
Martin mengarahkan senapan ke depan wajah Ardiaz, dan bersiap menarik pelatuknya untuk melubangi tempurung kepala King palsu itu.
Namun, Ardiaz seolah diam bergeming dan terlihat begitu tenang. Akan tetapi, ketenangan itu justru tampak menakutkan karena sorot mata suami Evangeline yang dingin hingga membuat siapapun yang melihat sampai bergidig ngeri.
“Apa kau siap menerima kemarahn Devon? Entah hidup atau mati, jika aku menghilang dia pasti akan menggila,” ucap Ardiaz tanpa ekspresi.
Mendengar perkataan tersebut, Martin seketika menghentikan gerakan jarinya yang hendak menarik tuas senapan.
Menyadari kegamangan lawan, Ardiaz tersenyum samar, dan kembali berucap.
“Lihat, kau bahkan tak bisa berbuat apapun padaku, meski kau punya kesempatan untuk itu. Ingat, kita berada di level yang berbeda. Terlebih, aku memiliki apa yang tidak kau miliki,” lanjut Ardiaz dengan senyum mengejeknya.
Martin benar-benar geram. Dia tak bisa menembak Ardiaz meski pria itu tepat berada di bawah moncong senapannya.
AAARRRGGHHH!
BUG!
“ALPHA!” pekik Mac duff
Martin akhirnya hanya bisa berteriak kesal, dan memukul kepala Ardiaz dengan garang senjata laras panjang yang dipegangnya.
__ADS_1
Ardiaz pun tersungkur kembali ke tanah dengan pelipis yang mengeluarkan darah cukup banyak.
Melihat rekannya terluka, Mac duff tak bisa lagi bersikap tenang. Namun situasinya benar-benar tak menguntungkan dan membuatnya hanya bisa diam di bawah todongan senjata anak buah Martin.
Dia tak mungkin nekad dan membuat dirinya terluka, disaat Ardiaz sedang sangat membutuhkan bantuannya.
“Bawa mereka ke dalam dan ikat dengan kuat. Sebelum itu, pastikan mereka tak membawa senjata apapun,” seru Martin.
Ardiaz yang terluka pun di seret masuk ke dalam, sementara Mac duff di dorong untuk berjalan mengikuti kemana Ardiaz di bawa.
Setelah masuk, kedua pria itu terlebih dulu diikat kedua tangannya dengan tali yang kuat, lalu kemudian dibawa ke dalam sebuah ruangan yang gelap.
Awalnya, mereka tak menyadari sesuatu, namun setelah mata mereka fokus, barulah keduanya menyadari bahwa ada seseorang yang juga terikat di dalam ruangan tersebut.
Dia bahkan sampai berontak setelah melihat kondisi istrinya yang begitu menyedihkan, tak sadarkan diri dan terikat di kursi di dalam ruangan gelap nan pengap itu.
Namun, gerakannya terhenti kala anak buah Martin memukul kakinya dan membuatnya jatuh berlutut, terlebih karena tangannya juga sudah terikat, membuat Ardiaz kesulitan untuk melawan.
“Kurang ajar! Kalian apakan wanita itu?” maki Ardiaz.
Namun, semua perlawanannya sia-sia kali ini. Anak buah Martin tak peduli dengan teriakan dan makiannya.
__ADS_1
Ardiaz dan Mac duff pun diikat dengan posisi berdiri dan kaki yang sedikit berjinjit, serta tangan yang terangkat ke atas dan diikat di sebuah rantai yang tergantung di langit-langit gudang.
Posisinya berhadapan dengan Evangeline, dan berjarak hanya beberapa langkah. Akan tetapi, dia tak bisa meraih istrinya yang entah sudah berapa lama berada di sana.
Setelah mengikat Ardiaz dan Mac duff, anak buah Martin keluar dan mengunci pintu dari luar meninggalkan ketiga orang yang terikat itu.
Ardiaz nampak khawatir dengan kondisi Evangeline. Karena bagaimana pun, fisik wanita itu sangat lemah. Berbanding terbalik dengan tekadnya yang sangat kuat.
“Eva... Eva... Apa kau mendengarku? Eva, ini aku, Ardiaz. Eva,” panggil Ardiaz mencoba menyadarkan sang istri.
“Sepertinya, dosis obat tidurnya cukup banyak. Dia sampai tak terusik sama sekali dengan teriakan mu tadi,” tutur Mac duff yang sejak tadi juga memperhatikan Evangeline dalam diam.
“Benar-benar Martin brengs*k! Akan ku buat kau menyesal telah melakukan ini pada Eva,” ucap Ardiaz dengan rahang yang mengeras dan gigi bergemeletuk.
.
.
.
.
__ADS_1
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih