A Love To Killer

A Love To Killer
BABAK 2 : Kemarahan Mac duff


__ADS_3

Evangeline benar-benar tak menyangka dengan apa yang dituturkan oleh Joy. Dia sekarang benar-benar khawatir dengan nasib Ardiaz, terlebih saat Joy mengatakan bahwa Samuel sempat melihat Mac duff seperti begitu panik, dan terus melihat ke arah kursi belakang mobil yang ditumpanginya.


“Apa kau melihat orang yang duduk di belakang? Bisa saja itu bukan Ardiaz. Aku yakin dia tak akan kenapa-kenapa. Dia sudah berjanji akan baik-baik saja,” elak Evangeline.


“Entahlah. Aku juga tidak tahu. Tapi melihat banyaknya korban di kubu Lucifer, aku khawatir apa yang kita takutkan benar,” ucap Joy.


“Bagaimana ini? Aku harus mencari tahunya sendiri. Kemana... Kemana mereka membawa korban-korban itu?” tanya Evangeline yang terlihat begitu panik.


Dia berdiri dan seperti kebingungan hendak pergi kemana.


“Kau tenanglah. Aku ada cara menanyakan langsung ke Kak Mike,” ucap Joy.


Evangeline kembali duduk dan mendengarkan perkataan sang sahabat.


“Kau tunggu sebentar. Aku perlu menyiapkan peralatannya,” lanjut Joy.


Dia pun mengeluarkan Macbook dan juga ponselnya. Dia lalu mengutak atik sesuatu di layar Macbook, dan kemudian menyambungkannya ke ponsel melalui sambungan nirkabel.


Dia melakukan beberapa langkah yang pernah diajarkan Samuel padanya saat pertama kali mencoba mengirim foto kepada bos sky night tersebut.


Joy kemudian memberikan ponsel kepada Evangeline.


“Kau yang bicara padanya,” seru Joy.


Evangeline ragu, akan tetapi dia pun ingin tahu kejelasan akan nasib sang suami. Akhirnya, dia menerimanya dan menempelkan benda pipih itu ke telinga.


“Halo, siapa ini?” sahut suara di seberang.


Evangeline diam sejenak. Dia masih berusaha menguatkan hatinya, untuk mendengar kemungkinan buruk yang mungkin terjadi pada Ardiaz.


“Halo, aku tidak ada waktu untuk lelucon semacam ini,” ucap Mac duff lagi.


“Di...,” ucap Evangeline tercekat.


Dia sampai harus berdehem demi membuat suaranya terdengar jelas.


“Di mana Ardiaz?” tanyanya langsung.


Mendengar pertanyaan itu, Mac duff seketika membeku. Dia tahu betul siapa yang akan memanggil Ardiaz dengan nama aslinya selain keluarga dekatnya.


“Eva,” panggilnya lirih.


“Ya, ini aku. Di mana Ardiaz atau siapapun kalian memanggilnya. Biarkan aku bicara padanya sekarang juga,” seru Evangeline.


“Ardiaz... Ah... Maksud mu Alpha? Mana ku tahu dia di mana. Aku sedang tak bersamanya sekarang. Bukankah dia memintamu untuk menunggunya datang,” sahut Mac duff berbohong.

__ADS_1


“Kalau begitu, apa semalam kau bersamanya?” tanya Evangeline lagi.


“Coba ku ingat. Ehm... Yah, dia bersamaku. Tapi dia pulang cepat karena ingin beristirahat,” jawab Mac duff masih berbohong.


“Jangan berbohong padaku,” ucap Evangeline tegas.


“Untuk apa berbohong? Lagu pula, aku juga tak tau dia di mana. Kenapa tak kau...,” elak Mac duff.


“Pertempuran semalam... Aku tahu semuanya. Ku mohon, katakan di mana Ardiaz? Di mana suamiku sekarang? Aku mohon kali ini jangan berbohong lagi,” pinta Evangeline dengan suara tangis yang begitu terdengar putus asa.


Mac duff nampak bingung harus berkata apa pada gadis di seberang panggilan. Saat ini, dirinya juga sedang ada di depan ruang operasi, menunggu di sana sejak dini hari.


Sudah lebih dari lima jam operasi berlangsung, namun belum ada kabar dari dalam.


“Mike atau siapapun kau... TOLONG JAWAB DI MANA ARDIAZ?” pekik Evangeline.


Dia semakin histeris saat tak kunjung mendapatkan jawaban dari seberang.


“Saat ini, aku belum tau kondisinya. Sebaiknya kau tunggu saja kabar dari ku,” ucap Mac duff.


“Kapan itu? Kapan kau akan menghubungi, hah? Katakan saja dia ada di mana. Aku akan ke sana sendiri sekarang juga. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri bagaimana keadaannya,” sanggah Evangeline mulai tak sabar.


