
Saira dan mamah naik ke dalam mobil papah. Sebelumnya mamah menghubungi papah agar menjemputnya ke rumah Juan. Tapi mamah tidak bilang jika akan mengajak Saira tinggal di rumahnya.
Papah hanya menggelengkan kepala, dan tersenyum sendiri karena terkesan lucu. Dulu dirinya yang mengajak Saira pergi untuk memisahkan anak dan menantunya sekarang istrinya sendiri yang ikut mengajak menantunya untuk pergi agar terpisah dengan anaknya sementara waktu.
"Pah, tolong bujuk mamah jangan bawa Saira dari rumah ini" bujuk Juan pada papah. Papah hanya mengangkat bahunya saja.
"Huft..Sama saja jika berbicara sama papah, Papah kan bagaimana mamah" gerutu Juan.
"Kak, aku pergi dulu ya" Saira mencium tangan Juan dan Juan membalas dengan mencium kening Saira, tak lupa Juan pun mencium Keanu. "Daddy akan kangen sama kalian. Kakak jemput nanti kalau sudah waktunya" ucap Juan pada Saira.
"Ck, lebay sekali kamu kak. Baru juga terpisah satu bulan" cibir mamah. "Mamah tidak tahu saja, Saira tidak akan bisa tidur jika tidak dipeluk aku" jawabnya dan Saira hanya menahan malu suaminya berbicara seperti itu pada mertuanya.
Hah..Ada juga suaminya yang kadang setiap malam suka menyelinap setiap tidur mendekati dirinya. Tapi Saira tidak berani berbicara hanya dalam hati saja.
Mobil papah Tirta meninggalkan halaman rumah Juan. Juan merasa sendiri di rumah. Yang dia pikir dengan kepindahannya dari apartemen ke rumah akan membuat rumahnya akan ramai sekarang di pisahkan kembali oleh mamahnya karena perbuatannya dirinya sebelumnya.
Selama Saira di rumah mamahnya, Juan menghabiskan waktu dengan menyibukan diri dengan pekerjaannya. Biasanya Juan ketika pulang di sambut oleh istri dan anaknya sekarang dia kembali lagi seperti hidup sebelum menikah apa apa dikerjakan sendiri.
Untungnya masih dibantu dengan bi Marni yang seminggu sekali datang kerumah untuk membersihkan dan merapikan rumah.
"Pak Juan ini di letakan dimana?" Bi Marni membawa pakaian bersih yang sudah di setrika di dalam wadah.
"Simpan saja di atas tempat tidur bi" suruh Juan. "Baik pak" bi Marni meletakan pakaiannya sesuai perintah.
"Ada lagi yang dibutuhkan pak?" tanya bi Marni. "Sudah bi" jawab Juan yang melihat semuanya sudah rapi.
__ADS_1
"Oh iya pak Juan jika mau makan bibi sudah siapkan makanannya di meja makan. Pak Juan jangan lupa makan ya soalnya non Saira sudah berpesan sama bibi agar mengingatkan dan menyiapkan untuk makan" ujar bi Marni.
"Iya bi sebentar lagi saya akan makan" jawab Juan. Istrinya walau tidak ada dirumah tapi tetap memperhatikannya walau tidak langsung.
"Kalau begitu bibi pamit ya pak" izin bi Marni. "Iya silakan bi" sahut Juan.
Saira di rumah mertuanya tampak memikirkan suaminya di rumah. "Kak Juan sudah makan belum ya?" gumamnya. Lantas Saira berkirim pesan pada bi Marni keadaan di rumah dan kabar suaminya. Setelah mengetahui kabar suaminya dari bi Marni Saira baru tenang.
Ibu yang tahu Saira sekarang tinggal bersama mertuanya tidak kaget karena sebelumnya mamah Sinta telah memberitahunya bahwa Saira akan di pindahkan ke rumah mertuanya dengan alasan akan melakukan pemulihan di rumah karena lebih leluasa ada yang mendampinginya di bandingkan dirumah ya sendiri.
Mamah yang melihat Saira tersenyum sendiri sambil melihat ponselnya merasa senang. Karena sekarang melihat wajah menantunya sepertinya bahagia setelah melewati masa masa menyedihkan.
