A Love To Killer

A Love To Killer
BABAK 2 : Bayiku


__ADS_3

Mereka kembali menikmati pemandangan kota di taman atap rumah sakit, sambil saling bergandengan tangan, dengan Evangeline yang terus menyandarkan kepalanya di bahu kekar Ardiaz.


Hingga beberapa saat berlalu, Ardiaz meminta sang istri untuk kembali masuk.


“Udara semakin dingin. Sebaiknya kita kembali. Bukankah kau ingin segera keluar dari sini,” ucap Ardiaz.


Evangeline hanya mengangguk.


Pria tersebut pun lalu bangun dan bersiap mendorong kursi roda, akan tetapi tiba-tiba Evangeline meminta berhenti saat melewati sebuah pot berisi bunga krisan dengan warna berbeda-beda.


“Cantik sekali,” ucap Evangeline.


Seolah tahu apa yang dipikirkan sang istri, Ardiaz pun mendekati bunga-bunga tersebut, dan memetik beberapa tangkai.


Pria itu lalu mengikatnya menjadi satu dengan tangkai yang lain, dan memberikan kepada sang istri.


“Wah... Sejak kapan kau jadi se peka ini?” ejek Evangeline.


“Sudah ku katakan, bukan. Mulai sekarang, biasakan dirimu untuk melihat sisi lain dari diriku,” sahut Ardiaz.


Dia bahkan mengambil satu tangkai lagi, dan menyematkan di telinga Evangeline.


“Cantik,” puji Ardiaz.


Seketika, pipi Evangeline merona mendengar ucapan tersebut.


“Semoga aku tak mengalami serangan jantung, setiap kali terkejut dengan perubahan sikapmu itu,” ucap Evangeline.


Ardiaz tersenyum dan kembali mendorong kursi roda istrinya.


“Tak akan ku biarkan hal buruk menimpa mu lagi,” sahutnya.


Evangeline hanya tertawa kecil mendengar betapa protektifnya Ardiaz sekarang.

__ADS_1


Mereka pun lalu bersama-sama kembali menuju ruang rawat Evangeline, yang berada satu lantai di bawah tempat tersebut.


Seperginya mereka dari taman atap, senyum terus saja menghias wajah keduanya.


Evangeline bahkan mendapat buket bunga pertamanya dari sang suami, yang terus dipegang dan diciumi, hingga membuat Ardiaz tersenyum geli.


Saat sampai di depan lift, Ardiaz kembali membetulkan posisi selimut sang istri yang sedikit turun, sambil menunggu lift datang.


Tak lama kemudian, pintu lift terbuka dan tak ada siapapun di dalam sana. Keduanya pun masuk, dan menekan tombol lantai di bawahnya.


Saat pintu hendak tertutup, tiba-tiba seseorang menahan pintu tersebut dan masuk terburu-buru ke dalam sana.


Ardiaz merasa tak nyaman dengan kehadiran orang tersebut di dalam lift bersama dengannya dan juga sang istri.


Orang itu nampak diam menghadap ke depan, sampai pintu benar-benar tertutup.


Tanpa diduga, orang tersebut berbalik sembari menyodorkan alat perekam ke arah Evangeline.


“Nona Hemachandra, apa benar anda diculik oleh Tuan Andara? Apa motif penculikan  tersebut?” tanya orang tersebut yang rupanya adalah seorang jurnalis.


Pria itu segera menyingkirkan sang jurnalis dari depan pintu dan mendorong kursi roda istrinya keluar.


Di lantai tersebut, sudah banyak orang-orang Lucifer yang berjaga, sehingga sang jurnalis tak bisa lagi mengejar Ardiaz maupun Evangeline, karena terhalang oleh anak buah Mac duff.


Namun, rupanya jurnalis itu tak menyerah. Meski dia tak bisa mengejar putra bungsu Danurendra dan istri, dia tetap mengajukan berbagai pertanyaan.


Hingga satu pertanyaan yang membuat hati Evangeline seketika hancur, terlontar dari mulut jurnalis tersebut.


“Bagaimana kondisi Anda pasca keguguran? Benarkah ada penyiksaan di tempat kejadian hingga anda kehilangan bayi Anda?” tanya sang jurnalis.


Ardiaz pun bisa mendengar hal itu dengan jelas. Dia terus mendorong kursi roda Evangeline dengan cepat agar sang jurnalis tak membuat istrinya terganggu.


Begitu sampai di ruang rawat, Ardiaz segera mendorong Evangeline ke dalam. Sementara dirinya kembali keluar dan mengatakan kepada anak buah Mac duff untuk terus berjaga, agar kejadian seperti tadi tak terulang lagi.

__ADS_1


Setelah mengatakan hal tersebut, Ardiaz kembali masuk dan menutup pintu rapat.


Saat dia berbalik, pria tersebut mendapati sang istri yang masih duduk diam di kursinya. Pandangannya telah kosong menerawang ke depan.


Ardiaz bisa menebak apa yang terjadi pada sang istri.


Dia pun lalu menghampiri wanita itu, dan berjongkok di depannya. Tatapan Evangeline benar-benar nanar.


“Eva,” panggil Ardiaz.


Evangeline menggerakkan bola matanya dan menatap sang suami yang telah berada di depan.


“Ba... Bayi? Ba... Bayi ku?” ucap Evangeline terbata.


Air mata pun lolos seketika dari pelupuk matanya, membuat hati Ardiaz kembali sakit.


Dia seketika bangun dan memeluk sang istri. Evangeline tak bisa lagi berkata-kata. Wanita itu hanya bisa menangis.


Tangisnya terdengar begitu memilukan, membuat Ardiaz tak bisa menahan lelehan di matanya. Dia terus mendekap sang istri yang menangisi anak, yang bahkan ia pun tak tahu sudah ada di dalam perutnya.


Tapi, dia justru tak tahu juga bahwa anak itu sudah tak ada di sana.


Evangeline terus menangis dalam pelukan Ardiaz dalam waktu yang cukup lama, hingga kelelahan dan akhirnya tertidur.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya

__ADS_1


terimakasih


__ADS_2