A Love To Killer

A Love To Killer
BABAK 2 : Noda darah


__ADS_3

Evangeline menangis melihat darah yang terus mengalir dari pundak suaminya, hingga dia tak peduli dengan kondisinya yang sama-sama terluka.


“Sayang, aku tak apa. Ingat, aku pernah selamat dari maut berkali-kali. Ini hanya luka kecil untuk ku. Kau harus tenang, mengerti?” bujuk Ardiaz, meski sambil meringis menahan sakit dan terus menyamankan posisinya.


Sementara Mac duff, Duke itu kembali melakukan sesuatu yang membuat rantai di atasnya bergemericing.


Ardiaz menoleh ke arah rekan di sampingnya, dan mendongak ke atas.


“Apa belum lepas juga?” tanya Ardiaz.


“Bagaimana kau tau aku sedang memotong tali?” tanya Mac duff.


“Kau lupa siapa aku? Otakku lebih cepat dari pada laju peluru, yang ditembak dari senapan apapun,” sahut Ardiaz.


Mac duff hanya menyunggingkan sebelah sudut bibirnya, dan kembali membuat rantainya bergerak. Sementara itu, Ardiaz kembali melihat kondisi sang istri.


Evangeline terlihat tertunduk. Muncul seperti bulir keringat di pelipis wanita itu. Ardiaz mencoba memanggil sang istri agar dia bisa melihat wajahnya.


“Eva, apa kau tidur? Eva... Eva, kau bisa mendengarku?” panggil Ardiaz.


Dia tak mendapat respon dari wanita tersebut. Hal itu membuat dia semakin khawatir. Pandangannya tertuju pada bagian bawah sang istri.


Ardiaz melihat celana yang dikenakan istrinya basah oleh sesuatu. Ardiaz mengerutkan keningnya, sembari memicingkan mata ke arah tersebut. Tiba-tiba, pupilnya melebar dan dia kembali memanggil-manggil nama istrinya.


“Eva... Eva, jawab aku. Eva, kau mendengarku bukan? Eva,” panggil Ardiaz.


Dia menyadari sesuatu hal yang aneh. Jejak basah di celana Evangeline itu berwarna gelap. Jika itu adalah air yang ada di genangan atau air kencing Evangeline sekalipun, pasti tidak akan terlalu mengubah warna celana wanita tersebut, karena celana yang dipakai berbahan denim dan berwarna biru terang.


Akan tetapi, jejak itu justru membuat celana berwarna gelap, yang sudah bisa dipastikan bahwa cairan yang mengenainya adalah sesuatu yang berwarna pekat.


Melihat kondisi Evangeline yang sejak tadi diam tertunduk, ditambah muncul keringat di pelipisnya, membuta Ardiaz berpikir sesuatu yang buruk akan wanita itu.


Saat dia semakin panik dan terus menggerakkan tangannya agar bisa lepas, tiba-tiba Mac duff meraih tangan Ardiaz dan melakukan sesuatu pada ikatannya.


Rupanya, Duke itu sejak awal memang sudah memiliki sebuah senjata tajam yang ia sengaja dia sembunyikan di lengan jaketnya, sebelum pasukan Martin mengikat tangan dengan tali.


Para bajing*n sering melewatkan untuk memeriksa bagian itu setiap kali menggeledah musuh. Hal itu yang membuat Mac duff memanfaatkan kebiasaan buruk dunia bawah.

__ADS_1


Sejak tadi, dia selalu membuat gaduh dengan bunyi gemerincing rantai, karena dia sedang berusaha memotong talinya.


Tidak terlalu sulit untuk melepaskan diri dari ikatan. Yang membutuhkan usaha keras adalah mengambil benda tajam tersebut dari tempat persembunyiannya.


Mac duff bahkan sejak tadi membuat gundukan tanah di bawah untuk berpijak, agar dia bisa sedikit mengangkat tubuhnya, sehingga jemarinya bisa menjangkau pergelangan tangannya sendiri.


Dari sanalah dia bisa mengambil pisau dan memotong tali yang mengikat tangannya. Sementara rantai yang menariknya hanya dikaitkan pada sela antara kedua lengan yang terikat, sehingga saat tali terpotong, maka rantai pun ikut terlepas.


