
Setelah berbicara pada orang tua, berberala hari kemudian Juan mengajak Saira ke rumah Juan. Masih dalam keadaan tidak biasa Saira berusaha untuk menutupi rasa gugupnya pada keluarga Juan. Dan saat itu mamah Sinta menghampiri.
"Walah, Ada tamu pah" Saira bangun untuk menyalami mamah Sinta.
"Mah, Juan mengajak Saira datang ke sini untuk membicarakan mengenai pernikahan kami" ujar Juan.
Di tengah perbincangan dan tanya jawab Juan menyempatkan untuk mengutarakan niat kedatangannya
"Begini pah, maksud kedatangan kami kesini selain untuk Saira bersilahturahmi kami juga meminta izin dan restu kepada dan mamah yang insya Allah dalam waktu kedepan Juan dan Saira akan menikah." Juan menunduk karena takut dengan jawaban papah Saira.
"Huft" papah menghembuskan nafasnya sebelum berbicara..Papah sebelumnya juga minta maaf karena baru bertemu kembali dengan Saira, walau papah jarang bertemu dengan Saira tapi insya Allah papah yakin Saira anak yang baik nak, papah hanya titip Saira. Papah tahu kamu sudah mengenal Saira bagaimana keluarganya" ujar papah
"Kakak sudah mengetahuinya pah, karena Juan sudah memberitahukan kepada orang tua Saira dan keluarganya menerimanya" terang Juan.
"Kalau keluarga Saira sudah menyetujuinya ya papah juga mendukung dan merestui kalian" ujar papah.
"Alhamdulillah" Juan lega mendengarnya dan Saira pun tersenyum senang.
Setelah itu mereka melanjutkan perbincangannya dan makan bersama.
"Pah, mah dan Jenita terima kasih karena sudah mau menerima Saira di sini" ucap Saira
"Jngan sungkan jika kalian butuh bantuan insya Allah papah dan mamah di sini siap membantu sebisanya" ujar papah. " Iya pah" Saira tersenyum.
"Kami permisi pulang pah, mah" Saira menyalami papah Tirta dan mamah Sinta tak lupa Jenita yang sudah akrab dengan Saira.
"Alhamdulillah beres yang restu dari kedua keluarga kita" ujar Juan.
"Iya kak, Alhamdulillah" sahut Saira lega.
Hari libur Saira di rumah digunakan untuk beristirahat, memanfaatkan waktu liburan karena lelah aktifitas bekerja.
__ADS_1
"Ra, kamu tidak keluar" tanya kak Safa. "Tidak kak, aku mau istirahat saja di rumah.
"Oh ya kak, ayah sama ibu dimana?" tanya Saira. "Ada di teras depan" jawab kak Safa.
"Ayah, ibu" panggil Saira. "Ada apa nak" sahut ibu. "Ada yang mau aku bicarakan sama ayah dan ibu" ucap Saira. "Ada apa nak, sepertinya serius" ujar ayah. "Mm..Ayah, ibu dari pembicaran kemarin kak Juan dengan ayah dan ibu kami sepakat akan menikah dalam waktu dekat ini" ujar Saira. "Ya, jika itu keputusan kamu dan tidak ada paksaan ayah dan ibu menyetujuinya" ujar ayah.
"Terima kasih ayah, ibu" Saira langsung memeluk ibu.
"Nanti kak Juan akan datang lagi bersama keluarganya untuk membahas pernikahan.
"Iya nak, silakan saja kamu atur saja waktunya" ujar ayah. "Baik yah" sahut Saira.
Juan sengaja tidur di rumah papah dan mamahnya.
"Pah, bisa bicara sebentar ada yang aku bicarakan sama papa tapi kemana mamah pah," tanya Juan.
"Mamah lagi ke swalayan dengan adikmu" jawab papah.
"Mah, sebentar mah kakak mau bicara." ujar Juan. "Ya bicara saja kak biasanya juga langsung bicara" sahut mamah. " Ini serius mah, ayo duduk dulu sebentar sama papah di sini" mamah akhirnya berhenti merapikan belanjaannya dan ikut duduk bersama papah tak ketinggalan Jenita pun ikut duduk bersama.
