A Love To Killer

A Love To Killer
BABAK 2 : Aku lebih mengenalnya


__ADS_3

Berita pengunduran diri direktur utama rumah sakit pusat Kota Orchid yang baru beberapa minggu dilantik, menjadi pemberitaan hangat di berbagai media.


Semuanya berspekulasi dan isu tak berdasarkan pun turut mewarnai berita tersebut.


Namun tak jarang pula yang memberikan pujian atas keputusan Malcolm, yang lebih memilih mengajukan diri sebagai dokter perang dan daerah konflik, dengan dalih rasa kemanusiaan yang tinggi.


Kabar keberangkatannya pun sudah dikonfirmasi, yaitu sehari setelah konferensi pers, atau lebih tepatnya besok.


Ardiaz dan Evangeline yang melihat berita tersebut dari internet pun benar-benar tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Malcolm.


“Eva, kau tak apa kan kalau ku tinggal dulu? Atau mintalah Joy untuk datang kemari dan menemanimu,” ucap Ardiaz.


Pria itu nampak menuju ke lemari pakaian dan hendak mengambil jaketnya.


“Apa kau ingin menemuinya?” tanya Evangeline.


Ardiaz seketika terdiam. Dia kembali menoleh ke arah sang istri.


“Apa kau ingin menemui Malcolm?” tanya Evangeline lagi.


Sang suami. Tiba-tiba terlihat ragu dengan apa yang akan dilakukannya. Melihat hal itu, Evangeline pun mendekat dan meraih tangan Ardiaz.


“Ada apa sebenarnya di antara kalian? Aku yakin ini tidak sesederhana masalah cemburu bukan?” tanyanya lagi.


Ardiaz memalingkan wajahnya enggan untuk membahas hal itu dengan Evangeline.


Namun, sang istri seolah merasakan kegalauan yang dialami oleh suaminya kini. Dia meraih wajah Ardiaz dan mencoba menuntunnya untuk melihat kearahnya.


“Diaz, lihat aku. Ada apa? Apa sebenarnya yang kau tutupi kali ini dariku?” tanya Evangeline.


Ardiaz kembali menghindari tatapan mata Evangeline yang begitu menuntut. Dia menundukkan pandangannya sembari menghela nafas panjang.

__ADS_1


“Ada jurang yang begitu besar, yang ternyata sejak awal berada di antara kami berdua. Aku belum bisa memberitahukan mu tentang hal ini. Tapi percayalah, aku akan mencari jalan terbaik untuk menyelesaikannya,” ucap Ardiaz berbelit.


“Apa kau bisa membuatnya lebih sederhana? Aku tak sepintar itu untuk menebak arti kata-katamu,” sahut Evangeline.


“Ini ada kaitannya dengan masa laluku, kau paham?” timpal Ardiaz cepat.


“Maksudmu, tragedi keluarga mu? Kalau begitu, bukankah ini juga berhubungan dengan penyerangan terhadap ayahku?” cecar Evangeline.


Ardiaz kembali menghela nafas panjang, sebelum akhirnya mengangguk lemas.


Evangeline terdiam. Tangannya yang sejak tadi berada di wajah sang suami pun kini terkulai jatuh begitu saja.


“Katakan, apa maksudnya Malcolm berkaitan dengan semua kejadian itu?” tanya Evangeline.


Melihat reaksi sang istri, Ardiaz pun merengkuh pundak wanita itu dan mendekapnya erat.


“Aku akan katakan semuanya padamu nanti. Saat ini, aku harus melakukan sesuatu terlebih dulu,” ucapnya.


“Kau tetaplah di sini. Aku akan segera kembali. Tunggu aku, mengerti?” seru Ardiaz.


Evangeline diam, namun dia mengangguk mengiyakan perintah dari suaminya.


Ardiaz lalu melakukan panggilan dengan menggunakan ponsel Evangeline, sementara sang istri nampak terduduk di tepi ranjang dengan pandangan kosong.


“Halo, Joy. Ini aku, Ardiaz. Bisakah kau datang ke tempat Eva sekarang juga?” ucap Ardiaz langsung, saat panggilannya diterima.


“Apa ada hal gawat lagi?” tanya Joy.


“Tidak. Tapi, aku harus pergi sebentar. Bisakah kau kemari dan menjaganya untuk ku?” pinta Ardiaz


“Baiklah. Aku akan segera ke sana,” sahut Joy.

__ADS_1


Panggilan pun berakhir. Ardiaz berjalan kearah sang istri berada dan duduk di sampingnya.


Dia menyandarkan kepala wanita itu di bahu kekarnya dan dengan lembut membelai pundak sang istri.


“Apa dia terlibat?” taya Evangeline tiba-tiba.


“Aku belum tahu tentang itu. Maka dari itu, aku ingin mengkonfirmasikan hal itu padanya. Tapi melihat tindakan yang dia ambil, kemungkinan besar dia sama seperti kita, yang sangat terkejut dengan hal itu,” ucap Ardiaz.


“Dari mana kamu bisa seyakin itu?” tanya Evangeline ragu.


“Aku lebih lama mengenalnya, di bandingkan kedua temanku yang lainnya. Aku lebih tahu siapa dia dan seperti apa seorang Malcolm itu,” sahut Ardiaz.


“Lalu, siapa orang yang menyebabkan semua ini terjadi? Apa mungkin... Diaz, apa mungkin itu ayahnya? Diaz, jawab aku,” tanya Evangeline.


Ardiaz diam, namun gerak pelupuk mata yang tertutup, membuat Evangeline seolah mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.


Dia kembali lemas.


“Aku pernah bertemu dengan orang itu. Malcolm benar-benar menghormatinya. Dia pasti hancur jika mengetahui semua itu,” ucap Evangeline.


“Kau benar. Bisa jadi itu adalah alasan kenapa dia memutuskan untuk pergi,” timpal Ardiaz.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya

__ADS_1


terimakasih


__ADS_2