
Keanu sudah terlelap tidur. Saira meninggalkan Keanu dikamar dan menyusul Juan yang sedang makan malam sendiri.
"Kakak sudah selesai makannya" tanya Saira. "Sudah yang, ada apa?" tanya Juan. "Ada yang akan aku bahas sama kak Juan" ujar Saira. "Oh iya, tentang apa? tidak seperti biasanya" ucap Juan. "Biasanya kamu langsung tidur tidak mau berlama lama dengan kakak" sindir Juan.
Saira menunduk sebentar.
"Kak, sebentar lagi kurang lebih sebulanan lagi aku mulai bekerja. Sepertinya kita butuh orang yang bisa mengasuh Keanu di rumah" terang Saira. "Terus kamu sudah mendapatkan pengasuhnya?" tanya Juan.
"Kamu jangan asal mengambil pengasuh Saira, asal kamu tahu yang kamu titipkan itu bayi, yang harus benar benar di jaga oleh orang yang dapat dipercaya" ujar Juan.
"Iya kak aku tahu, maka dari itu kita bahas dari sekarang. Aku juga sudah punya orang yang insyaAllah bisa dipercaya untuk mengasuh Keanu" imbuh Saira. "Siapa?" Juan mengerutkan dahi. "Pertama bi Marni" ucap Saira. "Bi Marni yang biasa kerja di sini" tanya Juan. "Iya kak" sahut Saira. "Memang bisa" Juan tidak yakin. "Ya yang aku lihat bi Marni orangnya rajin dan telaten juga. Aku pikir untuk mengasuh bayi juga bisa sabar kak" ujar Saira. "Tapi bi Marni selain bekerja di sini dia juga kerja di orang kan yang" seru Juan.
"Kakak sudah tahu" tanya Saira. "Ya sudahlah yang, sebelum kakak memperkerjakan bi Marni kakak bertanya dulu pada satpam di sini.
#Flashback On#
Juan saat awal pindah ke apartemen merasakan kelelahan pulang malam terus karena pekerjaan. Dan hari libur di gunakan untuk istirahat atau pergi keluar jadi tidak ada waktu untuk membersihkan apartemennya.
Juan iseng iseng bertanya pada pihak security yang sudah dikenalnya. Juan menghampiri pak Narto yang sedang berjaga sambil mengobrol.
"Pak Narto, sudah lama bekerja di sini?" tanya Juan. "Lumayan pak, ada sekitar 10 tahun saya bekerja di sini" jawab pak Narto. "Oh, lama juga ya" ucap Juan. Kemudian datang seorang ibu ibu menghampiri pak Narto.
"Pak Narto saya titip apartemennya pak Nelson ya pak" ujar bi Marni menitipkan. "Siap, nanti saya cek kalau lewat, sudah beres bi Marni?" tanya pak Narto. "Sudah pak. Ini saya mau pulang paling nanti lusa saya ke sini lagi, soalnya bapak mau ke sini sama ibu jadi harus sudah rapi" ujar bi Marni. "Oh ya bi" sahut pak Narto. "Kalau begitu saya pergi dulu ya pak Narto, permisi pak" pamit bi Marni pada Juan juga.
__ADS_1
"Yang tadi itu bi Mirna pak. Yang suka bersih di lantai 10 kediamannya pak Nelson" ujar pak Narto memberitahu. "Oh" jawab Juan singkat. "Memang pak Nelson jarang di rumah pak" tanya Juan. Pak Narto menceritakan tentang pak Nelson. "Berarti bi Marni hanya bekerja di pak Nelson tidak tiap hari" tanya Juan. "Sepertinya pak, soalnya saya hanya liat bi Mirna datang kesini hanya seminggu sekali kecuali pak Nelson dan keluarga datang bisa setiap hari" terang pak Narto.
"Pak, bisa saya nanti bertemu dengan bi Marni?" tanya Juan. "Maaf pak sebelumnya. Memangnya ada apa ya pak?" pak Narto bingung. "Oh tidak apa apa pak Narto saya hanya ada perlu saja dengan bi Mirna, bisnis!" seru Juan menaikan alis matanya. "Oh begitu pak, baik nanti saya akan saya sampaikan" ujar pak Narto.