"Saira" panggil mamah sembari mengetuk pintu kamar yang sedikit terbuka.
"Ini mah habis menanyakan kabar di rumah sama bi Marni" ujar Saira tapi tidak memberitahukan mamah dia juga menanyakan suaminya. Saira malu dengan mamah mertuanya.
"Oh, mamah pikir kamu sedang chat dengan suamimu itu yang tidak peka" ujar mamah.
"Tidak mah" Saira tersenyum. Sebenarnya Saira menahan kerinduan sudah satu minggu dia tidak bertemu maupun mendengar suara suaminya.
"Sini Keanu mamah gendong, kamu mau latihan berjalan lagi?" selama di rumah mamah Saira terus berlatih di tambah mamah meminta perawat datang ke rumahnya untuk membantu Saira berlatih berjalan tanpa sepengetahuan Juan.
"Iya mah" sahut Saira. "Sebentar lagi perawatnya datang, nanti kamu bisa siap siap Ra. Keanu biar sama mamah saja" ujar Mamah. "Terima kasih mah" ucap Saira. "Iya sayang" sahut mamah.
Di saat Saira pemulihan agar bisa berjalan lagi sementara di penjara Juan sudah mengutus pengacaranya untuk mengurus pencabutan pelaporan atas Helena. Begitupun Pram sudah menyiapkan pengacara untuk membebaskan mantan istrinya itu.
__ADS_1
Pertemuan itu tidak dihadirkan oleh Juan maupun Siara hanya di wakilkan oleh pengacaranya sedangkan dari pihak Helena Pram mengikuti proses pencabutan laporanya bersama pengacaranya di kantor polisi.
"Sekarang saudari Helena hari ini kami bebaskan dengan syarat yang sudah klien saya ajukan" Juan tidak membebaskan begitu saja pada Helena tapi Juan mengajukan persyaratan atau perjanjian. Salah satunya Helena harus menjauhi keluarganya dan tidak mengulangi kejahatannya lagi jika melanggar Juan tidak akan segan menyeretnya ke jeruji besi lagi.
"Baik saya pastikan itu tidak akan terjadi" ucap Pram yang menjadi jaminan pada Helena. "Tapi sebelumnya bolehkah kami meminta untuk bertemu dengan Juan dan istrinya, sebelum kami pergi" pinta Pram. "Kalau itu saya tidak bisa menjawabnya saya harus membicarakanya pada pak Juan. "Ok, terima kasih" mereka saling berjabat tangan.
Perasaan lega dirasakan Pram karena sebentar lagi Helena akan bebas.
Helena keluar dari sel tahanan di temani petugas wanita.
"Helena" Ucap Juan bahagia Helena menatap Pram dengan menangis. "Helena akhirnya kamu bisa mengirup udara bebas hari ini" ujar Pram.
"Terima kasih mas Pram" Helena malah menangis. "Apakah aku pantas mendapatkannya setelah apa yang sudah aku perbuat, apakah terlalu cepat hukuman yang aku terima" ucap Helena ragu. "Iya Helena kamu berhak mendapatkan kebebasan, kamu harus bersyukur karena bisa mendapatkan kebebasan agar kamu bisa berubah menjadi lebih baik" Pram meyakinkan dan menggegam tangan Helena.
Saira dengan bantuan perawat yang telaten membantunya dan kegigihan Saira ingin bisa berjalan akhirnya Saira bisa merasakan sedikit demi sedikit kakinya merasakan pergerakan yang banyak. Sudah berapa langkah Saira berjalan walau masih terasa lemas tapi Saira tetap semangat.
"Jangan dipaksakan Ra, perlahan lahan saja jalannya" mamah khawatir melihat Saira yang terus saja mengerakan kakinya di lantai.
"Tidak apa mah, Saira bisa" Saira berasa seperti bayi yang baru bisa merangkak dan berjalan penuh perjuangan.
"Mah" seru Saira melihat kakinya terus melangkah jauh tanpa memegang apapun dan tidak terjatuh.
"Iya sayang" mamah Sinta menangis melihat kegigihan Saira terus berlatih. "Alhamdulillah sayang" mamah memeluk Saira. Dan Saira ikut menangis bahagia.
Perawat pun tersenyum lega karena dia sudah berusaha membantu pasiennya
__ADS_1