Adakah Cinta Di hatimu

Adakah Cinta Di hatimu
Bab 51


__ADS_3

Juan menoleh ke sumber suara


"Mas Pram" seru Helen kaget.


"Ini yang kamu lakukan selama ini" tanya Pram sinis. "Bukan urusan mu" jawab Helen ketus. "Urus saja wanita wanita mu itu" tambah Helen.


"Helen sekarang sudah ada suamimu, sekarang aku akan menemui istriku" ujar Juan yang sudah tahu bahwa Pram adalah suaminya lalu meninggalkan mereka berdua dengan permasalahannya.


Juan pun setelah ini akan mendapatkan masalah baru, masalah kesalahpahaman.


"Saira kamu di mana" cemas Juan setelah menghubungi Saira tapi tidak di angkatnya.


Juan memukul setirnya karena kesal. Tiba tiba sebuah pesan diterima di ponselnya.


✉️ "Istri mu ada di rumah sakit nasional Jakarta".


Juan langsung pergi menuju tempat yang di kirim lewat pesan singkatnya.


Sesampaimya di rumah sakit Juan berlari menuju bagian pendaftaran.


"Sus, apa ada pasien yang bernama Saira..Saira Putri Atmaja" lengkap Juan. "Pasien yang baru saja tiba dengan keadaan pingsan" tambah Juan.


"Sebentar pak saya akan cek dulu. Pasien dengan nama Saira Putri Atmaja ada pak, pasien sekarang berada di ruang IGD sedang pemeriksaan. Bapak tinggal lurus saja lalu belok kiri ada tulisan ruang IGD" suster memberitahukan.


"Baik Sus, terima kasih" ucap Juan lalu pergi.


Juan masuk ke ruangan IGD dan mencari Saira, kemudian mendengar dari balik tirai.


"Ibu, jangan terlalu kecapean dan jangan banyak pikiran karena akan mempengaruhi janin ibu karena masih muda kehamilannya" ujar dokter yang memeriksa Saira.


Deg

__ADS_1


Juan sangat merasa bersalah mendengarnya. Ketika mendengar kabar gembira di saat moments yang tidak tepat.


Juan membuka tirainya pelan pelan dan melihat Saira sedang berbaring lemah.


"Sayang, maafkan kakak" ucap Juan mengecup tangan Saira tanpa menghiraukan pria yang ada diruangan tersebut.


Saira hanya bisa mengeluarkan air mata tanpa berbicara.


"Baiklah aku pergi Saira, kamu jaga diri baik baik" ujar Rey pamit pada Saira sebenarnya Rey masih ingin menemaninya tapi dia sadar ada yang paling berhak di sampingnya saat ini yaitu suaminya, iya suaminya yang membuatnya seperti ini.


"Saira, tolong bicara lah jangan menangis seperti ini. Kakak semakin bersalah kalau seperti ini.


"Permisi ibu, kami akan memindahkan ibu keruang perawatan semuanya sudah di urus oleh bapak" Juan menoleh ke suster tersebut.


"Siapa yang sudah mengurusnya, perasaan aku tadi datang hanya menanyakan Saira saja, apa jangan jangan pria tadi yang membawa Saira ke rumah sakit. Ada hubungan apa mereka sampai peduli terhadap Saira"gumam Juan dalam hati.


"Iya silakan sus" Juan mempersilakannya tidak ingin memperpanjang masalah yang sekarang harus dipikirkan adalah kesehatan Saira dan bayinya.


"Ibu silakan istirahat nanti akan ada dokter kandungan yang mengobservasi ke sini" ujar perawat. "Baik sus, terima kasih" ucap Saira pelan. "Kalau begitu saya permisi" pamit perawat.


"Sayang, kamu hamil" tanya Juan ingin mendengar langsung dari mulut Saira. Saira hanya menjawab dengan anggukan saja tanpa ekspresi. " Alhamdulillah, kakak senang mendengarnya. Maafkan kakak ya, kakak janji akan menjaga mu dan calon bayi kita" ucap Juan sembari memegang perut Saira tapi langsung di tepis Saira.


Kemudian terdengar suara ketukan pintu


tok tok..


Juan langsung membukakan pintu dan melihat orang tua Saira datang.


"Saira..kamu kenapa nak, bisa masuk rumah sakit, apa yang terjadi?" tanya ibu dengan beberapa pertanyaan.


