
“Diaz, apa yang....” Evangeline melihat sang suami yang tak juga keluar, dan justru berdiri di balik pintu.
Namun, pria tersebut mengangkat telunjuknya, seolah meminta sang istri untuk tetap diam.
Evangeline menatap heran ke arah sang suami, yang masih berdiri di tempat seolah tengah melihat sesuatu.
Beberapa saat berlalu, dia kembali menutup pintu dan berjalan ke arah sang istri.
Dengan lembut, pria itu mengusap surai kemerahan Evangeline.
“Sebenarnya, apa yang kau lihat di luar?” tanya Evangeline penasaran.
“Nanti akan ku ceritakan. Aku akan keluar dan memanggil ayah,” jawab Ardiaz.
“Ayah di sini?” tanya Evangeline antusias.
Ardiaz mengangguk sembari tersenyum. Dia mengecup kembali kening sang istri dengan penuh kehangatan.
“Aku panggil ayah kemari, dan meminta seseorang untuk mengobatiku. Jadi gadis baik, oke. Jangan banyak bergerak dan menyusahkan ayah,” seru Ardiaz.
Evangeline terkekeh kecil, membuat Ardiaz gemas dan mencubit hidung mancungnya.
“Sakit...,” keluh Evangeline.
“Baru ku katakan tadi untuk jadi gadis baik, kenapa kau malah menertawakan ku, hem?” tanya Ardiaz gemas.
“Hehehe... Aku masih belum terbiasa melihat sikap cerewet mu yang satu ini. Benar-benar lucu... dan manis,” ucap Evangeline.
Tangannya terulur menyentuh pipi sang suami. Ardiaz menatap lekat wajah pucat itu, dan perlahan mendekatkan wajahnya ke arah wanita tersebut.
Sebuah kecupan lembut mendarat di bibir Evangeline, begitu hangat dan menggetarkan seluruh tubuhnya.
Namun, Ardiaz tak mau memperdalamnya dan segera menarik diri dari sang istri.
Keduanya kembali saling pandang dan melempar senyum. Ardiaz membelai pipi istrinya dengan penuh kasih.
“Mulai sekarang, kau akan selalu melihat sisi lain ku. Bahkan sisi terliar ku. Jadi, biasakan dirimu, mengerti?” ucap Ardiaz.
__ADS_1
Evangeline kembali terkekeh dan mengangguk.
Ardiaz kemudian pamit keluar untuk memanggil sang mertua. Saat dia membuka pintu, terlihat Malcolm yang sebelumnya tengah menangis, kini sudah tak ada lagi di sana.
Hemachandra bangun dan menghampiri sang menantu.
“Ada apa, Diaz? Apa Eva baik-baik saja?” tanya Hemachandra.
“Dia ingin bertemu dengan Anda. Masuklah ke dalam,” ucap Ardiaz.
“lalu kau?” tanya Hemachandra lagi.
“Aku kebetulan masih harus mengobati lukaku. Eva sangat cerewet melihat aku masih belum mengobatinya,” jawab Ardiaz.
“Ah... Benar. Ayah juga tak menyadarinya. Cepatlah kau obati itu. Jangan sampai terjadi infeksi,” seru Hemachandra.
Ardiaz mengangguk. Hemachandra pun segera masuk untuk menemui sang putri.
Setelah mertuanya menghilang di balik pintu, senyum Ardiaz seketika menghilang. Dia kemudian menghadap ke ujung lorong, dan berjalan terseok ke arah tersebut.
Namun, Ardiaz tak peduli sama sekali, dan membiarkan semua bisik-bisik itu menggema di dalam lift, hingga dia sampai di lantai satu dan berjalan keluar dari sana.
Dia terlihat menuju ke arah unit gawat darurat, akan tetapi dia melewatinya dan terus berjalan ke ujung lorong, dimana ruangan dokter berjejer di sana.
Dia berhenti tepat di depan ruangan, dimana nama temannya terpasang di pintu.
Dia memutar handle, dan membukanya tanpa mengetuk terlebih dulu.
Pintu langsung terbuka, dan terlihat seorang dokter tengah duduk membelakangi pintu sambil bersandar dan memejamkan matanya.
Mendengar pintu terbuka dan tertutup kembali, dia pun memutar kursi dan melihat siapa yang masuk ke ruangannya dengan tak sopan.
Namun, baru saja dia akan membuka mulut, matanya lebih dulu membulat kala melihat siapa yang sudah berdiri di depan sana.
“Kau...,” ucapnya.
Ardiaz masuk dan duduk tanpa dipersilakan terlebih dulu boleh si pemilik ruangan tersebut.
__ADS_1
“Obati lukaku,” serunya langsung.
Malcolm menegakkan duduknya dan menumpukan kedua siku ke atas meja.
“Bukankah kau bisa pergi ke ruang gawat darurat sana? Kenapa harus datang kemari?” ucap Malcolm sinis.
“Tak usah bersikap jual mahal dan sinis seperti itu. Anggap saja ini bentuk pertanggungjawaban mu atas apa yang sudah ayahmu lakukan padaku,” sahut Ardiaz tak kalah tajam.
Malcolm seketika terdiam. Dia seperti sedang ditampar oleh kata-kata Ardiaz.
Dokter muda itu pun bangun dan membuka lemari penyimpanan, yang dilengkapi dengan sinar ultraviolet sebagai pensteril alat-alat medis yang disimpannya di sana.
Dia juga mengambil beberapa botol antiseptik, perban, kapas dan juga plester dari lemari lain dan membawa semuanya ke tempat dimana Ardiaz berada.
“Buka bajumu,” seru Malcolm.
Ardiaz pun segera melepas bajunya dengan beberapa kali mendesis, karena lengannya yang tak bisa dinaikkan ke atas akibat luka tembak yang ada di pundaknya.
Dia lalu meminjam sebuah gunting yang ada di antara peralatan Malcolm, untuk menggunting salah satu sisi celananya.
Luka tembak di kakinya berada di paha bawah, berdekatan dengan lutut, sehingga dia perlu melakukan hal itu agar Malcolm bisa mengambil pelurunya keluar.
“Gigit lah sesuatu... atau tahan. Jangan sampai kau berteriak. Aku tak mau orang-orang di luar menyerbu masuk karena mendengarkan jeritan mu,” titah Malcolm.
“Lakukan saja tugasmu. Aku tahu harus berbuat apa,” ucap Ardiaz tak kalah dingin.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih
__ADS_1