
Saira mencoba berbicara pada ayah.
"Ayah" sapa Saira saat ayahnya duduk di kursi tamu. "Iya nak" sahut ayah. "Ada yang ingin Saira bicarakan.
" Ada apa nak?" sahut ayah heran tidak biasanya Saira bertanya dulu. "Duduklah nak" ayah langsung menepuk sofa tamu agar Saira duduk disebelahnya
Saira memulai pembicaraan dengan malu.
"Yah, sebenarnya ada yang ingin Saira sampaikan ke ayah" Saira menunduk ragu untuk mengatakannya. " Katakan saja Saira" ucap ayah. "Em..pah sebenarnya aku dan kak Juan akan segera menikah aku ingin meminta izin ayah dan ibu supaya merestui kami berdua" Terang Saira.
"Ayah selalu merestui apapun keputusan dan keinginan mu asalkan itu baik dan demi kebahagiaanmu nak.
Pikirkan yang sangat matang keputusanmu nak, jangan sampai menyesal dikemudian hari" Ayah memberikan nasihat terhadap Saira agar tidak menyesal dikemudian hari" ujar ayah.
"Baik yah" jawab Saira terenyuh.
"Ajak Juan menemui ayah supaya ayah bisa berbicara langsung pada laki laki yang akan mengambil tanggung jawab dari orang tuamu" ujar papah.
"Iya yah, kak Juan juga sebenarnya ingin menemui ayah tapi aku tahan dulu sebelum Saira berbicara terlebih dahulu pada ayah dan ibu. " Ok baiklah nak, nanti kamu dan Juan bisa menemui ayah. "Terima kasih Yah" Saira memeluk ayahnya, tak menyangka tidak serumit yang dibayangkan.
Saira kembali ke kantor, melanjutkan pekerjaannya karena jam istirahat sudah terlewatkan. Saira meminta izin datang terlambat ke atasannya karena ada keperluan. Perasaan Saira sekarang lega karena sudah bertemu dengan papah kandungnya yang selama ini terpisah.
" Saira" panggil Sely.
"Iya, mbak Sely" sahut Saira. " Dari mana kamu kok baru datang" tanya Sely heran karena meja kerja Saira kosong dari jam istirahat selesai.
"Maaf mbak Sely saya izin telat tadi ke pak Adrian karena ada sedikit keperluan pribadi" terangnya.
"Oh, ya sudah tidak apa apa, aku pikir kamu pulang cepat" ujarnya.
Waktu sudah menunjukan pukul 5 sore, Saira merapikan meja kerja nya dan bersiap pulang. Di saat Saira akan pulang di depan kantor Juan sudah menunggu.
"Kak Juan, kok tidak kasih kabar dulu mau jemput?" tanya Saira. "Tadi kakak pulang cepat dari kantor jadi bisa jemput kamu pulang kerja" imbuhnya.
"Ya sudah ayo masuk" ajak Juan masuk ke dalam mobil.
"Siapa laki laki itu yang sering menjemput Saira?" gumam seseorang yang memperhatikan Saira.
Di perjalanan.
"Yang tadi kamu sudah berbicara pada ayah?" tanya Juan. "sudah kak" sahutnya.
__ADS_1
"Bagaimana, apa pendapat ayah?" tanya Juan.
"Ya, begitu" ucap Saira menggantung.
"Begitu bagaimana?" Juan makin penasaran. " Ayah menyuruh kita untuk bertemu di rumah. Ayah ingin langsung mendengar dari laki laki yang akan menjadi suamiku kelak" ujar Saira. "Oh iya" kapan kita bertemu?" sahutnya. "Ya, kalau kak Juan ada waktu kita bisa kerumah" ujar Saira.
"Hari Sabtu ini kakak ke rumah, bagaimana yang?" tanya Juan.
"Ok" jawab Saira singkat.
Hari sabtu pun tiba, Saira menunggu Juan datang.
"Mau kemana nak, pagi pagi sudah rapi" tanya ibu. " Tudak kemana mana bu. kak Juan akan datang hari ini" ucap Saira dan ibu mengerut binggung tidak biasanya Juan kerumah di sambut oleh Saira.
"Hari ini kak Juan akan ada yang di bicarakan pada ayah bu" terang Saira. Ibu mengingat ingat lagi. "Oh itu. baiklah ibu juga akan ganti baju dulu" ibu yang masih menggunakan daster karena sedang di dapur.
"Baik bu" sahutnya.
