A Love To Killer

A Love To Killer
BABAK 2 : Bandara


__ADS_3

Di bandara, sebuah taksi baru saja berhenti di depan pintu masuk utama. Seorang gadis cantik dengan mengenakan padding tebal keluar dari dalam taksi, dengan menenteng tas ransel yang belum dipakai di punggung.


Sang sopir membantunya mengambil koper dari dalam bagasi, dan membawanya kepada gadis tersebut yang tak lain adalah Evangeline.


Setelah membayar taksinya, istri Ardiaz itu pun lalu berjalan masuk menuju ke tempat pemindaian barang. Semua barangnya masuk melalui mesin pendeteksi logam sementara dirinya menyiapkan tiket dan juga passport.


Petugas memintanya melepas topi serta maskernya, untuk memastikan foto di passport sama dengan wajahnya.


Setelah itu, dia pergi ke konter maskapainya, dan melakukan check-in. Antriannya begitu panjang, membuat Evangeline menduduki koper miliknya.


Dengan kembali mengenakan masker, kaca mata biru kehitaman serta topi baseball, sehingga membuat penampilannya begitu tertutup dan misterius.


Beberapa orang terlihat menatap aneh padanya, meski tak jarang pula yang tak peduli dengan keberadaan gadis itu.


Evangeline terlihat beberapa kali melihat jam tangan di pergelangannya, dan sedikitpun tak melihat ponselnya.


Benda itu seolah tak terlihat, atau sengaja disembunyikan entah dimana. Evangeline tahu bahwa ponselnya bisa merusak rencana pelarian dirinya.


Dia beberapa kali melihat ke sekeliling, memastikan bahwa tak ada orang yang mengikuti. Kali ini bukan dari Lucifer, melainkan dari anak buah sang ayah.


Evangeline tahu bahwa ayahnya sangat sayang pada dirinya, dan ingin putrinya itu melanjutkan hidup.


Namun, jelas-jelas Ardiaz masih hidup dan dia masih ingin menjadi istrinya. Hanya saja demi semua orang, dia harus menutupi kenyataan bahwa Ardiaz masih hidup.


Pikirannya buntu, dan tak bisa mencari solusi lain kecuali kabur dari semua orang, untuk sementara waktu hingga sang ayah menyerah menjodohkannya dengan orang lain.


Evangeline sadar itu adalah tindakan yang egois. Tapi menurutnya, hanya ini yang terbaik untuk semua orang, meski sebenarnya ini demi dia bertahan dengan perasaannya saat ini dengan sang suami.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, antriannya pun sampai paling depan. Semua dokumennya diperiksa di sana. Ada rasa gugup, karena kemungkinan ada yang akan menyabotase keberangkatannya.


Bisa saja sang ayah sudah menyadari rencana pelarian diri ini dan menghubungi pihak bandara.


Namun, ternyata dia bisa lolos dan helaan nafas lega pun terdengar dari mulut gadis ini.


Evangeline pun menarik kopernya dan duduk di ruang tunggu keberangkatan. Masih ada waktu sekitar empat puluh menit lagi sebelum checking tiket terakhir.


Dari tempatnya duduknya, gadis itu bisa melihat keluar, dimana banyak pesawat yang bergerak teratur di landasan.


Mesin terbang itu tengah disiapkan untuk membawa pergi penumpang ke tempat asing, salah satunya akan membawanya terbang ke belahan bumi lain.


Saat matanya melihat gelapnya malam di luar sana, tiba-tiba terbersit sesuatu di ingatannya.


Wajah pria dingin yang selalu memasang ekspresi datar, pria pemberani yang setiap pulang membawa luka di badannya, sosok yang sempat menghilang dari hidupnya, yang beberapa hari terakhir ini terbaring koma di rumah sakit dan membuat hatinya terluka.


Dada Evangeline kembali sesak, tatkala mengingat bahwa dia harus meninggalkan sang suami di sini, saat perasaan mereka baru saja tumbuh, demi kabur dari ayahnya.


“Ini sudah benar, Eva. Ini sudah benar. Hanya ini cara kau menolak perjodohan dengan Malcolm. Kau tak mungkin mengatakan pada ayah bahwa suamimu masih hidup, dan membuat semua orang dalam bahaya,” gumamnya pada diri sendiri.


Hemachandra memang bukanlah sosok ayah yang diktator dalam setiap hal yang menyangkut putrinya. Akan tetapi, jika itu berkaitan dengan rancangan masa depan Evangeline, dia akan bertindak otoriter dan tak bisa lagi dibantah.


Hal itulah yang membuat Evangeline kesal, saat sang ayah tiba-tiba menjodohkannya dengan Ardiaz beberapa bulan yang lalu, tanpa memberi tahunya lebih dulu.


Dia tau jika keputusan itu adalah final, dan membuatnya lari seketika untuk membuat suatu pemberontakan.


Hanya saja saat itu, Evangeline masihlah gadis manja yang selalu bergantung pada ayahnya, dan belum tau untuk bersikap mandiri.

__ADS_1


Namun sekarang, dengan ditempa semua kejadian yang dialaminya hingga memaksanya untuk dewasa secara instan, Evangeline pun memutuskan untuk kembali melarikan diri demi menghindari rencana sang ayah, ke tempat yang lebih jauh lagi.


Helaan nafas yang begitu berat, terdengar beberapa kali keluar dari mulut gadis itu. Dia berkali-kali meyakinkan diri bahwa semua ini adalah yang terbaik untuk semua orang.


Di waktu yang sama, sebuah pengumuman dari petugas bandara menginformasikan bahwa pesawat dengan tujuan luar negeri akan segera lepas landas beberapa menit lagi.


Itu adalah pengumuman untuk pesawat yang akan ditumpangi oleh Evangeline malam ini.


Dadanya kembali bergemuruh. Jantungnya berdegup kencang hingga dia berkali-kali menghirup nafas dalam-dalam.


“Baiklah, Eva. Ayo kita pergi ke tempat baru, dimana tak ada yang akan mengenalimu,” gumamnya meyakinkan diri.


Dia pun meraih tas punggung dan mengenakan benda tersebut, sambil berdiri dari duduknya.


Evangeline kemudian meraih gagang kopernya dan berjalan ke arah petugas pengecekan terakhir di depan gerbang keberangkatan.


Gadis itu menahan diri untuk tidak berbalik dan melihat ke belakang, karena tak mau tekadnya kembali melemah dan terus melangkah ke depan.


“Mau pergi kemana kau, gadis cengeng?” panggil seseorang dari belakang.


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih


__ADS_2