
Juan mengajak Saira keliling rumah 2 lantai tersebut.
"Ayo kakak tunjukan kamar kita di atas!" Juan mengarahkan Saira naik ke tangga lantai 2.
Ceklek..
Juan membukakan pintu kamar. Saira kagum melihat isi di dalam kamarnya sangat dia suka, sebenarnya tanpa sesuai keinginannya pun Saira tetap menyukainya karena suaminya sudah membuatnya bahagia. "Bagaimana sayang kamarnya? ini kamar utama buat kita disebelahnya ada kamar untuk Keanu. Kakak sengaja kamar kita berdekatan dengan kamar anak kita agar bisa memantaunya" jelas Juan.
"Bagus kak, aku suka dengan desainnya" puji Saira. "Syukurlah" Juan lega tidak sia sia dia meminta temannya untuk mendesain sedemikian rupa agar istrinya suka.
"Kamu kalau capek langsung istirahat saja yang. Nanti kalau mau makan kakak pesankan makanan" ujar Juan. "Iya kak" sahut Saira yang langsung merebahkan Keanu di ranjang tempat tidur. Saira masih tidak percaya dia pikir akan selamanya tinggal di apartemen ternyata Juan sudah memiliki rencana di luar prediksinya. Setelah menidurkan Keanu
Saira turun ke bawah mencari Juan.
"Kak, kak Juan!" panggil Saira. Juan berada ruangan bawah yang dipakainya untuk bekerja. Saira membuka satu persatu kamar yang ada di bawah dan menemukan Juan sedang mengerjakan pekerjaan dari rumah di satu ruangan.
Tok tok..
Ceklek..
"Kakak, aku pikir kakak kemana?" ucap Saira. Juan memanggilnya dan memerintahkan Saira masuk dan duduk di pangkuannya. "Ada apa kamu mencari kakak, kangen?" Juan menarik tangan Saira karena Saira hanya berdiri di dekat Juan.
"Ih, kakak mau apa?" Saira kaget Juan menariknya agar duduk di pangkuannya. "Tidak, hanya ingin bertanya saja" Saira gugup. "Keanu tidur? Juan berbicara tepat di telinga Saira karena Saira posisinya membelakangi Juan.
__ADS_1
"Iya" jawab Saira. Juan membalikan badan Saira menghadap Juan. Juan menarik tengkuk Saira dan menempelkan bibirnya ke Saira. Saira pun terhanyut dan ikut merasakan ci**mannya. Tangan Juan turun ke bawah menggengam gundukan favoritenya.
" Kak" Saira menghentikan ci**annya. "Kenapa Sayang" Juan merasa menggantung di saat dia sedang mencumb* istrinya.
"Nanti kak, jangan di sini malu" cegah Saira. "Memang kenapa kan tidak ada siapa siapa ini" Juan bersikeras mencium lagi Saira. "Jangan sekarang kak, masih sore" Saira masih malu malu. " Baiklah akan kakak tagih ya nanti malam" Juan menyeringai nakal. "Oh iya aku kesini mau bertanya apa kakak sudah memesan makanan untuk makan malam kita" tanya Saira.
"Ya ampun kakak sampai lupa, tadi kakak pikir kamu tidur bersama Keanu jadi kakak tinggal kesini untuk mengecek kerjaan" Juan menepuk keningnya lupa.
"Makannya jangan mesum dulu, baru aku mau ingatkan, kakak udah nyosor saja" kesal Saira tapi dia juga menikmati.
"Habis kamu bikin ketagihan yang" ujar Juan. "Ish" cebik Saira. "Y sudah kakak pesankan makanan, kamu mau apa?" Juan membuka aplikasi pesan makanan lewat ponselnya. "Juan memesan yang Saira pilih. "Ya sudah aku ke kamar ya kak, takut Keanu bangun" ujar Saira. "Iya" sahut Juan.
Mereka makan malam di rumah barunya.
"Kak, apartemennya berarti sekarang kosong?" tanya Saira. "Sekarang masih kosong tapi niatnya akan kakak sewakan saja" ujar Juan. "Iya kak sayang, dari pada kosong kan selain ada pemasukan juga ada yang membersihkannya" ujar Saira.
