Adakah Cinta Di hatimu

Adakah Cinta Di hatimu
Bab 52


__ADS_3

Di perjalanan pulang dari rumah sakit Saira tidak bicara sedikit pun.


"Yang, mau mampir dulu tidak untuk beli sesuatu sebelum pulang" tawar Juan. Saira hanya menggelengkan kepala kemudian melihat ke jendela dan Juan hanya bisa menghela nafas.


Mobil telah sampai apartemen Juan membukakan pintu untuk Saira tetapi Saira berjalan duluan Juan hanya mengikuti dari belakang.


"Yang jalannya hati hati pelan saja" Juan mengingatkan. Saira yang tadinya tergesa gesa, ingat bahwa dirinya tengah hamil menjadi pelan berjalannya.


Saira masuk ke kamar sebelahnya tidak ingin tidur di kamar utama.


"Yang kenapa tidur di kamar ini, kenapa tidak di kamar kita" tanya Juan bingung." Aku gerah kak" Saira mencari alasan. "Kan tinggal menyalakan AC nya" sahut Juan. "Aku lagi ingin kasur sendiri biar bisa guling guling" jawab Saira asal. "Aneh" gumam Juan.


Makan malam pun Saira masih jarang berbicara hanya seperlunya saja tanpa meninggalkan kewajibannya menyiapkan makanan untuk Juan.


Keesokan harinya.


Ketika Saira sedang menonton TV Juan datang mendekat tapi Saira langsung bangun dari sofa.


"Yang, tunggu sebentar" Juan menahan tangan Saira yang hendak pergi ke kamar.


"Kakak ingin menjelaskan kesalahpahaman ini" Juan mencoba menjelaskan pada Saira.


"Untuk apa" tanya Saira masih tidak ingin melihat wajah Juan. "Supaya semuanya jelas dan kamu tidak mendiamkan kakak seperti ini" ujar Juan.


Saira tak bergeming dan tetap melangkah meninggalkan Juan.


"Saira!" panggil Juan emosi, Saira diam berhenti melangkah. "Saira, kakak sudah cukup bersabar dengan sikap kamu yang kekanak kanakan seperti ini, apa kamu ingin tahu yang sebenarnya". ujar Juan. "Kemarin yang kamu lihat itu tidak seperti yang kamu pikirkan" terang Juan. "Lalu aku harus berpikir apa kak" tanya Saira sudah mulai berkaca kaca. "Kakak sudah membohongi ku berapa kali" seru Saira.


"Apa aku boleh marah, apa aku boleh kecewa?" ujar Saira menahan tangis. "Bukan seperi itu yang" Juan mulai melunak. "Kamu boleh marah dan kecewa tapi lihat dulu apa yang terjadi" ujar Juan.


"Sebenarnya kakak sedang membantu Helena.." Juan terdiam sebentar. " Membantu Helena lepas dari suaminya yang jahat. Helena sudah tidak kuat dengan rumah tangganya, tidak ada yang peduli, lalu kakak iba dengannya dan ikut membantu Helena mencari bukti untuk bisa bercerai dari suaminya. Maka dari itu Helena minta tolong sama kakak" jelas Juan.

__ADS_1


"Kenapa harus kakak" tanya Saira. " Ya karena yang lain tidak peduli bahkan orang tuannya pun" jawab Juan terbata bata.


"Lantas kakak yang harus peduli dengan rumah tangga orang, mengorbankan aku yang istrinya sendiri" Saira mulai emosi dan tiba tiba Saira berpegangan pada kursi makan dan memegang kepalanya.


" Sayang, kamu tidak apa apa. Sudah kamu istirahat saja jangan banyak pikiran. Percaya sama kakak, tidak ada apa apa kakak dengannya" Juan meyakinkan.


Saira.


" Sudahlah kak, aku juga lelah harus memikirkan itu terus, sekarang aku harus mengalah untuk kesehatan bayiku walau aku harus memendam rasa ini" ujar Saira menyudahi petengkaran.


"Ya sekarang kamu jangan marah marah ya, kasian bayi kita. Kakak minta maaf sekali lagi" Saira mengangkuk walau sebenarnya masih sakit tapi biarlah waktu yang menjawab.


Setelah mengantar Saira ke kamar utama, terdengar suara bel pintu.


