A Love To Killer

A Love To Killer
BABAK 2 : Malam hari di Merciful


__ADS_3

Setelah laporan Evangeline, semua pintu keluar pun ditutup oleh petugas keamanan.


Gadis itu lalu mengikuti petugas tadi dan kini sudah berada di ruang kendali pusat.


Nampak begitu banyak monitor dengan layar yang sangat lebar terpasang di sana.


Semua sudut gedung bisa terjangkau dengan mudah oleh kamera pengawas yang tersebar di hampir setiap sudutnya.


Gadis itu terpaku melihat semua peralatan serba canggih di dalam ruangan tersebut.


Dia terdiam sejenak mengagumi betapa majunya teknologi di perusahaan ini. Namun kemudian, dia kembali tersadar dan mulai memperhatikan sekeliling.


“Hei, Nona. Kemarilah,” seru salah seorang petugas.


Evangeline pun menoleh dan berjalan mendekat.


“Coba kau tunjukkan di mana kau bertemu orang aneh itu?” tanya si petugas.


“Di depan ruang penyimpanan sampel lantai tujuh,” jawab Evangeline.


Si petugas lalu memerintahkan anak buahnya untuk memutar lagi rekaman kamera pengawas, beberapa menit yang lalu di tempat yang disebutkan.


Evangeline pun ikut memperhatikan petugas yang mengoperasikan perangkat keras di sampingnya.


Tiba-tiba, sesuatu yang tertangkap ekor matanya, membuat degup jantungnya berpacu dengan kencang.


Sebuah lubang USB yang berada begitu dekat dengannya.


Dia pun lalu memasukkan tangannya ke dalam saku rok, dan meraih sebuah benda kecil seukuran permen.


Itu adalah flashdisk yang diberikan oleh Samuel kepadanya.


Matanya terus memperhatikan sekitar dan petugas yang berdiri tepat di sampingnya, yang sejak tadi terus memperhatikan layar monitor.


“Ah.... Di sekitar sini. Kau bisa lihat, itu aku yang baru keluar dari lift,” ucap Evangeline.


Dia berusaha mengalihkan fokus semua orang ke layar, sementara dirinya berusaha menancapkan benda kecil yang tersembunyi di balik telapak tangannya.


Begitu dia berhasil memasukkan flashdisk ke lubang USB, dia mulai menghitung mundur waktunya selama lima menit, seperti yang katakan oleh Samuel.


Evangeline terus mengarahkan semua orang, hingga nampak seseorang yang berlari keluar dari ruang sampel.

__ADS_1


“Itu orangnya!” pekik Evangeline menunjuk orang yang berada di layar.


Semua orang mulai mencoba mengidentifikasinya, dengan mencoba memperbesar resolusi gambar.


“Dia lari ke arah tangga darurat. Aku sudah berusaha mengejarnya, tapi dia menghilang saat keluar di lantai dua, dan aku melaporkannya pada tuan ini,” tutur Evangeline, sambil menunjuk petugas yang ditemuinya di lantai dua.


“Baiklah, terimakasih laporannya. Kami akan berusaha menemukan orang itu dan mencari tahu apa yang sedang coba dia lakukan,” ucap si petugas.


Mendengar hal itu, Evangeline kembali melirik jam tangannya. Masih tersisa satu menit lagi sampai proses penanaman virus selesai.


“Ehm... Apa Anda tidak butuh bantuan ku untuk ikut mencari orang itu?” tanya Evangeline, mencoba terus mengulur waktu.


“Tidak perlu, Nona. Serahkan ini pada kami. Silahkan Anda selesaikan urusan Anda. Lagipula, Anda tak seharusnya berlama-lama di tempat ini,” ucap si petugas.


Evangeline kembali melirik jam tangannya. Tersisa beberapa detiknya saja, dan ini merupakan saat-saat menegangkan. Dia bahkan sampai menahan nafasnya, sampai akhirnya lima menit telah selesai.


“Ah... Baiklah kalau begitu. Terimakasih atas kerja kerasnya. Selama malam,” ucap Evangeline sopan, sementara tangannya meraih flashdisk dan mencabutnya dari sana tanpa ada yang curiga.


