Adakah Cinta Di hatimu

Adakah Cinta Di hatimu
Bab 20


__ADS_3

Sementara Saira di kosan menunggu kedatangan Juan yang tak kunjung datang, dia sampai menolak ajakan Fika dan Tania pergi jalan jalan karena sudah ada janji dengan Juan yang akan datang hari ini. Karena lelah menunggu Saira tertidur.


Saira terbangun dengar suara ketukan pintu dan melihat jam sudah menunjukan pukul 5 sore.


Tok tok..


"Iya sebentar"


Saira membukakan pintu dan melihat seseorang yang dari tadi dia tunggu.


"Kak Juan"! Seru Saira. " Saira, maafkan kakak datang terlambat", Ucap Juan. Tadi kakak ada keperluan mendadak jadi harus menyelesaikannya dulu" , terang Juan berbohong. " Iya tidak apa apa kak", Saira tersenyum.


"Ya sudah masuk kak," Saira menyambut Juan senang. Juan meregangkan badannya setelah lelah menyetir, Juan sudah terbiasa jika datang ke kosan Saira langsung tertidur di kasur Saira. Saira tidak melarangnya karena Juan terlihat kelelahan. "Yang, kamu siap siap sebentar lagi kakak akan mengajak kamu keluar." Ujar Juan. " Iya, kak" tidak butuh lama Saira selesai berganti baju karena Saira selalu menggunakan baju santainya.


Di saat wanita lain bila di ajak pergi kencan dengan kekasihnya dia akan menggunakan berbagai macam aksesoris dan pakaian yang cantik dan mahal tapi tidak dengan Saira dia jarang membeli perlengkapan aksesoris hanya membeli seperlunya saja its simple.

__ADS_1


Mereka pergi mengelilingi kota Bandung dan mencari tempat makan yang nyaman untuk berdua. Bandung bukan hanya terkenal dengan kulinernya saja tapi tempat tempat indah juga banyak ditemukan di sana.


"Kak, apa kabar papah sama mamah di rumah?" tanya Saira. "Alhamdulillah sehat semuanya, mereka juga selalu menanyakan kamu yang, katanya sudah lama tidak bertemu dengan Saira kangen." Ujar Juan. "Aku juga kangen mamah sama papah, apalagi Jeni." Ucap Saira.


"Sama kakak tidak!" Juan pura pura mencebik kesal. "Mana ada aku tidak kangen kak Juan hampir setiap hari aku selalu mengingat kak Juan, cuma yang diingatnya tidak pernah menghubungiku." Saira yang menampilkan wajah sedihnya. "Ya ampun sayang tolong maafkan kakak ya, bukan kakak melupakan mu tapi beberapa waktu ini kakak sangat sibuk sampai sampai kakak pulang malam terus lembur" Jelas Juan.


"Iya kak aku mengerti, walau sebenarnya perasaan aku suka takut saja kalau kakak tidak menghubungi atau menemui ku. Takutnya kakak sudah menemukan pengganti aku." Ucap Saira. "Tidak sayang jangan bicara seperti itu percaya sama kakak, kakak tidak bisa banyak berkata tapi kakak akan buktikan langsung dengan perbuatan." Juan mengelus pipi Saira agar percaya dan dibalas anggukan oleh Saira.


Juan dan Saira menikmati hidangan dengan disuguhkan oleh pemandangan yang indah.


"Saira jika kamu sudah lulus kuliah bolehkan kakak mengajakmu langsung menikah". Tanya Juan dan Saira bingung harus menjawab apa. "Em..itu aku harus bertanya dulu pada ayah dan ibu kak", jawabnya. "Ya sudah kakak menunggu jawabanmu sayang".


Terkadang aku ragu akan ketulusan dia yang sering berubah ubah sikapnya. Ah, entahlah mungkin waktu yang bisa menjawabnya. Batin Saira bergemuruh bimbang.


