
Evangeline masih membuka matanya, seolah dia tak ingin untuk segera tidur. Karena ketika dia memejamkan mata, maka saat dia membukanya lagi, pria di sampingnya akan kembali menghilang.
Gadis itu terus memegangi tangan Ardiaz, sementara sang suami masih tetap pada posisinya, duduk di tepi ranjang sembari mengusap lembut surai sang istri.
“Apa kau tidak lelah? Tidurlah. Tubuhmu masih sangat lemah. Kau harus banyak-banyak beristirahat,” bujuk Ardiaz.
“Apa kau sudah bosan di sini menemaniku? Kalau begitu pergi saja. Tidak perlu menunggu ku sampai tidur. Dasar menyebalkan,” keluh Evangeline.
Mendengar rengekan Evangeline, Ardiaz yang biasanya selalu pergi begitu saja dan tak mempedulikan sama sekali, kini justru tersenyum geli seolah itu adalah hal lucu yang sedang ia alami.
“Apa ada yang lucu? Kenapa kau malah tertawa?” tanya Evangeline semakin kesal.
Seketika, Ardiaz diam dan tawanya menghilang. Dia menatap lekat netra istrinya hingga membuat Evangeline salah tingkah dengan tatapan itu.
“A... Apa? Ada apa menatapku begitu?” tanya Evangeline tergagap.
Seutas senyum tipis muncul di bibir Ardiaz.
“Tetaplah menjadi gadis manja, ceroboh, keras kepala dan menyebalkan seperti yang ku kenal. Jangan jadi gadis yang berpura-pura kuat di depan orang lain dan menangis saat sedang sendiri. Aku benar-benar tidak suka itu. Itu hanya akan menyakitimu semakin dalam, Eva,” seru Ardiaz.
“Kenapa? Bukankah berkat kau dan kakakmu, aku jadi terbias hidup seperti itu selama ini,” sahut Evangeline tajam.
Ardiaz menundukkan wajahnya, sembari menghela nafas panjang. Dia sadar jika sedikit banyak keluarganya, sudah ikut andil dalam pembentukan sifat Evangeline yang sekarang ini.
“Maafkan aku. Ini semua memang salahku,” ucap Ardiaz.
Evangeline tak menyahut. Namun, tangannya ternagkat dan terulur menyentuh wajah suaminya.
__ADS_1
“Apa ini sangat berat untuk mu?” tanyanya tiba-tiba.
Ardiaz lalu mengangkat pandangannya dan menatap lekat ke arah sang istri. Dengan senyum tipisnya, dia menggeleng pelan, menyangkal semua yang dialaminya selama ini.
“Kau tidak perlu berbohong. Kau sudah berjanji padaku untuk bercerita sedikit demi sedikit, bukan. Lalu, bisakah kau beritahu dari mana lebam di wajahmu ini? Aku yakin ini bukan luka baru, dan pasti ini lebih parah dari yang ku lihat sekarang,” terka Evangeline.
Senyum Ardiaz semakin lebar mendengar pertanyaan Evangeline, yang seolah tengah menginterogasinya.
“Rupanya, ini hasil kau bergaul dengan teman-teman detektif mu itu,” sindir Ardiaz.
“Diaz, jawab aku,” rengek Evangeline.
Dia lalu meraih tangan Evangeline dan menuntunnya menyentuh beberapa bagian wajahnya.
“Di sini aku perlu dua jahitan, di sini ada sedikit retakan tulang rahang, di sini, di sini, di sini dan di sini semuanya membiru. Apa kau mau lihat bagian tubuh lainnya juga?” jelas Ardiaz, bahkan tanpa menjawab pertanyaan Evangeline sebelumnya.
“Dasar gadis cengeng yang menyusahkan. Aku tidak apa. aku tidak akan bisa tumbang hanya karena luka seperi ini,” ucap Ardiaz.
“Sebenarnya bagaimana kau hidup selama ini, Diaz? Apa mereka sangat kejam padamu?” tanya Evangeline lagi.
“Eva, aku tidak bisa sekaligus memberitahukan semuanya padamu. Saat ini, kau cukup percaya padaku. Untuk yang ku katakan sebelumnya, anggap kita tidak saling ketika bertemu di ruang publik dan jangan sengaja mencariku. Ini untuk menjagamu tetap aman dari Lucifer,” papar Ardiaz.
“Lalu, bagaimana kita akan bertemu lagi?” tanya Evangeline.
“Aku yang akan mencarimu. Kau tenang saja. Seorang Danurendra tak akan pernah mengingkari janjinya,” sahut Ardiaz meyakinkan sang istri, yang tengah khawatir dengan nasib dirinya.
Setelah itu, tak ada lagi kata-kata yang keluar dari mulut keduanya. Perlahan, obat penenang yang diminum gadis itu bereaksi. Dia pun tertidur.
__ADS_1
Melihat gadis di depannya terlelap, Ardiaz kemudian segera beranjak dari sana. Dia keluar dari kamar Evangeline, namun sebelum dia menutup kembali pintu tersebut, matanya melihat ke arah sang istri yang sedang terbaring di tempat tidur.
Tatapannya tampak tengah mereka momen ini, seolah momen ini akan sangat ia rindukan dan tak bisa dia dapatkan lagi.
Beberapa saat kemudian, Ardiaz pun tersadar dari pikirannya, dan segera menutup pintu.
Saat dia turun ke bawah, sudah ada Joy dan juga Mac duff di sana.
“Ayo berangkat. Semua orang sudah menunggu,” seru Mac duff.
Ardiaz turun dan menghampiri keduanya. Dia menoleh ke arah gadis berambut sebahu, yang sejak semalam bersama dengannya menjaga Evangeline.
“Tolong jaga dia,” pinta Ardiaz.
“Apapun yang kalian lakukan, kumohon cepatlah kembali. Aku tak ingin temanku jadi gila lagi karena suami gangsternya,” sindir Joy.
Ardiaz tak menyahut lagi dan langsung meraih jaket hoodienya, lalu berpakaian pergi dari apartemen tersebut.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
__ADS_1
terimakasih