"Ibu" sapa Juan langsung mencium tangan ibu. "Iya nak Juan ibu datang untuk menemani Saira, nak Juan tidak keberatan kan" tanya ibu. "Tentu tidak ibu, Juan malah senang selama Saira dirumah ada ibu yang menjaganya" jawab Juan.


"Saira mana Juan" tanya ibu melirik kesetiap sudut ruangan.


"Terima kasih ibu, maaf sudah merepotkan ibu" jawab Juan sungkan. "Tidak merepotk an kok, ibu senang" sahut ibu sembari beranjak ke dapur.


"Ibu, maaf Juan tinggal ke kamar, ibu kalau mau istirahat ada kamar di sebelah sini, ibu bisa istirahat di kamar bu" ujar Juan. "Baik" sahut ibu tersenyum.


Juan masuk ke kamar melihat istrinya sudah mau tidur di kamar utama Juan merasa senang dan mendekati untuk tidur di samping Saira.


"Hah, sudah sore aku ketiduran lama sekali" gumam Saira. "Ada apa yang" Juan ikut terbangun merasakan ada gerakan di sampingnya.


"Kak, ibu sebentar lagi mau datang aku malah ketiduran" Saira khawatir. "Ibu sudah datang dari tadi kok sayang, tadi sebelum kakak masuk kamar ibu sedang di dapur" terang Juan yang masih ingin rebahan.


Saira langsung beranjak dari tempat tidur untuk menemui ibu.


"Ibu, sudah datang" sapa Saira menghampiri ibu yang sedang memasak. "Ibu masak apa" tanya Saira yang sudah mencium aroma harum masakan.

__ADS_1


"Ibu masak sayur dan ikan sayang, kamu harus banyak makanan yang kaya protein untuk bayi kamu juga" ujar ibu. "Terima kasih ibu, kalau ibu di sini terus bisa bisa aku dan kak Juan jadi gemuk makan terus" seru Saira tertawa. "Kamu bisa saja" sahut ibu yang ikut tertawa.


Juan lega setelah beberapa hari tidak melihat Saira tertawa lepas seperti sekarang. " Semoga dengan adanya ibu Saira bisa menjaga emosinya dan senang moodnya" gumam Juan mengintip dari pintu kamar.


Ibu merapikan dapur setelah selsai masak dan masuk ke kamar untuk membersihkan diri karena akan masuk waktu magrib.


"Bu, biar Saira saja yang merapikan makanannya" Saira mencoba membantu ibu tapi ditolak ibu"


"Sudah kamu sana panggil suami mu, kita makan bersama, biar ini sama ibu" tolak ibu. "Baik bu" patuh Saira.


"Kak, ayo makan, ibu sudah menyiapkan makanan buat kita" seru Saira. "Iya sayang" Juan menyimpan ponselnya di meja dan mengikuti Saira ke meja makan.


"Ini ibu yang masak semua" tanya Juan melihat sudah banyak makanan tertata di meja makan. "Iya nak Juan, tenang kalau ada ibu nak Juan sama Saira bisa pesan makan apa saja" ujar ibu.


"Ibu kita ini cuma berdua sama ibu jadi bertiga tapi menunya seperti satu keluarga besar saja" Saira pura pura protes padahal dia sudah ingin mencicipi masakan ibu.


"Ibu buatkan khusus karena sedang hamil jadi harus banyak makan" sahut ibu. "Tapi tidak segini juga bu" Saira melirik Juan yang di tatapnya hanya tersenyum.


"Tuh Ra, apa kata ibu kamu harus banyak makan jangan diet diet terus" tambah Juan.


"Ish, apa sih kak, mau punya istri gendut" Saira memanyun bibirnya.


"Sudah, sudah ayo kita makan" ibu melerainya.


Selesai makan Saira menonton TV di ruang tengah bersama ibu sembari berbincang.


"Bu aku tidurnya sama ibu ya" pinta Saira manja. "Saira ingat sekarang kamu sudah punya suami, jangan samakan seperti dulu" . sanggah ibu.


"Tapi aku pengen sama ibu tidurnya" Saira kenapa kamu jadi manja seperti ini. "Sudah sana masuk kamar, ibu juga mau masuk kamar" ujar ibu.


Selain Saira ingin kangen kangenan sama ibu dia juga masih ingin menghindar dari suaminya.

__ADS_1


__ADS_2