuh.
“Ada apa lagi?” tanya Evangeline ketus.
Malcolm nampak menunduk sejenak, kemudian dia menatap lurus ke dalam mata sang gadis.
“Aku minta maaf. Aku tau aku sudah terlalu memaksakan diri. Tapi, setidaknya apakah kita masih bisa berteman?” ucap Malcolm.
Evangeline nampak diam dengan mencoba melihat ke dalam manik hitam Malcolm. Gadis itu melihat kegalauan yang saat ini dialami sang dokter muda.
Malcolm terlihat begitu kecewa, namun juga merasa bersalah. Meski mereka belum lama saling kenal, akan tetapi Evangeline mengakui bahwa dokter itu benar-benar tulus saat memutuskan untuk menemaninya di saat terkelam dalam hidup.
Harusnya Evangeline bisa membuka hati padanya, akan tetapi hatinya tak bisa dibohongi, dan dia memilih suaminya dari pada apapun juga.
Evangeline mengusap keningnya, seraya menghela nafas panjang. Dia mengusap tengkuknya, dan sedikit menekan bagian itu karena merasa pusing dengan semua ini.
“Baiklah. Kita masih bisa berteman. Tapi, semua itu juga tergantung dirimu sendiri. Jika kau masih seperti ini, mungkin aku memilih untuk menjauh dari dirimu,” ucap Evangeline.
Malcolm nampak tersenyum tipis. Namun senyum itu terasa begitu sepi.
“Baiklah. Terimakasih, Eva. Kalau begitu aku akan pulang sekarang. Selamat malam,” sahut Malcolm.
Pria itu kemudian berbalik dan pergi dari sana.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
__ADS_1
terimakasih