Setelah disampaikan oleh pak Narto ke bi Mirna. Bi Mirna langsung menemui Juan di apartemennya. Dengan negosiasi antara Juan dan bi Mirna dari situ lah Juan mempercayakan bi Mirna untuk bekerja di rumahnya.
#Flashback Off#
"Nanti siapa yang akan mengganti jika sewaktu waktu keluarga pak Nelson datang kesini, Keanu sama siapa?" tanya Juan. "Ya, kalau cuma beberapa hari masih bisa titip ibu atau mamah. Tapi kalau masih tidak bisa aku punya pilihan kedua" seru Saira.
"Siapa lagi?" tanya Juan. "Bu Asih" seru Saira. "Siapa bu Asih?" tanya Juan. "Bu Asih itu tetangga ibu. " Bu Asih sering membantu ibu jika kerepotan masak dan aku sudah mengenal bu Asih sudah lama dari aku kecil" ujar Saira.
"Ya terserah kamu saja lah" Juan tampak pasrah menyerahkan ke Saira. "Ok, nanti aku bicara sama bi Mirna bagaimana keputusannya" ujar Saira meyakinkan Juan. "Ok" jawab Juan singkat.
Besoknya. Saat akan siap siap berangkat Juan tidak terlihat meminta bantuan pada Saira. Semuanya di cari sendiri walau Siara sudah menyiapkan sebelumnya. Sekarang giliran Juan yang tidak banyak berbicara.
Saira yang merasakan perubahan sikap Juan yang tak biasa merasa aneh. "Apa dia ada masalah" pikir Saira.
Hingga pergi pun hanya sekedar mengucapkan salam.
Di kantor mood Juan sedang tidak baik. Pekerjaannya yang tak kunjung selesai membuat Juan kesal. Alhasil pegawai yang dibawahi Juan kena amarah Juan. Gwen pun ikut kena imbasnya.
"Gwen cepat kemari!" seru Juan.
__ADS_1
"Apa ini, kamu buat laporan apa mengerjakan tugas anak TK?" marah Juan melempar berkas ke meja. "Maaf Juan, em maksudku pak Juan" Gwen sedikit gugup melihat Juan terlihat sangat marah.
"Bawa laporannya dan segera perbaiki. Aku tidak mau ada kesalahan lagi Gwen!" seru Juan.
"Baik, pak. Maafkan saya pak, akan saya perbaiki laporannya" Gwen mengambil berkas yang tadi dilempar Juan di atas meja. "Permisi" Gwen buru keluar dari ruangan Juan.
"Sial, ada apa hari ini aku kena marah Juan" gerutu Gwen meninggalkan ruangan Juan.
Juan hari ini tidak begitu konsentrasi, sehingga pekerjaan yang harusnya hari selesai dia tunda karena tidak konsentrasi.
Dari kantor Juan pulang lebih awal tapi bukannya langsung pulang, Juan malah memilih ke bar untuk menjernihkan pikirannya.
Saira di rumah menunggu Juan karena sudah malam Juan tidak kunjung pulang. Saira ingin mengirim pesan menanyakan keberadaannya tapi Saira sudah lama semenjak kejadian itu tidak pernah mengirim pesan jika tidak terlalu penting.
Tak lama Suara pintu terbuka dan Saira melihat Juan agak berantakan penampilannya tidak seperti tadi pagi.
Juan masuk dan duduk di sofa. Saira yang melihat Juan seperti kelelahan mengambilkan teh hangat.
"Kak, ini tehnya" ucap Saira menaruh tehnya di meja. Juan masih terdiam tidak menjawab.
Suasana hening seketika tidak ada yang berbicara sampai Juan akhirnya berbicara.
"Masih kamu menganggap ku suami?" suara ketus Juan dengan pandangan tajam pada Saira. Saira yang tadinya tertunduk seketika mendongak melihat Juan berbicara ketus.
__ADS_1