Dia pun berhasil keluar dari ruang kendali dengan selamat tanpa ketahuan. Sebuah seringai muncul di bibir gadis itu, dan dia pun pergi kembali ke lantai tujuh untuk menyelesaikan tugasnya.


Di perjalanan, Evangeline mengirimkan sebuah pesawat kepada Joy, yang mengatakan bahwa dia sudah berhasil masuk ke ruang kendali pusat.


Evangeline tak peduli akan hal itu. Dia hanya ingin segera menyelesaikan urusannya dan segera pulang ke apartemennya yang nyaman.


Namun sayang, akibat kejadian tak terduga sekaligus menguntungkan tadi, Evangeline pun terpaksa pulang sangat terlambat.


Semua pintu keluar masih ditutup, semenjak Evangeline melaporkan adanya orang aneh di lantai tujuh sebelumnya.


Tak terasa, sekarang sudah pukul delapan dan dia baru saja membereskan barang-barangnya, lalu bersiap untuk turun ke lantai satu.


Lantai dua sudah sangat sepi, karena semua orang telah pulang dan hanya dirinya yang masih berada di sana.


Setibanya di lobi, banyak pekerja yang masih menunggu hingga pintu kembali dibuka. Mau tak mau, Evangeline pun harus ikut menunggu juga.


Sudah tak ada tempat duduk yang tersisa di sana. Akhirnya Evangeline pun memilih berdiri dengan bersandar di dekat meja resepsionis.


Gadis itu melepas sepatunya, karena betisnya benar-benar pegal setelah seharian terus berjalan kesana kemari dengan benda itu.


Sekitar pukul setengah sepuluh malam, barulah petugas berhasil meringkus pelaku, yang ternyata adalah salah satu tim divisi pengembangan produk itu sendiri, yang ingin mencuri sampel untuk dijual pada pesaing.


Setelah drama perusahaan selesai, semua orang pun bisa pulang kembali ke rumah masing-masing, begitu pun Evangeline.

__ADS_1


Akan tetapi, gadis itu merasa jika kakinya sudah tak bisa lagi diajak berjalan, dan memilih duduk beberapa saat di kursi yang sudah kosong.


Evangeline memijit-mijit kakinya agar terasa lebih baik. Setelah beberapa saat, dia pun memutuskan untuk pulang, karena semua orang sudah pergi dan lampu lobi pun sudah dimatikan sebagian.


Saat masuk ke dalam mobil, gadis itu kembali duduk diam, sambil menyandarkan punggungnya.


Dia benar-benar lelah hingga rasanya ingin tidur di mobil saja jika bisa. Tapi hal itu tak mungkin, karena pasti petugas keamanan akan mengusirnya dari sana.


Bahkan di tempat parkir itu hanya tinggal mobilnya saja yang tersisa.


Beberapa kali dia menghela nafas berat, seolah bisa membuang semua kepenatan yang dirasakan.


Akhirnya, Evangeline pun memutuskan pergi. Dia menyalakan mesin mobilnya dan menyetel GPS terlebih dulu. Lalu, dia pun keluar dari tempat parkir dan menuju ke jalan raya.


Namun, saat dia baru saja keluar dari gerbang depan, tiba-tiba saja dia menginjak rem dan berhenti seketika. Bahkan kepalanya sampai terhantuk dashboard.


Matanya langsung tertuju pada kaca spion mobil dan melihat ke arah belakang.


Evangeline menyaksikan iring-iringan mobil memasuki gerbang depan Merciful.


Dia terdiam di tempat dengan perang batin yang terjadi di dalam dirinya lagi. Otaknya mengatakan untuk pulang dan jangan pedulikan mereka lagi, namun hatinya merasa jika dia harus kembali dan melihat apa yang terjadi di sana.


Ini sudah lewat dari jam pulang kerja. Sebagian lampu gedung pun sudah dimatikan. Lalu, ada apa mereka pergi ke sana? batin Evangeline.


Gadis itu masih terdiam, dengan mata yang terus memperhatikan bagian dalam Merciful.


“Mungkin saja aku bisa menemukan sesuatu tentang Damian. Benar, bukankah saat ini dia adalah targetku,” gumamnya pada diri sendiri.


Meski dia mencoba membod*hi dirinya, namun hatinya jelas tahu siapa yang sebenarnya ingin dia lihat di dalam sana.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih

__ADS_1


__ADS_2