"Ra, sayang kenapa kok melamun ada yang dipikirkan". Tanya Juan heran. "Oh tidak ada apa apa kak". Jawab Saira tersenyum. "Baiklah, kalau sudah selesai kita pulang, takut keburu malam". Ujar Juan. "Ayo kak". Saira beranjak dari kursi dan mengikuti Juan.

__ADS_1


Di saat Juan akan menyalakan mesin mobil ponsel Juan berdering, Saira melihat nama yang tertera diponselnya "Gwen". " Kak, mau diangkat". Tanya Saira. "Tidak usah yang, paling juga masalah kantor". Ucap Juan. "Tapi ponsel kakak bunyi terus takutnya ada yang penting." Kalau kakak bilang tidak usah ya tidak usah" Suara Juan meninggi. "Baiklah". Saira menunduk takut. "Maaf". Ujar Juan yang langsung menjalankan mobil dan dijawab anggukan Saira.


Di dalam mobil Saira hanya diam sambil menatap ke arah jendela dan tiba tiba teringat ada buku yang harus dicarinya untuk bahan referensi skripsinya.


"Kak, bisa tidak kita mampir ke toko buku S "? tanya Saira ragu. "Ck", desis Juan. Kenapa tidak dari tadi Ra, kamu kan tahu kita udah setengah jalan dari tempat buku itu", kesal Juan. "Maaf, aku baru ingat barusan kak". Saira menunduk tak berani menatap Juan. "Ya sudah kita putar balik". ketus Juan. "Tidak jadi kak besok saja, aku pulang kuliah bisa kesana mampir". Ucap Saira yang melihat Juan sudah berwajah dingin. Juan tidak menjawab hanya melajukan mobilnya memutar mengarah ke toko buku tersebut.


"Sudah sampai turun ayo cari buku yang akan kamu cari". Juan masih bersikap dingin. Saira hanya mengganguk dan berjalan memasuki toko buku tersebut. Di saat Saira sedang memilih milih buku Juan menghampiri Saira. " Sudah jam berapa ini, kamu mau berlama lama disini sampai tokonya tutup". Ucap Juan. Akhirnya Saira mengambil sebuah buku yang dianggapnya sama dengan judul skripsinya entah sesuai atau tidak yang penting ada buku yang harus dibeli dari pada harus melihat wajah Juan yang ketus itu.


Saira menyerahkan buku ke kasir dan Juan langsung menyerahkan uang ke kasir.


"Tidak usah kak, biar Saira yang bayar". sela Saira berusaha menolak uang Juan. Tapi Juan dengan cepat memberikan uangnya ke kasir. "Ayo cepat sudah selesai kan". Tanya Juan. "Sudah kak". Jawab Saira. Setelah melakukan pembayaran Juan dan Saira masuk ke dalam mobil dan Juan langsung menjalankan mobilnya menuju kosan Saira.


Di dalam mobil tidak ada yang memulai untuk berbicara hanya keheningan saja.


Juan hanya mengantar hingga depan halaman kosan Saira.

__ADS_1


"Ra, kakak pulang ya, kamu jaga diri baik baik. Dan maafkan sikap kakak tadi mungkin kakak capek banyak pikiran jadi terbawa emosi". Terang Juan. "Iya kak, kakak juga jaga kesehatan ya jangan terlalu capek". Ujar Saira. " Iya sayang". Juan langsung mengecup kening Saira sebelum pergi.


Mobil Juan sudah menjauh hingga tidak terlihat lagi, Saira masuk ke dalam kosan. Di dalam Saira duduk dan memandang photo dirinya dan Juan. "Apakah aku bisa terus bertahan dengan sikapnya yang seperti itu selalu emosi dan menyakitkan ataukah perasaan aku saja yang terlalu sensitif dan memang selalu salah". Saira bermonolog sambil memandang photo berdua dan tak terasa air mata jatuh begitu saja hingga Saira terlelap tidur.


__ADS_2