
Joy berusaha berontak dengan berkali-kali menendang ke belakang, berharap mengenai kaki orang asing itu.
Namun, gerakannya berhenti saat orang tersebut menariknya ke luar, dan terlihatlah pengawal Evangeline yang sudah tumbang sepenuhnya di lantai.
Matanya membelalak dengan degup jantung yang semakin cepat melaju. Bola matanya terarah ke arah pintu di mana Evangeline berada di dalam sana.
Ditambah ada banyak pasukan berpakaian hitam dengan memakai penutup wajah mengepung unit tersebut, dan dari tubuh mereka Joy bisa melihat sebuah tato yang cukup familiar.
Gawat! Ini serangan Lucifer, batin Joy.
Dia semakin panik saat salah seorang dari mereka berusaha masuk ke dalam.
Dengan membabi buta, Joy kembali berusaha berontak. Dengan serangan andalannya, dia menggigit tangan orang yang menangkapnya dengan keras dan membuat dirinya terlepas.
Joy segera berlari menyongsong pintu, bermaksud mendahului dan menutupnya dari dalam demi melindungi Evangeline. Namun gerakannya terhenti kala sebuah senapan meletup dan proyektilnya mengenai pundak kiri gadis itu.
AAAARRRRGGGHHHH!
Pekikan joy sontak membuat Evangeline yang sejak tadi berada di dalam, terkejut dan segera menoleh ke arah pintu.
Dia tak bisa melihat kondisi di luar, karena pintu yang hanya terbuka sedikit dan terhalang oleh sofa ruang tamu.
Karena penasaran, dia pun bangun dan mencoba melihat apa yang terjadi pada temannya.
Namun, baru saja dia pergi selangkah, matanya membulat saat melihat kepala Joy terlihat menyembul dari balik pintu.
__ADS_1
Tampaknya, gadis itu tengah terbaring tertelungkup di lantai dengan wajah kesakitan. Tatapan keduanya bertemu, dan Joy menggelengkan kepala, seolah meminta Evangeline untuk tidak mendekat.
Istri Ardiaz itu pun panik. Dia mundur tanpa tahu apa yang ada di dekatnya. Evangeline tak sadar bahwa ada sebuah vas bunga di sebelahnya, yang tak sengaja tersenggol olehnya hingga jatuh dan pecah.
Suara pecahannya membuat orang yang tadi berpura-pura menjadi kurir segera merangsek masuk.
Akan tetapi, dengan sisa tenaganya, Joy memegangi kaki pria tersebut dan tak membiarkannya masuk.
Namun, orang itu justru menendang pundak kiri Joy yang tadi tertembak hingga membuat gadis itu kesakitan dan tak bisa lagi menahan tangannya.
“EVA, LARI!” pekiknya.
Mendengar itu, si kurir palsu pun kembali menendang pundak kiri Joy dengan lebih keras hingga pegangan gadis itu lepas, dan membuat si kurir berhasil masuk ke dalam.
Gadis itu pun ketakutan saat tangan pria asing meraih lengannya, dan menariknya turun ke bawah.
Mau sekuat apapun Evangeline berusaha memberontak, dia tak bisa mengimbangi tenaga pria tersebut.
Ketika sampai di dekat meja makan, di melihat sebuah mangkuk buah. Dengan cepat, Evangeline meraih benda tersebut, membuat isinya bercecer di lantai.
Dia pun lalu memukulkan benda yang terbuat dari kaca itu ke arah tengkuk si kurir palsu dengan keras, hingga pria tersebut mengaduh kesakitan.
Evangeline kira dia bisa lepas saat si kurir palsu melepas cengkeramannya. Namun ternyata, belum sempat dia pergi, tangan itu kembali meraih dirinya.
Kali ini, dia meraih rambut panjang Evangeline dan menariknya hingga wanita itu berteriak kesakitan. Dan dengan keras, menampar wajah Evangeline beberapa kali hingga kedua pipinya terasa panas dan perih.
__ADS_1
Bahkan dari sudut bibirnya terasa sesuatu mengalir keluar dan terasa asin.
Evangeline merasa pusing dan limbung, akan tetapi belum sempat dia menyeimbangkan diri, pria tadi kembali menarik rambutnya seraya berjalan keluar.
Istri Ardiaz itu terus merinta dan memegangi rambutnya karena merasa begitu sakit. Saat sampai di pintu, dia melihat Joy yang sudah tak sadarkan diri dengan darah yang sudah banyak mengalir keluar dari lukanya.
“JOY! JOY, BANGUN. JOY. TOLONG SELAMATKAN TEMANKU. JOY,” pekiknya meminta belas kasih orang itu.
Namun, dia seolah tak peduli dan terus menariknya hingga keluar. Setelah berada di luar unit, barulah Evangeline bisa melihat bahwa pengawal ayahnya telah tumbang dan kurir itu tidak lah sendirian, melainkan bersama sepasukan pria berpakaian hitam dengan penutup wajah.
Evangeline seketika lemas. Dia paham akan situasinya sekarang. Saat seseorang berusaha mengingat kedua tangannya, Evangeline kembali berusaha berontak, namun kali ini sebuah suntikan dengan cairan penenang tertancap di lengan wanita itu.
Evangeline mengernyitkan keningnya merasakan nyeri di bagian tersebut. Lambat laun, dia mulai melemas dan akhirnya tak sadarkan diri.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih
__ADS_1