"Saira hanya kelelahan saja bu" jawab Juan takut Saira menceritakan hal sebenarnya pada ibu dan ayahnya.

__ADS_1


"Ibu kan sering bilang kerjanya jangan terlalu capek..." ibu sudah mulai menasehati. " Ibu ada kabar gembira untuk kita" sela Juan. "Kabar gembira apa nak Juan" tanya ibu penasaran.


"Saira sekarang sedang hamil" jawab Juan tersenyum bahagia. "Benar itu nak" tanya ibu meyakinkan pada Saira. "Iya bu"Saira menjawab dengan senyuman.


"Alhamdulillah yah, sebentar lagi kita akan punya cucu" seru ibu pada ayah. Ayah pun sangat senang mendengarnya.


Tak lama kedua orang tua Juan juga datang ke rumah sakit setelah Juan tadi memberi tahukan mamahnya bahwa Saira masuk rumah sakit.


"Assalamualaikum" sapa mama Sinta. "Ya Allah Saira sayang kenapa bisa masuk rumah sakit" tanya mamah Sinta dengan heboh."Tenang dong mah, ini kan di rumah sakit" papah Tirta mengingatkan.


"Ini lagi kamu kak, kenapa Saira sampai masuk rumah sakit, pasti kamu tidak memperhatikan kondisi Saira" mamah Sinta sudah menduga duga. Saira melirik ke arah Juan. "Mah, Saira hanya kelelahan saja tidak apa apa" ujar Saira menenangkan. "Mbak, sebentar lagi kita mau punya cucu loh" imbuh ibu. "Serius mbak?" tanya mamah. "Iya betul, benarkan nak" ibu meyakinkan Saira menganguk tersenyum.


"Alhamdulillah" mamah langsung memeluk menantunya. "mamah sudah jangan terlalu menekan peluk Sairanya" protes Juan. "Iya iya, maafkan mamah sayang, mamah terlalu senang mendengarnya" seru ibu.


"Kamu sekarang mau makan apa atau ingin sesuatu bilang saja sayang" tanya mamah Sinta antusias.


"Tidak mah, Saira tidak ingin apa apa untuk sekarang" jawab Saira. "Baiklah, kamu banyak istirahat ya, nanti mamah sering sering tengok kamu di apartemen, bila perlu kamu tinggal sama mamah saja di rumah" ujar mamah Sinta.


Ibu melihat kedekatan Saira dengan mertuanya cukup dekat merasa senang ada yang melindunginya selain kedua orang tua dan Juan. Ibu merasa lega tidak khawatir lagi untuk melepas Saira.


"Mana bisa seperti itu mah, kan ada Juan yang menemani Saira" sela Juan tidak mau Saira tinggal di rumah mamahnya.


"Ini buktinya Saira sampai masuk rumah sakit" seru mamah. Juan sempat berpikir memang ini salahnya karena tidak peka akan perasaan dan kondisi Saira.


"Ya sudah nanti ibu yang menemai Saira di apartemen" ibu menengahi. "Ya baiklah, kalau ibu tidak keberatan" ujar Juan pasrah. "Bagaimana Saira" tanya Juan. " Saira sebenarnya tidak ingin merepotkan ibu, Saira baik baik saja" jawab Saira. " Tidak apa apa nak, ibu senang bisa menemani mu sampai kamu benar benar pulih" sahut ibu.


"Ya sudah nanti gantian saja ya mbak kita menjaga anak kita" seru ibu tak ingin ketinggalan menjaga Saira karena ini cucu pertama bagi mereka.


Saira sebenarnya senang ada ibu dan mamah mertuanya di rumah, tapi Saira masih marah tidak ingin bicara pada Juan akan tetapi Saira harus berusaha bersikap biasa saja agar ibu dan mertuanya tidak curiga bila mereka sedang ada masalah.


Saira masih harus istirahat di rumah sakit selama dua hari, selama dua hari itu juga Saira mengacuhkan Juan.

__ADS_1


"Kondisi ibu Saira sudah baik, tapi perlu diingat ya ibu terutama bapak sebagai suaminya harus diperhatikan makanannya dan jaga emosi ibu supaya tidak banyak pikiran" dokter memberikan saran. Saira langsung melirik Juan dengan mendelik.


__ADS_2