"Ada apa sih kak, mamah jadi curiga" tanya mamah penasaran. "Iya nih kak Juan ada apa sih" tambah Jeni. "Apa jangan jangan kamu hamili anak orang" tanya mamah asal. " Astaghfirullah..mamah ko ngomongnya gitu. Aku masih ingat dosa mah dan tahu batasan" jawab Juan kesal. "Terus ada apa kak" tanya mamah lagi. "Aku mau menikah mah dengan Saira" ucapnya. "Tuh kan bener kata mamah kamu buru buru nikah.." belum selesai mamah bicara ayah sudah memperingati mamah. "Mah bisa diam tidak, anak belum selesai bicara kamu sudah main potong saja" kesal ayah.
"Mah, pah kakak kan sebelumnya sudah memberitahu tentang niatan kakak mau menikah dengan Saira tidak karena ada apa apa tapi memang niatan Juan akan menikahi Saira kalau Saira sudah selesai kuliah dan bekerja. Juan juga tidak mau lama pacaran, Juan ingin berumah tangga bersama Saira" ujar Juan.
"Papah senang mendengarnya kak, kamu konsisten dengan niatan mu bersama Saira. Tapi pertanyaan papah apa kamu yakin dengan pilihanmu kak" tanya ayah. "Insya Allah aku yakin akan pilihan hidupku pah . "Ya syukurlah kak, papah mendukungmu. "mamah juga senang kak kamu mau menikah dengan Saira. Dia itu anaknya baik dan sopan" tambah mamah.
"Alhamdulillah" Terima kasih pah mah" Juan mencium tangan mamah dan papah dengan perasaan senang.
"Semoga lancar ya kak, aku juga mendukung kakak" Jeni memberi dukungan karena senang yang menjadi kakak iparnya Saira.
"Nanti papah dan mamah temani aku ya kita kerumah Saira untuk membahas pernikahan aku dan Saira" ujar Juan.
__ADS_1
"Iya kak, kami siap menemani mu" mamah berkaca kaca melihat anak sulungnya akan segera menikah.
Hari berikutnya keluarga Juan bersiap siap untuk mengunjungi rumah Saira. Kunjungan sekarang membicarakan tentang persiapan pernikahan.
"Kak" ayo sudah siap" tanya Jenita. "Ok, kakak sudah siap yang lain mana" Juan tidak melihat papah sama mamah. "Papah sama mamah sudah menunggu di mobil. Kakak di tunggu dari tadi lama nanti keburu malam" sahut Jeni.
"Kak, bagaimana sih kakak yang punya acara malah kita yang menunggu" gerutu mamah. " Sabar mah, namanya juga anak laki laki" redam papah. "Maaf mah, pah tadi kakak jawab telepon dulu dari teman" sahut Juan.
"Ya sudah ayo" perintah mamah.
Sesampainya di rumah Saira Juan dan keluarganya disambut oleh keluarga Saira.
"Selamat datang bapak Tirta dan keluarga di rumah kami" sapa ayah. " Terima kasih pak Rudi" papah sembari bersalaman.
Mereka langsung berbincang membicarakan maksud kedatangan mereka tentang keseriusan putra putri mereka dan akhirnya mereka sudah menentukan tanggal pernikahan yaitu satu bulan kemudian.
Saira maupun Juan tersenyum mendengar keputusan orang tua mereka.
Juan senang acara pertemuan dengan keluarga Saira berjalan lancar dan tidak ada hambatan. Dan tanggal pun sudah di tentukan tinggal menyiapkan segala sesuatunya.
"Yang, bagaimana perasaanmu?" tanya Juan di sela sela setelah acara makan bersama.
"Perasaan apanya kak?" Saira balik bertanya. "Apa kamu senang kita menikah?" tanya Juan.
"Kak aku senang sebentar lagi akan menikah dengan kakak" ucap Saira tapi hatinya masih ada yang menganjal.
"Dari ucapanmu seperti ada yang kamu simpan, ada apa yang?" tanya Juan melihat ekspresi Saira yang tidak sesumringah sebelumnya.
"Aku? aku tidak apa apa kak, aku senang" Saira tersenyum memperlihatkan gigi rapinya agar Juan tidak bertanya lagi.
"Aku senang menikah dengan kak Juan, tapi apa benar kak Juan sudah menerima aku dan sudah mencintaiku tulus?" ucap Saira dalam hati.
__ADS_1