
Sely memperhatikan rambut Saira yang masih terlihat agak basah dan matanya yang terlihat kurang tidur.
"Siapa yang bergadang mbak Sely" Saira mengelak. "Suami mu atau kamu yang semangat hingga malam sampai basah basahan paginya" Sely melirik rambut Saira dan Saira reflek memegang rambutnya. Saira tersenyum malu sudah ketahuan oleh Mbak Sely langsung mengalihkan pada kerjaannya.
Rey yang sengaja melewati meja kerja Saira ingin memastikan Saira baik baik saja. Rey lega karena wajah Saira terlihat baik terlihat dari senyuman Saira saat menyapanya.
"Selamat pagi pak Rey" sapa Sely dan Saira bersamaan. "Pagi" jawab Rey melewati Mereka. Saira dan Sely melanjutkan pekerjaannya hingga waktu menunjukan pukul 5 sore.
"Aku duluan ya mbak Sely" pamit Saira pulang duluan, Sely masih ada pekerjaan yang belum selesai. kemudian Rey dan Adrian pulang sembari melirik meja kerja Saira yang sudah kosong. "Ternyata sudah pulang" Rey bermonolog dalam hati.
Pada saat memasuki usia tujuh bulan, Saira sudah diantarkan Juan ke rumah ibunya karena akan mengadakan syukuran tujuh bulanan yang diadakan di kediamannya ibu Rani.
"Yang, kamu jangan kecapean biarkan nanti ada yang mengurus segala persiapan syukurannya" Juan mengkhawatirkan Saira dan menyerahkan urusannya ke pihak pengatur acara dan urusan catering di serahkan ke ibu dan mamah.
"Iya sayang" jawab Saira. Juan dan Saira selama menginap di rumah ibu berangkat kerja langsung dari rumah ibu.
" Yang nanti kita lihat souvernir untuk acara syukuran ya setelah pulang kerja. "Iya, siap yang" sahut Juan yang masih menyetir mobil menuju kantor mereka.
Di kantor Saira mengundang teman kerjanya yang dekat saja.
"Mbak Sely nanti hadir ya ke acara syukuran tujuh bulanan aku tapi sekarang di tempat ibu ku acaranya" "Iya insya Allah Saira semoga tidak ada halangan pas acaranya" sahut Sely.
"Ra, perut kamu sudah kelihatan besar sekali" ucap Sely memegang perut Saira. "Iya mbak" Saira tersenyum. "Sudah terlihat jenis kelaminnya" tanya Sely.
Deg
"Belum mbak" jawab Saira. "Kenapa, memang posisinya belum kelihatan sampai sekarang" Saira hanya menggeleng kepala. "Kalau dulu aku hamil anak pertama usia empat bulan saja sudah langsung kelihatan dokter bilang bu anaknya perempuan, tapi kalau perempuan masih 50 % kemungkinan karena takut tidak terlihat sempurna. Kecuali laki laki kemungkinan benarnya besar.
__ADS_1
"Tapi pas lahir alhamdulillah benar perempuan" ujar Sely.
"Oh begitu ya mbak" Saira mengangguk angguk. "Iya Ra. sahutnya. "Maaf mbak memang suami dan mertua mbak pas mbak Sely hamil tidak menginginkan jenis kelamin tertentu.
" Tidak Ra, alhamdulillah suami aku apa saja yang penting aku dan bayiku sehat jadi fine fine saja" jawab Sely.
"Berhubung mertua aku tinggal bapak saja jadi tidak banyak permintaan. "Kamu enak Ra, ibu dan bapak mertuamu masih lengkap anak mu kelak masih merasakan kasih sayang nenek dan kakeknya yang lengkap" ujar Sely. "Qodarulloh mbak Sely.
Mereka melanjutkan pekerjaan masing masing hingga waktu menunjukan jam istirahat.
"Ra, ayo kita ke kantin" ajak Sely. "Iya mbak sebentar lagi" Saira merapikan meja kerja sebelum ke kantin. "Mbak Sely mau pesan apa" tanya Saira sembari memilih menu juga. "Aku ikan saja Ra" jawab Sely menunjuk Ikan yang ada di menu sajian. Saira pun sama menunya karena sering makan yang berkaitan dengan ikan atau daging selama hamil.
Selesai makan Saira kembali ke tempat kerjaannya dan menyelesaikan pekerjaan Saira hingga waktu pulang tiba.