“Eva, tenanglah. Semua akan baik-baik saja. Kumohon. Demi suamimu kau harus tenang,” pinta Mac duff.


Evangeline tak lagi menyahut. Hanya suara tangis yang terdengar begitu pilu di telinga Mac duff.


Dari kejauhan, sekelompok orang datang dengan seorang pria mengenakan mantel berbulu yang tersampir di pundaknya, berjalan di depan.


“Eva, aku akan segera mengabari mu lagi. Aku harus pergi sekarang,” ucap Mac duff.


Dia buru-buru mematikan panggilan dan menyambut orang-orang yang baru saja datang itu.


Dengan sopan, dia membungkukkan badannya sembilan puluh derajat. Pria bermantel bulu itu berhenti tepat di depan Mac duff, namun dia serta merta menendang perut Mac duff tanpa peringatan, hingga membuat bos sky night itu terpental hingga beberapa langkah dan jatuh dengan keras ke lantai.


“Tidak berguna,” ucap pria yang tak lain adalah Devonshire, sang Emperor Lucifer.


Dia datang karena mendengar orang yang disangka adiknya, kini sedang kritis dan terbaring di meja operasi.


Dia datang bersama Vermont, Martin, Alexa dan juga Joker yang lebih dulu mendapatkan perawatan dan melaporkan kondisi terakhir mereka.


Rombongan itu berlalu dan masuk ke dalam ruang monitor operasi. Mereka melihat bagaimana tim medis melakukan penanganan terhadap Ardiaz, yang saat ini sedang berjuang hidup di balik dinding kaca sana.


Alexa nampak berhenti di dekat Mac duff. Martin yang melihat itu pun ikut berhenti. Pria arogan tersebut berbalik dan menarik tangan Alexa agar mengikuti semua orang masuk.


“Lepaskan!” ucap Alexa datar.

__ADS_1


“Tinggalkan dia. Dia memang pantas mendapat kemarahan Emperor,” ucap Martin acuh.


Mendengar hal itu, Mac duff pun langsung berdiri dan balik menatap Martin dengan penuh amarah. Rahangnya mengeras dan tangan mengepal kuat.


Matanya bahkan memerah, akan tetapi Alexa segera meraih lengan pria seksi itu.


“Delta... no, please,” ucap Alexa lirih.


Namun bukannya menyudahi, Martin justru semakin memprovokasi Mac duff.


“Kenapa kau menatapku seperti itu, hah? Sudah tugas seorang Duke melindungi King. Jika King terluka, Duke lah yang harus disalahkan. Apa kau mengerti? Lagi pula, ini salahnya sendiri yang dengan sombong meninggalkan pasukan di belakang,” ucap Martin sinis.


“Brengs*k!” umpat Mac duff.


Dia menepis tangan Alexa dan meraih kerah jaket Martin, dan dengan sekuat tenaga, dia memukul pria itu tanpa melepaskan cengkeramannya. Dia memukul berkali-kali hingga sudut bibir martin mengeluarkan darah.


“Jika bukan karena ulahmu, dia tak akan mendapat masalah. Jika kau dan anak buahmu tak memicu ledakan kapal, dia tak akan sampai seperti ini.”


“Apa kau sadar, ini semua salahmu yang bersikap arogan dan tak mau mendengar arahannya. Dia adalah peramu taktik terbaik yang pernah ku temui, jika saja kau tak mengacaukan rencananya,” teriak Mac duff.


Bos sky night itu mengeluarkan semua kemarahannya terhadap Martin langsung di depan wajah King interogator itu.


Satu tinju terakhir pun melayang, hingga Martin tersungkur ke lantai dengan wajah lebam. Dia bahkan tak bisa mengimbangi kekuatan Mac duff saat dia benar-benar mengeluarkan semuanya.


Mac duff mengusap kasar wajahnya dan mengumpat.


“SHIIIIIIT!!”


Dia menyandarkan punggungnya ke dinding dengan kasar sembari mengatur nafasnya. Mac duff memejamkan matanya untuk meredam emosi yang saat ini sedang meluap.


“Bawa dia pergi dari sini. Aku malas melihat wajah pecundang seperti dia,” seru Mac duff pada Alexa.


Wanita itu sejak tadi hanya diam, melihat perkelahian satu arah antara King dengan Duke Lucifer di depannya.


Dia hanya bisa menghela nafas panjang, dan akhirnya membantu Martin untuk bangun, akan tetapi segera ditepis oleh sang King, karena harga dirinya benar-benar sudah diijak-injak oleh seseorang yang berkedudukan lebih rendah darinya, di hadapan wanita yang selama ini menjadi incarannya.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya

__ADS_1


terimakasih


__ADS_2