
Juan terlihat kesal melihat Saira pergi dengan pria yang tidak dikenal dan tidak bilang padanya. Tetapi Juan tahu dia tidak memberitahukan dulu sebelumnya jika akan menjemput.
"Ra, kamu lihat tidak tadi sepertinya ada yang memperhatikan kita saat kita masuk mobil pak Rey?" tanya Sely.
"Benarkah, tapi saya tidak melihatnya mbak" sahutnya. "Benar Ra, tadi itu aku lihat dia ke arah kita terus" jelasnya. Ah, sepertinya mbak salah lihat mungkin" dan Sely pun mengangkat pundak tidak meneruskannya.
Rey mencuri dengar apa yang dibicarakan Sely dan Saira. Dan membuat Rey sedikit penasaran.
"Siapa yang sudah memperhatikan mereka berdua apakah Sely atau Saira" bertanya dalam hati.
Mobil telah sampai di perusahaan Arta Jaya. Mereka melakukan pertemuan membahas kerjasama yang akan di kerjakan oleh kedua perusahaan tersebut.
pertemuan tersebut memakan waktu yang lama. Di saat jeda waktu Saira meminta izin untuk kebelakang. "Pak Adrian maaf saya izin ke belakang dulu" ucapnya. "Ya silakan" sahutnya.
"Pak maaf di sini ada mushola" tanya Saira ke salah satu karyawan di sana. "Oh ada di sebelah sana, silakan masuk saja ke lorong kemudian belok kanan" orang tersebut mengarahkan Saira. "Baik, Terima kasih pak".
Saira bergegas mencari mushola karena waktu solat magrib akan segera habis.
"Sely, apa kamu melihat Saira?" tanya Rey. "Tidak pak, tapi sepertinya dia tadi terburu buru melewati lorong itu" jawabnya.
Dengan biasa Rey tidak menjawab atau berterima kasih tapi langsung pergi meninggalkan orang yang ditanya.
"Mau apa dia ke sini di saat yang lain sedang melakukan rapat dia malah menghindar pergi" gumam Rey.
Saat Rey berjalan mengitari ruangan tersebut matanya melihat ada seseorang yang menggunakan mukena sedang melaksanan solat. Dan mata itu melihat dari samping bahwa orang tersebut adalah Saira.
Deg
Apa masih ada wanita seperti itu yang mana orang lain sibuk mengutamakan urusan dunia tapi dia tidak melupakan akan kewajibannya.
Rey segera pergi sebelum Saira melihat dirinya memperhatikannya.
"Darimana saja kamu Rey, aku mencari mu kemana mana?" tanya Adrian.
"Aku tadi mencari toilet" jawabnya. "Sudah ketemu toiletnya" tanyanya lagi. " Ah ya sudah, ayo kita kembali lagi ke ruangan" Rey mengajak Adrian kembali untuk mengalihkan pertanyaannya.
__ADS_1
" Maaf lama, pak" ujarnya. " Hem" hanya di jawab dengan deheman. Mereka melanjutkan rapatnya hingga pukul 8 malam. Mereka pulang ke kantor dulu karena mobil Sely di simpan di kantor.
"Ra, kamu pulang sama siapa" tanya Sely. "Aku naik taxi online saja mbak" jawab Saira. "Sudah malam Ra, kamu tidak takut pulang sendirian. Atau aku antar saja ya? tanya Sely. "Jangan mbak, kasian mbak Sely nanti kemalaman pulangnya kalau mengantar aku dulu" tolaknya. "Tidak apa apa Ra" daripada kamu pulang sendirian" Sely memaksa.
"Biar aku saja yang mengantar!" tiba tiba Rey menyela yang membuat Sely dan Saira diam dan kaget. "Hmm, tidak usah pak terima kasih, saya naik taxi online saja saya sudah biasa kok" tolaknya.
"Sely kamu langsung pulang saja, Saira biar aku yang antar!" tegasnya. "Ba baik pak" Sely menurut.
Kini di dalam mobil hanya tinggal berdua Saira dan Rey, mereka tampak canggung. "Beritahu dimana rumahmu" tanyanya dingin dan Saira memberitahukan alamatnya. di perjalanan suasana terasa sepi karena tidak ada yang membuka percakapan.