“Cepatlah!” seru Ardiaz yang sudah tak sabar ingin melihat kondisi Evangeline yang masih diam sejak tadi.


Tak berselang lama, tali berhasil di potong dan Ardiaz segera menghampiri sang istri, sambil memegangi pundak kirinya yang sempat tertembak.


Sementara Mac duff bergegas membantu Evangeline untuk melepas ikatan di tangan dan kakinya.


“Eva... Eva, lihat aku. Sayang, kau...,” panggil Ardiaz.


Pria itu berusaha melit wajah sang istri, namun kata-katanya terhenti saat melihat wajah Evangeline yang sudah begitu pucat.


“Sa... Kita...,” ucap wanita itu lirih.


Ardiaz mencoba melihat dari mana cairan itu berasal. Setelah berhasil melepaskan ikatan, Ardiaz membantu Evangeline bangun dari duduknya.


“Alpha, lihat di belakangnya,” seru Mac duff.


Ardiaz pun segera melihatnya dan terkejut. Dia menyentuhnya dan memastikan cairan tersebut dan kembali panik, karena menyadari bahwa itu adalah daeah. Darah yang begitu banyak.


“Eva, apa kau terluka? Di mana kau terluka? Biar ku balut dulu lukamu,” ucap Ardiaz yang kembali mendudukkan istrinya di kursi.


Namun, Evangeline menggeleng pelan.


“Aku... Aku tidak terluka. Ta... Tapi, perutku... Emmm...,” ucap Evangeline kembali mengerang lirih karena rasa sakit yang datang.


Melihat sang istri kesakitan, Ardiaz pun meminta Mac duff melihat ke luar dan membuat jalan untuk mereka kabur dari sana.


Mac duff pun dengan segera melakukannya, sementara Ardiaz mencoba melihat tubuh sang istri, bila mana ada luka yang tak terlihat, terlebih di bagian perut.


Namun, dia sama sekali tak menemukan luka apapun, selain yang tadi dibuat oleh Morgan saat memukul wajah wanita tersebut.

__ADS_1


Di sisi lain, Mac duff yang sudah berada di balik pintu, mencoba membuka papan seng dengan sedikit keras, namun rupanya pintu tak dikunci.


Mungkin mereka mengira tawanan tak akan bisa kabur, karena sudah terikat begitu kuat dan tergantung.


Sang Duke pun membuka sedikit dan melihat ke luar. Nampak beberapa orang berjaga di depan pintu, dan yang lain ada di sekitar gudang.


Mereka terlihat berbeda dari penjaga di luar tadi. Semua penjaga tidak terlihat memegang senjata api, namun ada sebuah tong kayu yang penuh dengan tongkat pemukul.


Sepertinya, senapan mereka hanya untuk pasukan yang berada di luar, sementara di dalam hanya dibekali tongkat pemukul.


Mungkin karena mengira bahwa jumlah mereka sudah cukup untuk menjaga tawanan yang di sekap.


Mac duff juga tak bisa melihat dimana Morgan dan Martin berada dari tempatnya. Namun sepertinya, mereka berdua masih ada di di dalam bangunan ini.


Dia pun kembali menghampiri rekannya yang masih memeriksa tubuh sang istri.


“Alpha, sepertinya aku bisa membuat jalan untuk mu dan Eva keluar. Tapi, apa dia bisa bergerak cepat? Aku khawatir tak bisa menahan mereka dalam waktu lama,” ucap Mac duff.


“Kau tenang saja. Aku akan dengan cepat membawa Eva keluar dari sini. Lalu kau sendiri?” tanya Ardiaz.


“Kau tidak perlu pikirkan itu. Ingat, aku adalah ahli kabur di tim kita,” sahut Mac duff.


Keduanya pun tersenyum dan saling berjabat tangan layaknya anak laki-laki.


“Ikut aku,” seru Mac duff.


Mereka pun memulai rencana melarikan diri dan penyelamatan Evangeline dari gudang kayu itu.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya

__ADS_1


terimakasih


__ADS_2