Adakah Cinta Di hatimu

Adakah Cinta Di hatimu
Bab 7


__ADS_3

Untuk mengisi kekosongan waktu karena belum masuk kuliah Saira membantu ibunya berjualan dan bila sabtu dan minggu waktunya bermain dengan Juan entah itu hanya di rumah saja atau pergi keluar.


" Yang, minggu depan orang tua kakak akan datang mengunjungimu ya." Ucap Juan. "Oh, ya ada apa kak?" tanyanya bingung.


"Kakak sebelumnya sudah pernah bilang sama kamu, kalau keluarga kakak akan datang untuk melamar kamu untuk tunangan." Jawab Juan


"Kok, cepat sekali kak, bukannya bulan depan acaranya kakak bilang." tanya Saira bingung.


"Kakak tidak mau saat kamu berangkat ke Bandung kuliah kamu belum ada ikatan apapun sama kakak. Biar teman atau orang lain yang ingin mendekatimu tahu jika kamu sudah ada yang mengikat." Jawabnya serius.


Saira menahan untuk tidak tertawa mendengar ucapan Juan, karena terdengar lucu.


"Kak Juan itu lucu sekali sampai segitunya. Memangnya aku di sana mau apa bermain, cari jodoh, aku kan di sana untuk belajar cari ilmu kak, supaya kelak aku bisa merubah nasib keluargaku." Saira dengan tersenyum.


"Kak Juan serius yang, mana tahu di sana ada laki laki yang ingin menggoda mu, pokoknya kamu tahu keluargaku datang saja." Jawab Juan.


"Tapi kan kak aku harus memberitahu ibu dulu dan harus mempersiapkan segala sesuatunya." Saira masih membantah. " Kalau memberitahu ibu biar kak Juan saja yang bilang, dan kamu tinggal mengurus persiapannya saja." Juan meyakinkan.


"Baiklah, kalau itu maunya kak Juan. Mudah mudahan ibu dan ayah setuju."Jawab Saira pasrah.


"Nah, gitu dong. Itu baru Sairaku." Juan tersenyum.


Saira sudah tidak bisa membantah lagi jika Juan sudah memiliki keinginan.


Setelah jalan jalan Juan mengantar Saira pulang. Sesampainya di rumah Saira menghampiri ibu yang masih berkutat di dapur.


"Assalamualaikum. bu..ibu.."Ucap Saira sambil mencari ibu ke setiap ruangan.


"Waalaikumsalam, ibu di dapur, ra." Jawab ibu sambil membersihkan tangan.


"Bu, Kak Juan ingin berbicara sama ibu. Ada yang mau di sampaikan ke ibu." Ucap Saira.


"Ada apa nak Juan, sepertinya ada yang penting." Tanya ibu. " Bu, Insya Allah minggu depan orang tua saya akan datang ke sini melamar Saira untuk tunangan." Ujar Juan.


Ibu terdiam sejenak sambil melirik Saira. Dan Saira pun mengangkat bahunya.

__ADS_1


"Minggu depan apa tidak mendadak nak Juan." Tanya ibu lagi. "Tidak ibu, lebih cepat lebih baik sebelum Saira berangkat kuliah ke Bandung.


"Oh, baiklah jika seperti itu, ibu ikut kalian saja bagaimana baiknya saja, nanti ibu sampaikan ke ayah." Ujar ibu.


"Terima kasih bu." Ucap Juan tersenyum lega.


Setelah berbicara dengan ibu. Juan berpamitan pulang.


"Juan, pamit pulang ya ibu. Juan akan berbicara lagi ke papah dan mamah untuk mempersiapkan acara tunangan minggu depan. " Ucap Juan sembari mencium tangan ibu.


"Iya nak Juan, hati hati dijalan." Ujar Ibu.


"Ra, kak Juan pulang ya, sampai ketemu minggu depan." Ucap Juan.


"Iya kak, sampai ketemu lagi." Ucap Saira tersenyum.


Saira bersama ibu dan ayah mendiskusikan tentang pertunangannya minggu depan, dan ibu sibuk untuk menyiapkan untuk hidangannya nanti.


Sedangkan di rumah Juan disibukan oleh mamah Sinta dan Jenita untuk mempersiapkan bawaan untuk di bawa ke acara tunangan Juan dan Saira.


"Sudah kakak tenang saja, ini urusan wanita. Kakak duduk manis saja tinggal siapkan ATM nya saja kepada kami. " Jenita sambil tekikih.


Huft...Juan menghela nafas.


