
Di mobil Saira sudah takut Juan akan marah karena pulang malam. Melihat raut wajahnya Juan tidak banyak berbicara hanya sikap dinginnya yang terlihat.
"Kak, sudah makan" tanya Saira membuka pembicaraan. "Hmm" jawab Juan singkat. lama Juan akhirnya berbicara juga. "Kamu sudah makan" tanya Juan tanpa ekspresi. "Sudah kak" sahut Saira. "Syukurlah" jawab Juan.
"Apa tidak ada karyawan yang lain yang bisa menggantikan seorang wanita hamil untuk rapat hingga malam" Juan bertanya. "Maaf ini aku yang minta kak, sebenarnya atasan ku sudah meminta aku di ganti oleh karyawan lain..".
"Lalu" potong Juan. "Aku menolak toh itu tanggung jawab aku, aku tidak enak dengan Mbak Sely dan perusahaan karena yang membuat rancangan materinya aku dan mbak Sely yang mengerjakan, sedangkan Mbak Sely sedang cuti" terang Saira.
"Lantas kamu mementingkan perusahaan dan rekan kerjamu di bandingkan kehamilanmu" Ujar Juan. "Bukan begitu kak, aku pikir tidak jauh tempat rapatnya dan tidak sampai larut malam. Dan lihat, aku baik baik saja kan kak" Saira meyakinkan Juan.
"Terserah kamu sajalah" Juan sudah malas membahasnya.
Sampai Di apartemen Juan langsung melepas baju kerjanya dan pergi ke balkon sambil menyesap rokoknya. Sedangkan Saira membersihkan diri dan menyiapkan perlengkapan untuk besok.
"Saira mengintip dari kaca ruangan yang membatasi ruang tengah dan balkon. Juan sepertinya tidak ingin di ganggu. Akhirnya Saira tidur sendiri karena sudah lelah.
"Kak, ini sarapannya" Saira menyiapkan sarapan Juan. "Hmm" Juan memakan sarapannya tanpa ada pembicaraan lainnya.
"Sudah siap" tanya Juan. "Sudah" sahut Saira. Mereka berangkat kerja sepeti biasa tapi kali ini tanpa ada perbincangan atau tanya jawab.
Sely sudah masuk kerja kembali, dan mendengar Saira yang menggantikan dirinya rapat keluar Sely merasa tidak enak.
"Ra, mengapa kamu yang pergi. Aku kan jadi tidak enak kamu sedang hamil malah kerja keluar" Sely merasa bersalah. "Tidak apa apa mbak Sely" ujar Saira santai. " Ish kamu itu sedang hamil Ra, apa kata pak Reyhan dan suami mu, aku yang di beri tugas kamu yang terbebani. Jangan jangan suami mu terlanjur benci sama aku ya Ra" ujar Sely yang sudah menduga duga.
__ADS_1
"Apa sih mbak Sely ada ada saja, tidak lah" Saira malah tertawa. "Ish anak ini, tapi terima kasih ya Ra. Katanya kerjasama nya langsung berhasil ya" Sely senang karena pekerjaannya berhasil.
"Alhamdulillah mbak" jawab Saira singkat tidak ingin menambahkan. Karena Sely sepertinya tidak tahu semua bahwa yang membuatnya berhasil 100 % berkat pak Reyhan yang ikut andil karena terjun langsung membantu dan mengawasinya.
Sorenya di jam pulang kerja Juan sudah menunggu Saira di parkiran depan. Saira yang sudah dihubunginya langsung masuk ke mobil Juan.
Wajah Juan sudah tidak sedingin tadi pagi. Sekarang sudah mulai menyapa dan bertanya lagi. Saira lega akhirnya kak Juan sudah tidak marah lagi.
"Yang, kita makan diluar dulu sebelum pulang" ajak Juan. "Tidak usah kak, aku masak saja, tadi pagi sudah aku siapkan bahannya tinggal di masak" ujar Saira ingin memasak sendiri.
"Kamu tidak capek yang kalau masak" tanya Juan. "Insya Allah tidak kak, cuma masak menu sedikit saja" sahut Saira.
