
Saira dan ayah telah sampai ke rumah. Meraka langsung menurunkan barang barang yang di bawa Saira, setelah selesai ayah langsung mengembalikan mobil pinjamannya ke pak Ahmad.
"Bu aku langsung ke kamar mau istirahat" Ujar Siara. " Iya nak, kamu istirahat saja, nanti ibu suruh ayah istirahat juga kalau sudah pulang dari pak Ahmad" sahut ibu.
Saira masuk ke kamar dan meletakan barangnya kemudian Saira langsung berbaring di ranjangnya. Tak terasa Saira memejamkan matanya hingga tertidur karena lelah.
Ponsel Saira pun berbunyi tapi tidak di angkat karena Saira sudah terlelap tidur.
Juan kesal karena Saira belum mengabarinya sampai sekarang dan teleponnya juga tidak di angkat. Akhirnya malamnya Juan datang ke rumah Saira.
"Assalamualaikum"Juan mengetuk pintu rumah Saira. "Wa'alaikumsalam, iya sebentar" sahut ibu.
Ceklek.
"Oh nak Juan" ucap ibu. Juan langsung mencium tangan ibu. "Saira ada bu" tanya Juan langsung.
"Ada, di kamarnya dari tadi belum keluar kamar mungkin kelelahan. Silahkan duduk dulu nak Juan ibu akan memanggil Saira di kamarnya" langsung dijawab anggukan dan senyuman oleh Juan.
Ibu mengetuk pintu kamar Saira beberapa kali, dan akhirnya Saira membukakan pintu dengan lemas. "Ada apa ibu" tanya Saira sembari menyenderkan kepalanya ke pintu. "Ada nak Juan sedang menunggumu diruang tamu, kamu kenapa nak kok pucat sekali wajahmu" tanya ibu khawatir.
"Tidak apa apa bu hanya pusing saja. "Apa ibu bilang saja kamu tidak enak badan" pinta ibu. "Tidak usah bu nanti Saira ke sana menemui kak Juan" sahut Saira.
Saira berjalan gontai menenemui Juan yang sudah menunggunya.
__ADS_1
"Kak, sudah lama menunggu" tanya Saira dengan wajah pucatnya. Juan tidak menjawab langsung memperhatikan Saira yang terlihat lemas. "Kamu kenapa sayang, wajahmu pucat" juan menempelka tangannya ke kening Saira. "Badanmu juga panas, kamu sakit" cemas Juan.
"Tidak apa apa kak, aku cuma sedikit tidak enak badan" Saira mencoba tersenyum. "Tidak apa apa bagaimana, lihat wajahmu saja pucat seperti itu. Kakak bawa kamu ke dokter ya" pinta Juan. "Tidak usah kak nanti juga sembuh sendiri asal banyak istirahat saja. "Ish kamu kalau dikasih tahu sukanya menolak saja, cepat ganti bajumu dan pakai baju hangat! perintah Juan yang sedikit membentak. Saira sedikit terdiam. "Ayo tunggu apalagi nanti keburu malam" Juan mengajaknya lagi. "Ada apa nak Juan" ibu yang mendengar dari dalam langsung menghampiri.
" Bu boleh Juan mengantar Saira ke dokter bu?
Saira sepertinya sedang kurang sehat" izin Juan. "Iya boleh nak, memang pulang dari Bandung tadi Saira tidak keluar kamar lagi dan ibu melihat tadi wajahnya sudah pucat. Anak itu kalau sakit tidak pernah bilang dan tidak mau di bawa ke dokter" Ujar ibu.
Saira sudah siap dan sedikit kesal karena Juan malah marah marah. "Sudah siap" tanya Juan dan Saira hanya menganguk. " Bu kami pamit ke dokter dulu ya" izin Juan kepada ibu. "Iya, hati hati nak" ucap ibu.
"Loh, mau pada kemana mereka bu? tanya ayah heran. "Saira pak sedang tidak enak badan, Juan membawanya ke dokter untuk diperiksa" terang ibu.
" Kasian Saira mungkin dia kecapean bu harus bolak balik dan beres beres tadi dikosannya" ujar ayah yang ikut khawatir juga.
Di saat Juan sedang memilih makanan ringan di rak tak sengaja ada seorang wanita paruh baya menghampirinya.