Deru suara mobil Juan terdengar Saira langsung menghampiri Juan ke depan.
" Assalamualaikum" ucap Juan.
"Wa'alaikumsalam, ayo kak masuk" ajak Saira masuk ke dalam.
"Ayah, ibu" Juan berdiri menyalimi ayah dan ibu.
"Silahkan duduk" ayah persilakan duduk pada Juan.
Saira merasa masih kikuk disituasi seperti ini padahal ini bukan pertama kalinya Juan bertemu dengan bertemu dengan orang tuanya. Tapi karena hal yang serius yang ingin di bicarakan maka terkesan kaku.
"Ayah, ibu em.." Juan jadi ikutan kaku berbicaranya. Sebenarnya Juan datang kesini untuk berbicara pada ayah dan ibu akan niatan Juan untuk meneruskan hubungan Juan dengan Saira.
Berhubung Saira sudah lulus kuliah, Juan pun sudah bekerja dan kita juga berhubungan sudah cukup lama. Sekiranya ayah dan ibu mengizinkan dan memberi restu pada kita untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius lagi ayah dan ibu" jelas Juan mengumpulkan keberaniannya untuk berbicara pada ayah akan niatnya.
Ayah tidak langsung berbicara tapi melihat Saira dan ibu.
"Apakah benar Saira, apa yang dikatakan nak Juan ini?" tanya Ayah pada Saira.
"Benar ayah" jawab Saira sembari menunduk. Saira tidak berani menatap ayahnya takut rencananya terlalu mendadak.
"Bagaimana ibu?" ayah bertanya pada ibu. Dan ibu yang ditanya juga binggung karena keputusannya ada di ayah ibu hanya mengikutinya saja.
__ADS_1
Saira yang tadinya takut melihat ayah menjadi gemas.
"Ayah mengapa jadi bertanya lagi, sementara jawabannya dari ayah semua" gumam Saira hanya dalam hati.
Ayah sebenarnya agak keberatan jika Saira menikah untuk sekarang ini karena kakak Saira yaitu kak Safa belum menikah. Akan tetali mengingat Saira dan nak Juan sudah menjali hubungan sudah lama dan takut terjadi fitnah dan dosa maka ayah izinkan.
Dan satu hal lagi ayah hanya mengizinkan dan merestui anak ayah menikah dengan pria yang benar benar tulus menyayanginya.
Jika Saira sudah merasa cocok dan nak Juan adalah pilihannya. Ayah merestuinya, betulkan bu?" ayah kembali bertanya pada ibu.
"Iya ayah" jawab ibu tersenyum.
"Alhamdulillah, terima kasih ayah dan ibu. Semoga saja dengan niatan ini Juan akan bisa menjadi pasangan yang baik untuk Saira.
Saira pun senang sudah mengutarakan kepada ayah dan ibunya.
Setelah pembicaran yang serius dengan ayah dan ibu. Ayah meninggalkan ruang tamu dan kembali ke kamar di susul oleh ibu.
Juan lanjut berbincang dengan Saira dan pamit pulang karena sudah malam.
"Yang, kakak sudah lega karena sudah ada jawaban dari ayah. Sekarang kita tinggal memikirkan untuk kedepannya.
"Iya kak, aku juga lega. Semoga rencana kita kedepannya di permudah dan dilancarkan.
"Aamiin" jawab Juan.
Setelah kepulangan Juan Saira kembali ke kamar tetali sebelum masuk Saira dipanggil oleh ibu untuk menghadap ayah. Dan kebetulan di saat ayah akan berbicara suara kak Safa datang dari depan.
"Nah kebetulan kak Safa sudah datang" seru ayah. "Kemari kak duduk bersama disini!" ayah mengajak kak Safa duduk.
"Ada apa ini ayah, ibu" Safa yang baru datang menjadi binggung di ajak berbicara serius.
Ayah memberitahukan tentang pembicaraan tadi dengan Juan.
"Kalau kakak tidak apa ayah ibu. kakak tidak keberatan sama sekali. Justru kakak senang Saira ada yang mau serius" ujar kak Safa.
"Maafkan Saira kak sudah melangkahi kakak" ucap Saira tidak enak.
"Tidak usah meminta maaf Ra, memang sudah seharusnya seperti ini. Kamu dulu yang menikah baru kakak" ujar kak Safa.
berbidengan perasaan bahagia dan kelegaan.
__ADS_1
"Semoga saja ya Allah