"Ra, kmu sudah di jemput" tanya Sely. "Belum mbak mungkin masih di jalan. "Ya sudah aku duluan ya" pamit Sely. Saira pulangnya sudah janjian dengan Juan akan pergi ke tempat souvernir untuk pengajian.
Saira menunggu Juan di lobi kantor teman temannya satu persatu meninggalkan kantor menyisakan satpam yang sedang berjaga.
"Belum di jemput bu Saira" panggil pak satpam berubah karena sudah melihat Saira sedang hamil. "Belum pak, ini masih menunggu" jawab Saira. Tak lama Juan datang dan langsung turun karena khawatir Saira sudah menunggu lama.
" Maaf yang kamu jadi menunggu lama" ujar Juan membantu Saira menaiki mobil. "Tidak apa kak, nunggunya masih di kantor kok, aman" Jawab Saira.
"Kita langsung ke tempat souvernir nya ya biar tidak kemalaman" seru Juan. "Iya kak" sahut Saira. Setelah memilih souvernir Saira dan Juan langsung pulang ke rumah.
"Assalamualaikum" ucap Saira dan Juan masuk ke rumah ibu. "Walaiakumsalam, baru pulang nak" tanya ibu. "Tadi pulang kerja mampir ke tempat souvernir dulu bu, tadi sudah dipesankan insya Allah lusa di kirim ke sini" jawab Saira.
"Ya sudah kalian istirahat dulu, ibu sudah menyiapkan makan malam, nanti kita makan sama sama" ujar ibu. "Iya bu" sahut Saira dan Juan.
__ADS_1
Di kamar Juan mengganti pakaiannya dengan pakaian santai begitu pula Saira yang sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian dasternya yang ternyaman kalau di rumah ibu.
"Kak, aku keluar duluan ya mau lihat ibu siapa tahu ada yang perlu di bantu" ujar Saira. " Iya yang, kamu duluan saja kakak mau rebahan dulu" jawab Juan yang sudah duduk di kasur sembari menyandar.
"Bu, masih ada yang harus di siapkan" Saira mendekati ibu di dapur. "Sudah nak, sudah beres tinggal kamu panggilkan ayah dan suamimu saja kita makan bersama.
"Baik bu" Saira pergi ke ruang tengah mencari ayah, kemudian ke kamar Saira. "Kak, ayo kita makan sudah di panggil ibu"Juan langsung mematikan ponselnya dan beranjak dari kasur mengikuti Saira ke arah meja makan. Di sana sudah berkumpul ayah dan ibu.
"Ayo nak Juan kita makan" ajak ayah. "Iya yah" Juan duduk di kursi makan. Saira menyiapkan piring dan mengambilkan nasi dan lauknya untuk Juan.
"Bagaimana nak Juan persiapan tujuh bulanannya?" tanya ayah. "Kalau Juan sudah menyerahkan ke pihak acara yah biar tidak repot, sedangkan catering Juan serahkan ke ibu dan mamah" jawab Juan.
"Ibu sudah berdiskusi dengan mamah Sinta dan sudah siap menu yang akan di sajikan nanti lusa" terang ibu.
"Ya syukurlah, kamu jangan kecapean ya Ra. Biarkan mereka yang mengurusnya" ujar ayah. "Iya ayah" sahut Saira dan melanjutkan makan malam mereka.
"Yang, besok kakak pulang telat kamu tidak apa pulang sendiri" tanya Juan. "Tidak apa kak" aku bisa naik taxi online saja. Saira dan Juan berbincang sebentar hingga mereka tertidur.
Ke esokan harinya Saira di rumah ibu sedikit santai karena tidak menyiapkan sarapan semuanya dikerjakan oleh ibu.
"Bu aku bantu ya" tawar Saira. "Tidak usah nak, kamu siapkan saja perlengkapan suamimu kalau sudah selesai ajak suamimu sarapan. Ibu sudah sarapan tadi menemani ayahmu yang akan pergi kerja" ujar ibu melanjutkan pekerjaannya di dapur.
"Oh iya Ra, nanti mamah mertua mu siang kesini mau menyiapkan catering bersama ibu" imbuh ibu. " Baik bu" Saira kembali lagi ke kamar menyiapkan keperluan Juan.
"Kak, ini pakaian kerjanya sudah aku siapkan" ujar Saira. Juan baru selesai mandi dan langsung memakainya.
"Ayah sama ibu tidak makan?" tanya Juan saat duduk di meja makan. "Ibu sudah makan tadi sama ayah dan ayah sudah pergi kerja pagi pagi" jawab Saira.
__ADS_1