Adakah Cinta Di hatimu

Adakah Cinta Di hatimu
Bab 66


__ADS_3

Keyla tak menyangka dengan kehidupan Saira yang sekarang. Karena dulu sewaktu mereka sekolah Saira dengan kehidupan yang pas pasan dibandingkan dirinya yang serba berkecukupan. Tapi nasib seseorang tidak ada yang mengetahui kalau bukan orangnya sendiri yang merubahnya.


Sesampainya di apartemen Saira langsung mengecek lemari tempat penyimpanan perlengkapan bayi. Saira mulai mengelist daftar barang apa saja yang akan di bawa ke rumah sakit. Karena ibu dan mamah sudah mengingatkan untuk segera menyiapkannya ke dalam tas. Karena tidak ada yang tahu kapan waktu yang pasti lahiran.


"Yang sedang apa" tanya Juan melihat Saira mengemas barang dan pakaian. "Ini kak, aku sedang menyiapkan barang yang akan di bawa nanti jika aku lahiran. Ibu dan mamah sudah memberikan daftarnya" Saira menunjukan kertas yang sudah di list panjang.


"Kak, ini banyak sekali. Kakak waktu itu sudah banyak membeli perlengkapan bayi di tambah mamah dan ibu juga, sepertinya tidak cukup satu lemari kak"


"Sudah biarkan saja yang, nanti juga terpakai buat ganti, lagian itu bentuk sayangnya Deddy dan nenek neneknya" ujar Juan. "Berarti aku tidak sayang sama anak aku" Saira cemberut kesal. "Huft" Juan menghela nafas. "Bukan begitu yang, sayang kamu mommy nya kan beda. Kamu sudah di titipkan bayi dan menjaganya di dalam perutmu selama 9 bulan juga sudah bentuk sayang yang tak ternilai sementara aku dan nenek neneknya hanya bisa mensuport kamu dan bayinya dengan ini salah satunya" jelas Juan tidak ingin memperpanjang. Saira menganggukkan kepala tanda mengerti.


"Susah bicara sama yang moodnya berubah ubah" Juan bermonolog dalam hati. Juan lantas merebahkan badannya di kasur sementara Saira merapikan baju dan perlengkapan bayinya yang sudah di pilih dan di susun.


Saira menikmati masa masa kehamilan di trisemester ke 3, mulai dari senam hamil, membaca buku tentang kehamilan dan persiapan melahirkan serta cara merawat bayi pasca melahirkan.


Dan untuk pekerjaan Saira sudah mulai memberikan arahan tugas pekerjaannya kepada Yura untuk menghandle pekerjaan Saira saat dia cuti hamil nanti.


Sementara Juan di sibukkan dengan berbagai pekerjaan hingga pulang malam, walau mamah Sinta sudah mewanti wanti untuk tidak sering pulang malam.


"Yang, malam ini kakak pulang malam ya. Kamu mau pulang ke apartemen atau ke rumah ibu atau mamah?" Juan khawatir jika meninggalkan Saira di apartemen lama lama. "Aku pulang ke apartemen saja, kakak jangan khawatir kalau ada apa apa aku langsung hubungi kakak atau mamah" ujar Saira.


"Baiklah, maaf ya sayang" ucap Juan.


Saira pulang dengan memesan taxi online dan sampai apartemen Saira tidak langsung istirahat tapi membuat cemilan karena setiap malam Saira suka mencari makanan. Entah bayinya atau Saira yang senang makan belakangan ini.


Saira berkutat dengan adonan di dapur hingga alat alat dapur semua keluar. Resep yang dia dapat selain dari ibu Saira juga menambahkan dari chanel di internet.

__ADS_1


"Akhirnya selesai juga" Saira menyelesaikan adonan kuenya tinggal memasukan ke dalam oven. Sembari menunggu matang kuenya Saira merapikan dapur, tetapi ketika dia hendak mencuci piring perutnya terasa sakit tapi hanya sebentar.


"Kenapa de, kamu capek ya ikut mommy membuat kue. Maafkan mommy ya kita Istirahat dulu" Saira duduk mengistirahatkan badannya di sofa dan mengajak berbicara bayi dengan mengusap perutnya.


Saira tertidur di sofa, sampai Juan pulang Saira tidak mendengarnya.