Dan hari tunangan pun tiba. Di kediaman Saira. Ibu dibantu adik ibu, bibi Rina sedang sibuk menyiapkan hidangan dan merapikan ruangan. Sedangkan ayah sedang berbincang dengan suami bibi Rina sambil menunggu tamu keluarga Juan.


Di kediaman Juan juga nampak sibuk, mamah dan Jenita begitu heboh. Mulai dari hantaran dan baju serta riasannya yang tak ketinggalan di absen terus.


"Mah sudah siap" Tanya papah kesal melihat dari tadi mamah dan Jenita masih sibuk dengan dandanannya.


"Sebentar pah," Ujar mamah yang masih merias diri dan merapikan pakaiannya.


"Ck, lama sekali sih kalau wanita berdandan." Kesal papah. "Juan, nanti kamu kalau sudah menikah akan merasakan apa yang papah rasakan." Juan langsung mengernyit. "Menunggu istri siap siap berangkat kamu bisa sambil merokok atau main tenis dulu," Juan langsung paham yang papahnya ucapkan.


Kemudian keluarga Juan berangkat ke rumah Saira di temani beberapa saudara dari keluarga papah dan mamah Juan.

__ADS_1


Rombongan keluarga Juan telah sampai ke rumah Saira yang disambut oleh keluarga Saira dengan senang.


"Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam.." Jawab keluarga Saira bersamaan. "Silahkan masuk bapak ibu.." seru ibu kepada keluarga Juan.


"Terima kasih.." mamah sinta tersenyum sambil bersalaman.


"Mari Silakan duduk...mohon maaf atas ketidaknyamanannya bapak ibu beginilah rumah kami yang sederhana ini." Ucap ayah merendah.


Dan acara pun dimulai dr sambutan dr kedua belah pihak.


"Mohon maaf sebelumnya atas kehadiran kami yang mendadak ini saya selaku perwakilan dari keluarga bapak Tirta Pratama ayah dari putra kami yang bernama Juan Pratama yang mana sudah lama mengenal saudari Saira. Sehubungan dengan itu kami mempunyai niat untuk melangkah ke tahap selanjutnya yaitu melamar putri dari bapak Rudi Suswono yang bernama Saira Putri Atmaja. Apakah permintaan kami diterima oleh bapak dan ibu Rudi?" Tanya dari paman Juan yang mewakili pembicara keluarga papah Tirta.


"Baiklah, saya ucapkan terima kasih atas kehadiran bapak dan ibu Tirta selaku orang tua dari nak Juan beserta keluarga. Memang betul putri kami Saira sudah lama mengenal nak Juan dan sering berkunjung, untuk menjawab maksud kedatangan keluarga bapak Tirta untuk bertunangan saya serahkan kepada putri saya langsung." Saira apakah mau menerima Juan Pratama untuk bertunangan dengan mu nak?" Tanya ayah.


Saira diam sejenak merasakan gugup dan tegang dan tak lama langsung mengangguk tanda setuju.


"Iya, ayah Saira terima." Jawab Saira malu.


"Alhamdulillah.." Jawab serempak.


Setelah acara inti selesai, dilanjut ramah tamah dan saling berbincang antar keluarga.


"Bu Rani kapan kapan main ke rumah. Saya sangat berharap ibu dan bapak main silahturahmi ke rumah, saya suka cari teman untuk ngobrol atau kita praktek buat masakan. Saira bilang ibu Rani suka masak dan membuat kue yang enak enak ya, saya jadi ingin mencobanya bu." Ajak mamah Sinta semangat.


"Insya Allah bu, kalau ada waktu saya akan berkunjung ke rumah bu Sinta." Wajah ibu Rani tersenyum hangat.


"Pak Rudi dan keluarga untuk tahap selanjutnya yaitu ke jenjang pernikahan untuk waktunya saya akan kembalikan kepada Juan dan Saira untuk kesiapannya. Tapi menurut kami orang tua lebih cepat lebih baik. Ujar papah Tirta dengan semangat.


"Saya juga demikian pak Tirta, saya serahkan kepada putra dan putri kita karena mereka yang akan menjalankan pernikahan ini." Ayah Rudi sambil tersenyum.


Juan tersenyum bahagia, tapi berbeda dengan Saira yang tampak masih berfikir karena mengingat usia Saira yang masih tergolong muda untuk menikah.


Acara demi acara telah dilewati dan acara pun selesai Juan dan keluarga pamit untuk pulang.

__ADS_1


Di jalan Juan merasa senang karena sudah melewati satu tahapan hubungan dengan Saira karena merasa lega jika Saira berada jauh darinya.


__ADS_2