"Baik kak, terima kasih" sahut Saira senang.
Selesai makan Saira merapikan meja makan dan mencuci piring. Juan menemani Keanu sebentar sebelum tidur.
Saira menghampiri Keanu dan Juan di kamar. "Sudah yah main sama Deddynya sekarang Keanu tidur dulu sudah malam" ajak Saira memeluk Keanu dan menidurkannya di tempat tidur. Saira menidurkan Keanu hingga ikut terlelap. Juan yang melihatnya merasa kasian, tadinya akan membangunkannya tapi melihat istrinya terlihat capek Juan mengurungkannya.
"Tidur ya sayang, hari ini istirahat saja besok kakak baru menagihnya" kecup Juan. Juan ikut tidur bertiga di ranjang yang sama.
__ADS_1
Besoknya Juan siap untuk bekerja memulai aktifitas dengan suasana baru dan hati yang baru juga. Setelah melewati hari hari yang hampa tanpa istri dan anaknya.
"Kak, sarapan dulu" panggil Saira menghampiri Juan di kamar. Dan seperti biasa jika ada Saira Juan harus semua disiapkan. "Yang dasinya mana? yang kaos kakinya mana? itulah rutinitas setiap pagi jika Juan berangkat kerja walau semua sudah di siapkan oleh Saira tapi kurang afdol jika tidak ditunjukan oleh Saira langsung.
Dan Saira kadang merasa suaminya seperti bayi besar tapi Saira senang mungkin ini salah satu cara bentuk perhatiannya pada suaminya.
"Hei jagoan! Daddy berangkat kerja dl ya" ujarJuan. "Iya Daddy hati hati dijalan!" jawab Saira seperti suara bayi. Juan mengecup kening Saira dan Keanu sebelum berangkat.
Datang ke kantor wajah Juan tampak ceria. Pegawai maupun satpam tak luput dari sapaan dan senyuman Juan.
"Pagi" sapa Juan tersenyum. "Pagi pak Juan" yang lain merasa heran karena sudah dua minggu kebelekang Juan terlihat kacau bahkan untuk menyapa saja tidak yang ada hanya bentakan dan marah marah jika ada kesalahan sedikit.
"Gwen, Tery apa kabar?" sapa Juan saat akan masuk ruangannya. "Baiik pak" Gwen dan Tery mencelos tanpa ekspresi memperhatikan Juan. Biasanya dia tidak di anggap setiap dia datang ke kantor sudah berapa hari ini tapi sekarang Juan menyapanya dengan hangat.
"Ada apa dengan dia tiba tiba berubah sikapnya? apa dia baru saja mendapatkan durian runtuh? ujar Gwen. "Pak Juan sepertinya hari ini sedang berbunga bunga ya Gwen tidak marah marah lagi" imbuh Tery.
Ting tong
Bel rumah berbunyi Saira membukakan pintu.
"Bi Marni" ucap Saira. "Iya non saya di suruh pak Juan kerja di sini" ujar Bi Marni. "Oh iya silakan masuk Bi!" aja Saira.
"Wah, non rumahnya besar sekali pasti nyaman untuk di tempati ya, tidak seperti di apartemen" ujar Bi Marni. "Alhamdulillah, Bi Marni terima kasih ya sudah mau bekerja lagi walau sekarang kami sudah pindah" ujar Juan. "Sama sama non, saya juga berterima kasih bapak sama non masih percaya sama untuk bekerja di sini" Bi Marni masih memanggil Saira Non saja karena melihat Saira terlihat masih muda dan Siara tidak mau di sebut nyonya atau ibu jadi bi Marni menyebutnya masih non Saira saja.
__ADS_1
Saira menjelaskan ruangan ruangan di rumhanya yang sekarang bi Marni yang sudah terbiasa berkerja langsung paham dengan pekerjaannya.
"Baik non saya langsung beres beres ya" pamit Bi Marni. "Iya silakan Bi!" sahut Saira.