Adakah Cinta Di hatimu

Adakah Cinta Di hatimu
Bab 74


__ADS_3

Mobil Juan sampai di halaman rumah orang tua Saira.


"Terima kasih nak Juan sudah mengantarkan ayah" ucap ayah. "Sama sama ayah, Juan sekalian pulang juga" sahutnya. "Juan langsung pamit ya ayah mau langsung pulang ke apartemen" pamit Juan. "Baiklah, hati hati nak Juan" seru ayah.


Juan meninggalkan halaman rumah orang tua Saira dan melajukan mobilnya ke arah apartemennya.


Sampai di apartemen hal yang pertama Juan lakukan adalah mandi membersihkan dirinya dan menjernihkan pikirannya.


Di kamar Juan tidak bisa tidur, terus memikirkan masalahnya. Apa yang akan terjadi berikutnya. Benar apa yang di ucapkan papahnya, seharusnya sekarang adalah moments bahagia bersama Saira atas kelahiran putra pertamanya tapi tidak dengan kenyataannya Juan tidak merasakan kebahagian yang sepenuhnya.


Juan tertidur dengan kegelisahannya.


Flashback On#


"Juan" panggil seorang wanita saat Juan hendak masuk ke dalam kantor. Juan mengedarkan pandangannya ke arah sumber suara yang memanggilnya.


"Helen" sebut Juan. "Juan apa kamu ada waktu? aku ada perlu dengan mu" ujar Helena.


"Helen, aku mau bekerja sekarang aku tidak mungkin keluar di jam bekerja" ujar Juan. "Tapi ini penting Juan" seru Helena. "Ya sudah nanti jam istirahat siang aku akan menemui mu di tempat biasa" ucap Juan agar Helena tidak berlama lama di kantornya.


"Baiklah, aku tunggu Juan" Helena tersenyum puas Juan masih mau menemuinya.

__ADS_1


Jam makan siang tiba Helena sudah menunggu di tempat favorite yang menjadi tempat kenangan bersama Juan dulu sampai sekarang. Sementara Juan di kantor melihat jam yang melingkar ditangannya sudah menunjukan jam 12 tepat jam makan siang. Juan teringat janjinya akan menemui Helena.


Juan bergegas untuk pergi ketempat yang sudah di janjikan.


"Juan" panggil Helena saat Juan sudah duduk di hadapan Helena.


"Ada apa Helen, aku tidak banyak waktu jam makan siangku tidak lama" ujar Juan. Helena menyodorkan sebuah amplop ke arah Juan. "Apa ini?" tanya Juan melihat amplop dihadapannya.


"Ini hasil dari dokter, Juan" ucap Helena. Juan membuka amplop tersebut dan membacanya. "Helen, kamu hamil" Helena mengangguk. "Lalu suami mu sudah mengetahuinya" tanya Juan. "Aku tidak memberitahukannya, biarkan saja aku tidak mau.." ujar Helena. " Apa maksudmu tidak mau" tanya Juan heran. "Aku ingin menggugurkannya Juan" ucap Helena dengan santainya.


"Helen, apa kamu sudah gila" ujar Juan kesal. "Juan, aku ini sudah bercerai dengannya sebulan yang lalu dan sekarang aku hamil apa kamu yakin dia akan mengakui bayi ini anaknya" ujar Helena. "Tapi ini memang anaknya kan, kamu tidak berhubungan lagi dengan pria lain?" tanya Juan.


"Tentu saja ini anaknya karena terakhir sebelum kami bercerai dia mabuk dan kita melakukannya untuk terakhir kalinya" ujar Helena.


Juan sudah pusing dibuatnya. Helena terus mencarinya walau dia sudah bercerai pun.


"Helena aku antar kamu menemui suamimu, dia harus mempertanggung jawabkannya" ujar Juan memberikan solusi. "Tidak Juan aku tidak mau, lebih baik aku gugurkan saja bayi ini mumpung belum besar" ujar Helena. "Helena, kamu itu seorang wanita tapi mengapa pikiran kamu sejahat itu" ujar Juan heran.


"Aku tidak jahat Juan, justru aku kasian pada bayi ini karena jika dia lahir dia tidak akui oleh ayahnya sendiri, dan aku harus bagaimana" ujar Helena.


