
Di gudang kayu, saat ini Ardiaz yang sedang menggendong Evangeline untuk melarikan diri, tiba-tiba dikepung oleh banyak pasukan Martin.
Rupanya, kegaduhan yang dibuat oleh Mac duff, justru mengarahkan kecurigaan King interogator itu untuk menuju ke arah sebaliknya.
Benar saja, saat dia justru memerintahkan sebagian pasukan untuk mengepung arah sebaliknya, mereka menemukan Ardiaz yang tengah menggendong sang istri, dan mencari jalan keluar.
King palsu itu pun mau tak mau harus berhadapan terlebih dulu dengan para pengawal Martin, dan meletakkan Evangeline di tempat yang menurutnya aman dari perkelahian.
Dia mendudukkan sang istri di sudut, di atas sebuah papan kayu, dan bersandar di dinding lapuk.
“Tutup matamu. Jangan lihat apapun, jangan dengarkan apapun. Mengert,” seru Ardiaz.
Namun Evangeline tak menjawab, akan tetap dia justru menarik jaket sang suami dan meremasnya kuat.
Ardiaz meraih tangan sang istri dan menggenggamnya.
“Tak akan terjadi apapun pada ku. Tunggulah sebentar, aku akan membawamu keluar dari sini,” ucap Ardiaz.
Dia tak bisa berlama-lama bicara dengan Evangeline, karena musuh sudah semakin banyak berdatangan.
Evangeline pun mau tak mau merelakan dirinya menunggu sendirian, sementara sang suami maju menghadang anak buah Martin yang ingin menangkap mereka.
Dengan bermodal tangan kosong, perkelahian pun terjadi. Meski kekuatan seorang Ardiaz tak jauh beda dengan Mac duff, akan tetapi dia yang bertarung sambil terus fokus pada keselamatan sang istri yang ada di belakangnya, membuat beberapa kali anak buah Martin berhasil memukulnya.
Evangeline terus menutup mata dan telinganya, sambil menahan rasa sakit di perut yang terus menerus membuat tubuhnya semakin lemah.
Dia tak sanggup melihat Ardiaz berkelahi dengan lawan yang tak seimbang, dan berkali-kali terkena hantaman benda keras di sukujur tubuhnya.
AAAARRRGGHH!
Tiba-tiba, jeritan keras dari Ardiaz membuat Evangeline mau tak mau membuka matanya, dan melihat sang suami kembali terkena pukulan yang cukup keras.
Pria itu bahkan sampai terjatuh dan kesulitan berdiri.
Sejak tadi, Ardiaz mencoba menahan suara saat menerima pukulan, agar Evangeline tak panik dan membuka matanya, namun kali ini dia tak bisa mengontrol diri karena kuatnya pukulan dan rasa sakit yang mendera sudah terlalu banyak.
__ADS_1
Dia menatap istrinya dan menggelengkan kepala, meminta Evangeline untuk tidak panik.
Meski begitu, tak ada yang mungkin bisa melihat seseorang yang dicintai terluka tanpa khawatir sedikitpun. Pasukan Martin yang melihat Ardiaz sudah jatuh, beramai-ramai mengeroyoknya hingga Ardiaz babak belur.
Seseorang bahkan terlihat mengayunkan kembali tongkat pemukul tinggi-tinggi dan membuat Evangeline panik hingga memekik.
“TIDAAAAKKK!”
BUG!
PAK!
DUG!
Tiba-tiba, seseorang datang dan menendang pengawal tadi hingga terpental dan menghajar orang-orang yang mengeroyok Ardiaz.
Dia berdiri di depan, melindungi King palsu itu yang masih belum bangun dari posisinya.
“Apa kau masih bisa bertarung? Martin pasti akan segera kemari,” ucapnya.
Duke itu berhasil menyusul di waktu yang tepat, sebelum Ardiaz mengalami cedera serius.
“Apa kau yakin kita akan bisa keluar dari sini?” tanya Mac duff.
“Kau tenanglah. Ulur waktu sebanyak yang kita bisa sampai bantuan datang,” sahut Ardiaz.
“Kau percaya diri sekali,” ejek Mac duff.
Keduanya pun kembali bergerak, mengalahkan setiap orang yang maju menyerang.
Seakan tak ada habisnya, pasukan Martin terus saja bermunculan dan membuat kedua pria itu semakin kelelahan.
Hingga semburat jingga terlihat menerobos dari sela bangunan, saat itulah Martin kembali muncul bersama Morgan.
Batas waktu yang diberikan kepada Evangeline hampir habis, dan wanita itu sudah terlihat semakin pucat seperti mayat hidup.
__ADS_1
Tubuhnya bahkan menggigil akibat kehilangan banyak darah, meski hanya dalam waktu kurang dari dua jam.
Martin terlihat mengeluarkan pistolnya dari dalam saku, dan hendak meletupkan benda tersebut ke atas.
Namun, Morgan mencegahnya.
“Biarkan saja. Kita lihat sampai mana mereka akan bertahan. Aku yakin, sebentar lagi pasti kedua pria itu akan tumbang,” seru Morgan.
Martin pun kembali menurunkan pistolnya dan memegangi saja untuk berjaga-jaga.
Matahari semakin tergelincir ke ufuk, hingga kegelapan mulai menyelimuti gudang yang berada di tengah hutan itu.
Kondisi Ardiaz dan juga Mac duff sudah sangat kelelahan karena terus melawan musuh yang seakan tak ada habisnya. Ditambah kondisi Evangeline yang semakin lemah, membuat Ardiaz seolah hilang akal dan terus mencoba melawan meski kondisinya sudah tak memungkinkan.
“Sepertinya kali ini kau salah perkiraan,” ucap Mac duff saat berhasil memukul satu lagi lawan dengan sisa tenaga.
“Tidak. Tunggulah. Mereka pasti datang,” ucap Ardiaz menyeringai, meski lelah benar-benar tampak jelas di wajahnya.
Tiba-tiba, suara letupan senjata api terdengar dan membuat semua orang berhenti, lalu menoleh ke arah tembakan berasal.
Rupanya, ini adalah batas waktu yang diberikan Morgan kepada Evangeline untuk mengambil keputusan.
“Waktu kalian sudah habis. Nona cantik, saatnya kau membuat keputusan,” ucap Martin
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih
__ADS_1