Sesampainya di apartemen Saira langsung mengganti baju kerjanya dengan baju santai. Saira langsung memasak di dapur dan sesekali merapikan apartemennya, walau ada yang datang membersihkan apartemennya seminggu 2 kali tapi tetap saja Saira tidak tinggal diam ikut membersihkan dan merapikannya.
"Em..iya kak, kita lihat saja nanti" kenapa sih yang setiap kita periksa ke dokter kamu menolak untuk bertanya jenis kelaminnya pada dokter, kakak kan ingin tahu" tanya Juan. "Tidak apa sayang supaya surprise jadinya pas nanti lahirnya" jawab Saira mencoba tersenyum.
"Ya terserah lah" Juan malas berdebat dan memilih untuk meninggalkan Saira kemudian pergi ke tempat favoritnya.
Saira mencoba merayu Juan agar tidak marah dengan mendatangi Juan di balkon.
"Yang, bulan depan kehamilanku 7 bulan, kita adakan acara 7 bulanannya di rumah ibuku ya" rayu Saira sembari memeluk Juan dari belakang. "Terserah kamu saja yang" Jawab Juan cuek. "Ih sayang kok masih marah" Saira pura pura sedih. "Habis kamu susah sekali nurut sama aku yang" ujar Juan. "Iya sayang nanti kita liat sikon ya mudah mudahan pas kita cek posisinya bagus untuk melihat jenis kelaminnya" ujar Saira.
Juan langsung tersenyum dan mulai melunak dan balas memeluk Saira.
__ADS_1
Saira memulai menggoda Juan agar moodnya baik lagi.
"Yang kamu ya yang mulai bukan kakak" seru Juan. "Mulai apa sih yang" Saira pura pura tidak mengerti setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih tipis.
"Aku gerah yang, jadi cari yang tipis bajunya" Saira tersenyum membelakangi Juan. " Awas kamu ya, kamu harus tanggung jawab" Seru Juan dan langsung menerkam Saira.
Dan terjadilah pergumulan semalam oleh sepasang suami istri tapi Juan melakukannya dengan hati hati.
Keesokan harinya Saira bangun kesiangan dan merasa badannya lelah.
"Aduh kok badan aku pegal pegal semua ya" Saira memaksakan bangun untuk ke kamar mandi. "Astaghfirullah sudah jam setengah 6 pagi" Saira melihat jam lalu cepat cepat pergi ke kamar mandi untuk mandi besar. Juan yang merasakan pergerakan Saira dari kasur langsung terbangun.
"Yang hati hati jangan terburu buru seperti itu" Juan mengkhawatirkan Saira takut jatuh atau terpeleset. "Itu lihat yang sudah siang" Saira memberi tahu Juan. "Iya kakak tahu, tapi kamu harus hati hati" Juan mengingatkan.
Saira baru ingat ada bayi di dalam perutnya. "Oh ya ampun maaf sayang" akhirnya Saira pelan pelan untuk membersihkan dirinya. Setelah Saira selesai mandi baru Juan.
"Kak, maaf aku tidak sempat membuatkan sarapan untuk kita" Saira merasa bersalah. "Tidak apa sayang, kita makan roti saja untuk ganjal perut. Nanti di jalan kita beli sarapan yang padat" Juan menenangkan Saira.
"Baiklah" Saira menyiapkan roti untuk dia dan Juan dan tak lupa susu Saira meminum susu hamil.
Di perjalanan Juan melihat lihat tempat jualan sarapan, Juan membungkusnya karena waktunya tidak sempat untuk makan di tempatnya.
Juan dan Saira makan di kantor masing masing. "Ra, tumben sarapan di kantor? memangnya kamu tidak masak?" tanya Sely. "Aku tidak sempat masak mbak, aku kesiangan bangunnya" jawab Saira sembari memakan sarapannya mumpung belum banyak orang yang datang.
__ADS_1
"Sepertinya ada yang bergadang deh semalam" goda Sely dan Saira masih bingung kenapa mbak Sely bisa tahu?