"Assalamualaikum, yang" sapa Juan tapi tidak ada yang menjawab. "Huft" Juan menghela nafas melihat dapur berantakan dan Saira tertidur di sofa. "Yang" Juan memanggil pelan Saira dengan membelai rambutnya.


Saira mengerjapkan mata pelan pelan. "Kak Juan" sahut Saira masih terkaget. "Kenapa tidur di sini sayang" tanya Juan. "Aku ketiduran kak, tadi habis membuat kue perut aku terasa sakit sedikit" ujar Saira.


"Apa yang sakit yang?" Juan khawatir mengecek perut Saira dengan memegangnya. "Perut aku kak tadi seperti ada celetit gitu tapi sebentar saja, lalu aku langsung duduk niatnya mau istirahat saja eh ketiduran" Saira tersenyum.


"Kamu jangan banyak gerak ya yang, biar kakak yang membereskan" ujar Juan. " "Aku bantu kak" Saira hendak bangun untuk ikut ke dapur. "Tidak usah, sudah kamu ke kamar saja istirahat" imbuh Juan melarang Saira. "Kakak sudah makan" tanya Saira sebelum ke kamar. " Sudah yang tadi bareng teman kantor" sahut Juan.


Saira ke kamar dan merebahkan badannya. Tidak lama Juan masuk ke kamar juga untuk membersihkan diri.


"Yang, sudah tidur" tanya Juan melihat Saira seperti tidak nyaman tidurnya. "Belum kak, aku sudah susah posisi tidurnya ke sana salah ke sini salah" keluh Saira. "Sabar ya sayang, nanti juga terlewati masa masa seperti ini" ujar Juan memberikan semangat sembari mengusapkan punggung Saira agar nyaman.


Dan memang setelah di usap pinggangnya oleh Juan, akhirnya Saira tertidur. Juan mencium kening Saira dan ikut tidur disampingnya.


Saat Saira tertidur lelap terdengar suara teriakan yang ternyata berasal dari Juan sedang mengigau.


"Jangan..jangan"


"Please, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku" igau Juan dalam mimpinya.

__ADS_1


Saira yang terbangun mendengarnya langsung membangunkan Juan.


"Kak, kak Juan bangun" Saira menepuk nepuk tangan Juan.


"Hosh..hosh.." Juan terbangun kaget langsung memeluk Saira.


"Ada apa kak" tanya Saira bingung. "Juan makin mempererat pelukannya dan mencium kening Saira. "Sayang, tidak apa apa kakak hanya mimpi buruk" ucapnya walau masih terlihat cemas. "Ayo kita tidur lagi" Saira mengangguk dan mengikuti tidur kembali. Sementara Juan masih memikirkan mimpinya itu.


Paginya.


"Kak bangun sudah siang" Saira membangunkan Juan. "Kakak kerja tidak hari ini" tanya Saira menggoyangkan tangan Juan. "Jam berapa sekarang yang" Juan mengerjapkan matanya malas. "Sudah jam 6 pagi kak ucap Saira.


Juan sebenarnya masih ngantuk karena semalam kurang tidur tapi karena harus kerja mau tidak mau Juan harus bangun dan berangkat kerja.


Waktu sudah mepet Juan menyiapkan segalanya dengan serba cepat sampai Saira mengingatkan terus.


"Kak, kaos kakinya!"


"Kak, sarapannya!"


"Kak, tasnya!" begitu Saira mengingatkan Juan yang hampir terlewat.


"Terima kasih yang" ucap Juan saat berangkat bersama Saira kerja. "Ingat kak, walau sudah mepet waktunya tapi jangan kebut kebutan, tetap keselamatan lebih penting" ujar Saira melihat Juan mengendarai mobilnya dengan terburu buru.


"Iya sayang" Juan tersenyum sembari mengusap kepala dan perut Saira mengingat Saira sedang hamil Juan jadi mengurangi kecepatan berkendaranya.

__ADS_1


"Maafin kakak ya sayang, kamu jadi terlambat" ujar Juan. "Tidak apa sayang, tidak sering ini kita terlambatnya. Pasti ada toleransi waktu dari kantor" ujar Saira.


"Kalau kakak bagaimana, tidak apa kesiangan" tanya Saira. "Kakak santai saja yang" ujar Juan.


__ADS_2