"Apa ada laki laki yang mau dengan ku setelah tahu aku sedang mengandung bukan bayinya" tambah Helena. Juan terdiam bingung mencari jalan keluarnya.

__ADS_1


"Helen, aku harap kamu bisa mempertahankannya walau mantan suamimu tidak mengakuinya. Aku percaya pasti ada jalan keluarnya" Juan membujuk Helena agar tidak menggugurkan kandungannya. "Aku harus bagaimana Juan? jika aku terus melanjutkan kehamilanku apa kata orang lain?" seru Helena.


"Aku tidak bisa berbuat banyak Helen, cuma mengingatkan dirimu saja ada nyawa yang harus kamu pertahankan" jelas Juan. "Aku akan kembali lagi ke kantor , kamu makanlah kasian bayimu perlu asupan makanan" ujar Juan sebelum meninggalkan Helena sendiri.


Juan kembali ke kantor setelah tadi sempat makan sedikit dengan Helena karena sudah tidak menginginkan makan saat itu mendengar cerita dari Helena. Walau dia tidak ingin ikut campur lagi urusan Helena tapi hati kecilnya kepikiran dengan bayi yang di kandung Helena, karena Juan juga akan segera memiliki seorang bayi. Bagaimana nasib bayinya jika ibu dan ayahnya tidak menginginkan.


Di rumah Juan melihat Saira begitu menikmati kehamilan kadang Juan merasa kasian pada Saira walau sudah hamil besar tapi Saira masih tetap bekerja dan di rumah masih mengerjakan pekerjaan rumah walau tidak berat.


Hingga satu waktu Juan mendapatkan telepon dari Helena jika Helena merasakan sakit diperutnya dan menangis. Juan sontak pergi menemui Helena di apartemennya. Helena sudah meringis kesakitan memegang perutnya. Juan berinisiatif membawanya ke rumah sakit.


"Selamat siang pak, ada yang bisa kami bantu" ucap resepsionis. "Sus teman saya perutnya sakit tolong bantu teman saya sus" baik pak silakan ke ruang IGD pak nanti perawat yang akan membantu bapak" ujar resepsionis mengarahkan Juan.


"Helena masuk keruangan IGD dibantu dengan dokter dan perawat untuk diperiksa. "Keluarga ibu Helena" panggil perawat. "Iya dok" sahut Juan.


"Bapak, berhubung istri bapak sedang hamil kami rujuk ke dokter kandungan untuk lebih jelasnya" ujar dokter jaga tersebut. "Bapak bisa ambil antrean di poli kandungan, jadwal prakteknya ada sore ini" jelas dokter menerangkan. "Baik, dokter akan saya bawa ke dokter kandungan. Terima kasih dokter" ucap Juan.


Kemudian Juan ke bagian adminitrasi untuk mendaftarkan Helena ke dokter kandungan. Juan bingung mengisi datanya karena di tanya nama suaminya. Juan menulis nama suaminya Pram karena orang tidak tahu dia bukan Pram.


"Selamat sore bapak dan ibu" sapa dokter. "Sore dokter" sahut Helena Juan mereka seperti sepasang suami istri yang sedang cek kehamilan. " Ada yang bisa dibantu ibu atau ada keluhan" tanya dokter. "Dokter perut saya sakit terus di bawa ke IGD, dokter jaga menyarankan saya ke dokter kandungan" ujar Helena.


"Baik, silakan berbaring dulu bu kita cek dahulu" dokter menyuruh Helena berbaring. Sedangkan Juan tetap duduk di kursi dan terhalang tirai, tidak ikut melihat Helena diperiksa karena Juan tidak punya kewajiban untuk melihatnya.

__ADS_1


Setelah selesai di periksa dokter menghembuskan nafas sejenak. "Ibu bapak maaf saya izin bertanya. Apakah ibu sebelumnya mengkonsumsi makanan atau obat obatan yang bisa menyebabkan keguguran?" Juan kaget lalu melirik Helena, sedangkan Helena yang ditatapnya hanya tertunduk malu.


"Ibu bapak apa ada yang bisa menjelaskan pada saya?" tanya dokter sekali lagi. "Saya tidak tahu dokter" Juan menjawab dengan bingung memang Juan tidak mengetahui apapun tentang apa yang dilakukan Helena hanya sebatas mengetahui kehamilannya saja.


__ADS_2