"Juan" benar kamu Juan kan" tanya wanita paruh baya tersebut. "Iya tante" jawab Juan. "Sudah lama tidak bertemu dengan kamu Juan, kamu semakin gagah sekarang" Ujar wanita tersebut dan Juan hanya tersenyum.
"Bagaimana kabarmu Juan" tanyanya lagi. "Alhamdulillah baik tante. "Tante sendiri bagaimana kabarnya, dan om Alex juga? Wanita itu langsung terdiam dan menampakan wajah sedih. "Tante baik Juan, Ah sudah ya Juan tante duluan ke kasir sudah ditunggu om di mobil". "Baik tante salam untuk om ya". "Iya, nanti tante sampaikan". sambil meninggalkan Juan sendiri.
"Kok lama kak" tanya Saira yang sudah menunggu lama. "Oh tadi antre dikasirnya banyak penggunjung". Bohong Juan. "Oh" sahut Saira singkat.
Saira dan Juan sudah kembali lagi ke rumah dan disambut oleh ayah dan ibu.
__ADS_1
"Bagaimana nak, apa kata dokter" ibu khawatir. "Cuma kecapean saja ko bu" sahut Saira.
"Tekanan darahnya rendah bu dan ada sakit di lambungnya juga" timpal Juan.
"Sepertinya kamu kecapean nak harus bolak balik bandung dan suka telat makan terus" ucap ibu.
" Ra kakak pulang dulu, kamu banyak istirahat ya jangan kecapean" ujarJuan. "Bu, yah Juan pulang dulu ya sudah malam" pamit Juan. Terima kasih nak Juan sudah mengatar Saira ke dokter" ujar ayah. "Sama sama yah" Juan tersenyum dan mengangguk pergi.
"Saira sayang makan dulu ya, ibu buatkan bubur untukmu setelah itu langsung minum obat" ujar ibu. "Iya bu tapi sedikit saja ya Saira tidak begitu lapar" sahut Saira. "Iya asal kamu makan perutnya tidak kosong" tambah ibu.
Setelah menghabiskan makanan dan meminum obatnya Saira beranjak ke kamar dan berbaring di kasur. Obat yang Saira minum ada yang mengandung obat tidur yang menyebabkan Saira langsung tertidur.
Keesokan harinya Saira meresa sudah lebih baik dari sebelumnya. Badannya sudah tidak panas lagi.
"Alhamdulillah, badanku sudah tidak panas lagi" gumam Saira senang. Saira langsung merapikan kamarnya dan melanjutkan merapikan barang barang yang kemarin belum sempat di bereskannya. Ketika Saira sedang beres beres ibu datang ke kamar Saira dan kaget.
"Saira kamu jangan capek capek dulu nak, kamu kan sedang sakit" tanya ibu. "Saira sudah mendingan ibu nih sudah tidak panas lagi" Saira menarik tangan ibu dan menempelkannya di kening Saira. "Tetap saja kamu harus banyak istrihata ini nanti lagi saja rapikannya biar nanti sama ibu bantu merapikannya, sekarang kamu istirahat saja" ujar ibu memperingati Saira.
"Baik ibuku yang baik" Saira terseyum dan langsung berdiri kembali. "Ayo makan dulu, mau ibu bawakan ke kamar atau mau makan bersama" tanya ibu. "Makan di luar saja bu sama sama, bosan di kamar terus" jawab Saira.
"Ya sudah ayo" ajak ibu. Saira berjalan mengikuti ibu dibelakang menuju meja makan. Di saat Saira sedang menyuapkan makanannya ke mulut ibu mengajak Saira ngobrol.
"Ra, apa kamu suka bercerita dengan kakakmu"? tanya Ibu tiba tiba. Saira yang hendak memasukan sendok ke mulut jadi terdiam. Saira memang jarang beecerita tentang pribadi kak Safa. "Jarang bu, terakahir sudah lama sekali bertemu" ucap Saira.
__ADS_1
"Ibu tidak melarang kamu untuk bertemu papahmu apalagi kamu perempuan yang suatu saat kamu juga pasti memerlukan restu dan wali dari nya" ujar ibu. Saira mencerna perkataaan ibunya.