A Love To Killer

A Love To Killer
BABAK 2 : Sidang putusan


__ADS_3

Dua hari berlalu begitu cepat. Tak terasa kini sidang terakhir dari kasus kejahatan Morgan sejak bertahun-tahun lalu, sudah berada di ujungnya.


Banyak reporter datang untuk meliput peristiwa tersebut, begitu pula warga masyarakat yang penasaran akan kasus ini.


Nampak di arena sidang, sudah Ardiaz, Evangeline, beserta teman-teman mereka di Lucifer, turut hadir menyaksikan sidang pembacaan vonis tersebut. Bahkan Devonshire serta Vermont pun tak ketinggalan.


Kuasa hukum Morgan pun sudah terlihat bersiap ditempat masing-masing.


Semua orang ingin melihat akhir dari sepak terjang Morgan yang sudah terlalu lama menebarkan kejahatan, dan menewaskan banyak orang.


Beberapa saat kemudian, para jaksa penuntut umum telah hadir. Disusul tersangka tunggal, taitu Morgan andara.


Semua orang termasuk Ardiaz dan yang lainnya, menatap tajam ke arah pria berseragam tahanan tersebut.


Namun, Morgan justru meludah ke samping dan tersenyum mengejek kepada mereka semua.


Pria itu benar-benar ular. Di saat proses persidangan, dia hampir menyeret Ardiaz dan yang lainnya, bahkan Lucifer dan Merciful tak luput dari kejaran.


Akan tetapi, pengaruh kelompok gengster tersebut yang sudah bercokol kuat di negeri ini, tak bisa dengan mudah diserang begitu saja.


Devonshire dan yang lain membelokkan fakta, dan mengarahkan semuanya hanya kepada Morgan dan juga Howard, dilengkapi dengan bukti-bukti nyata yang bisa diterima pengadilan serta konkret.


Meski Devonshire sebagai CEO Merciful harus duduk di kursi saksi perihal dokumen kalung blue ocean yang disebutkan Morgan dalam persidangan, membuat namanya mau tak mau ikut terseret atas kasus pembantaian satu keluarga di Kota Wisteria.


Namun, kakak Jordan itu hanya sampai menjadi saksi dan tak membuat dirinya sampai berstatus tersangka.


Evangeline sebagai korban pun sempat duduk di kursi saksi, dan mendapat cecaran pertanyaan dari kuasa hukum Morgan hingga wanita itu tak bisa menahan emosinya dan menangis, terlebih saat mengingat janinnya yang harus hilang karena kejadian tersebut.


Kini, semua drama itu sudah tiba di babak akhir, dimana si penjahat akan mendapatkan hukuman atas apa yang telah diperbuatnya.

__ADS_1


“Apa kau yakin tidak akan membunuhnya?” bisik Damian pada Ardiaz.


“Diamlah,” sahut Ardiaz singkat.


“Kenapa dia? Bukankah lebih mudah membunuhnya, dan semua selesai. Melihat orang itu benar-benar membuatku ingin muntah,” gerutu Damian yang duduk di kursi belakang.


Semua yang mendengar ocehan sang hacker muda itu, hanya bisa memutar bola mata ke atas sembari tersenyum mengejek.


Alexa yang duduk di sampingnya sembari bertopang kaki, nampak membuka kaca mata hitam yang sejak tadi terus bertengger di batang hidungnya.


“Bagi kaum seperti mereka, kematian sosial adalah hukuman paling berat, jika dibandingkan dengan hukuman mati. Mati hanya akan mempercepat penderitaannya. Tapi saat masyarakat tak lagi peduli dan cenderung memandang rendah dirinya, maka disitulah penyiksaan terberat,” ucap Alexa.


Wanita itu terlihat begitu cantik dalam balutan gaun serba hitam serta topi kecil, dengan jaring-jaring halus yang sedikit menutupi wajah bagian atasnya.


Damian nampak mencerna perkataan Alexa tadi. Bagi mereka yang emosinya terganggu karena pengaruh soul eater, mungkin akan sedikit kesulitan mengerti hal itu.


Menurut mereka yang jiwanya setengah mati, penyiksaan fisik lebih menyakitkan dibanding tatapan merendahkan dari masyarakat.


Namun kali ini, Morgan benar-benar sudah kehilangan sang putra.


Hakim mulai memasuki ruangan dan sidang pun dimulai.


Di persidangan lalu, Jaksa membacakan materi yang sudah mereka susun dan kemudian simpulkan, selama kurun waktu persidangan dari awal hingga sidang terakhir.


Begitu pula kuasa hukum Morgan yang mencoba meringankan hukuman yang akan dijatuhkan. Bahkan jika memungkinkan agar Morgan bisa bebas.


Namun, melihat semua bukti dan keterangan dari para saksi yang terus menekan posisi Morgan, pengacara terbaik sekali pun memilih mundur dan memerintahkan junior mereka yang maju menangani.


Sehingga dengan kata lain, Morgan sudah tak bisa diselamatkan lagi.

__ADS_1


Setelah mendengarkan berbagai argumen dan kesimpulan, hakim menunda sidang hingga hari ini, untuk memutuskan hukuman yang akan diterima oleh Morgan.


“Berdasarkan pemaparan dari jaksa serta kuasa hukum dari tersangka, ditambah penuturan dari para saksi yang dikuatkan dengan bukti-bukti yang bisa dipertanggungjawabkan, maka pengadilan dengan ini memutuskan, bahwa saudara Morgan Andara, dinyatakan bersalah atas kasus-kasus kejahatan yang telah disebutkan selama persidangan, dan dijatuhi hukuman tiga puluh tahun penjara,” ucap hakim.


Ketuk palu pun menggema di seluruh ruangan, disertai sorak sorai para hadirin yang ada.


Namun, berbeda dengan Ardiaz dan yang lainnya. Bahkan Evangeline terlihat menangis dalam pelukan sang suami.


Sementara Devonshire langsung bangun dari duduknya diikuit oleh Vermont, Alexa dan juga Joker, keluar dari ruangan tersebut.


Mac dufff, Damian dan juga Jordan masih duduk bersama Ardiaz serat istrinya.


Mereka bertiga masih memperhatikan ke arah Morgan yang terlihat diam. Pria itu nampak menoleh sekilas ke arah mereka, lalu beralih ke sisi lain seolah tengah mencari seseorang.


Sepertinya dia sempat berpikir bahwa Malcolm akan datang bersama teman-temannya, dan menganggap perkataan putranya kemarin hanya ancaman belaka.


Namun, saat semua sudah keluar dan tersisa empat pemuda yang selalu bersama putranya itu, dia baru yakin bahwa sekarang dia sendirian.


Tatapannya benar-benar terlihat kehilangan. Kini, dia benar-benar tak punya apapun dan siapapun lagi di sisinya.


Perusahaannya pun sudah pasti akan diambil alih oleh perwakilan direksi yang bergerak cepat melakukan pemilihan CEO baru untuk Andara corp, sejak sang CEO dinyatakan sebagai tersangka kasus kejahatan yang terjadi selama bertahun-tahun.


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih


__ADS_2