" Di depan gang itu bapak bisa turunkan saya disitu" ucap Saira. " Rumah mu yang mana" tanyanya. "Hmm rumah saya tidak jauh kok pak dari gang" selanya tapi Rey tidak mengindahkan ucapan Saira dan langsung membelokan mobilnya ke arah jalan rumah Saira. "Rumahnya yang mana" tanya Rey ketus. "Itu pak yang cat hijau" sahut Saira yang takut akan Rey.
" Terima kasih pak sudah repot repot mengantarkan saya" ucap Saira tidak enak. " Saya harus bertanggung jawab akan keselamatan karyawan saya jadi tidak perlu berterima kasih" ucap Rey dengan nada dingin. "Baiklah saya turun pak" Saira menundukkan kepala.
Setelah mobil Ray sudah pergi Saira masuk ke rumah dan melihat ayah sedang menunggunya di teras rumah.
"Baru pulang nak" tanya ayah. "Iya ayah tadi ada pertemuan dulu ke perusahaan lain ya seperti lembur begitu yah" jawabnya.
"Tadi kamu diantar siapa nak, ayah tidak pernah melihatnya. "Oh, itu atasan Saira di kantor ayah, dia khawatir sama Saira karena pulang malam jadi mengantarkan Saira pulang" jelasnya.
"Baik ayah" sahutnya.
Saira masuk kamar dan merebahkan tubuhnya di kasur setelah melaksanakan solat isya. Saat mencarger hp nya yang tadi kehabisan daya, dan betapa terkejutnya Siara melihat pesan dan panggilan telepon beberapa kali dari ayah dan Juan.
"Kak, maaf aku baru membaca pesan kak Juan. Daya ponsel aku habis jadi tidak bisa menghubungi kakak." pesan Saira.
Dert dert.. Juan langsung menghubungi Saira.
Saira : " Hallo Assalamualikum"
Juan : "Wa'alaikumsalam..dari mana saja kamu"
Saira : "Aku habis ada pertemuan ke perusahaan lain kak"
Juan : " Apa harus bersama dengan laki laki "
__ADS_1
Saira : Bagaimana kakak tahu aku pergi dengan orang lain.
Juan "Itu tidak penting"
Saira : "Aku memang pergi satu mobil tapi kami tujuannya sama ada urusan kantor dan itupun atasan ku kak dan ada rekan kerjaku juga mbak Sely"
Juan : "Kenapa kamu tidak memberitahu aku Ra"
Saira : " Maaf kak ponsel aku mati dan tadi dadakan pas pulang kerja aku diberitahunya jadi aku tidak sempat mengisi daya ponsel aku"
Juan : "Lain kali kamu jangan ikut dengan pria lain, pasti ada maksudnya"
Saira : "Ya ampun kak jangan seperti itu, itu kan masalah pekerjaan"
Juan : "Iya tapi harus tetap menjaga jarak mengerti!"
Saira : " Iya kak aku mengerti"
Juan : "Ya sudah kamu istirahat ya, kakak tutup teleponnya, Assalamualaikum"
Saira : "Wa'alaikumsalam"
Saira tidak ingin memperpanjang cukup meng iya kan saja ucapan Juan karena bila berdebat dengan Juan tidak akan menang.
Saira teringat mungkin yang mbak Sely bilang ada yang memperhatikan kami itu sepertinya kak Juan.
Besoknya di kantor Sely langsung menghampiri Saira dan menginterogasinya.
"Ra, kamu kemarin diantar pulang sama pak Rayhan?" tanya Sely penasaran. "Iya mbak" jawabnya. "Terus" tanyanya lagi. "Terus bagaimana mbak" Saira bingung. "Ya kamu setelah diantar pak Ray bilang apa saja sama kamu?"
"Ya tidak bilang apa apa hanya menanyakan alamatku dan pak Rey langsung mengantarku sampai rumah sudah setelah itu pak Ray langsung pulang.
Memangnya ada apa mbak" tanya Saira.
"Tidak apa apa sih cuma aneh saja" sahutnya. "Aneh bagaimana" tanya Saira lagi. "Selama aku bekerja disini mana pernah pak Rey mau mengantar pegawainya apalagi kamu kan pegawai baru di sini" terangnya. Saira tidak mau ke geer an karena ingat perkataan Rey malam itu, karena rasa tanggung jawab saja.
__ADS_1