Adakah Cinta Di hatimu

Adakah Cinta Di hatimu
Bab 118


__ADS_3

Saira di rumah langsung mengedap ke kamar mandi agar tidak di curigai suamimya.


Rasa degdegan, berkeringat dan takut menghampiri perasaan Saira saat menunggu hasil alat yang dia beli tadi di apotik.


satu..dua.. tiga detik ia tunggu akhirnya garis yang muncul di alat tersebut bergaris merah dua.


"Ah.."Saira kaget menutup mulutnya agar tak terdengar keluar.


Saira keluar dari kamar mandi dengan gontai dan duduk di tepi ranjang.


"Yang kenapa diam saja" Juan memperhatikan Saira dari pulang kerja tampak diam tidak semangat. Saira menyerahkan tespek pada Juan.


"Apa ini yang?" Juan membolak balikan alat tersebut. "Tespek" ucap Saira. "Iya kakak tahu tapi maksudnya apa?" tanya Juan belum sadar


"Aku hamil kak" ucap Saira datar.


"Hah" mata Juan membola kaget. "Benar yang kamu hamil lagi?" tanya Juan dan di jawab dengan anggukan Saira.


"Alhamdulillah" Juan memeluk dan menciumi Saira. "Kamu kenapa seperti tidak senang yang?" Juan melihat Saira tanpa ekspresi.


"Kak, aku kasian dengan Keanu" ucap Saira. "Kasian kenapa yang, justru bagus Keanu akan punya adik sebentar lagi" ujar Juan.


"Tapi Keanu masih kecil kak, aku saja tidak bisa full mengurus Keanu, dan Keanu masih minum AS* sekarang aku sedih kak" ucap Saira berkaca kaca.


"Tidak apa sayang, itu namanya rezeki kita berarti diberikan amanat lagi oleh Tuhan untuk menjaganya" Juan mengusap rambut Saira menguatkan.


Saira menjalani kehamilan kali dengan bolak balik ke rumah sakit karena kondisinya yang lemah tidak masuk makanan apapun. Setiap yang dia makan pasti dikeluarkan yang menyebabkan dehidrasi dan harus di rawat. Dan semenjak hamil Keanu pun ikut di sapi*nya.


Jeni yang sibuk dengan kuliahnya di jakarta jarang pulang ke rumah yang menjadikan mamah memiliki waktu luang menemani Saira selama hamil sementara ka Safa sedang mempersiapkan pernikahannya dengan calonnya yang masih satu kantor menjadikan ibu ikut sibuk mengurusnya.


Juan menjadi suami siaga. Entah di kehamilannya yang kedua ini Saira begitu berat menjalaninya tidak seprti kehamilan pertamanya yang begitu mudah dan tidak terasa.


"Kak Safa maafkan Saira tidak bisa bantu kakak menyiapkan pernikahan kakak dan kak Tina" ucap Saira.


"Tidak apa Ra, yang penting kamu dan bayinya sehat. Semoga nanti pas hari H kamu bisa hadir menemani kakak" ujar kak Safa.


"Insya Allah kak, Saira akan hadir di moment bahagia kakak, Saira ingin menyaksikan pernikahan kakak" ucap Saira.


"Iya Ra, terima kasih" ucap Safa.


Acara pernikahan kak Safa di gelar hari ini. keharuan mulai terasa di saat akad nikah dilangsungkan.

__ADS_1


Ibu yang tak kuasa menahan air matanya karena melepas anak sulungnya menikah lantas tanggung jawab ibu dan ayah sudah berpindah semua.


"Ibu jangan menangis, Safa ini anak laki laki yang kewajibannya masih Safa pegang sebagai anak laki laki.


Ibu jangan khawatir insya Allah Safa tidak akan berkurang kasih sayang Safa pada ibu dan ayah. Ibu doakan Safa agar menjadi suami yang bertanggung jawab pada keluarga dan tidak melupakan ibu" kata kata yang di ucapkan Safa mampu meluluh lantahkan perasaan ibu pada anaknya.


"Ibu selalu mendoakan anak anak ibu yang terbaik, bisa sukses dunia maupun akhirat." Safa duduk bersimpuh di hadapan ibu.


Begitupun pada saat sungkeman pada ayah. Kak Safa juga mendapat wejangan wejangan dari ayah untuk anak laki lakinya.


Di saat melanjutkan acara dari akad nikah ke acara resepsi. Ada hal yang tak kalah menegangkan juga yaitu Saira yang merasakan perutnya mulai terasa sakit.


"Aw" keluh Saira sesekali memegang perutnya.


"Ada apa yang?" tanya Juan. "Tidak tahu kak, aku seperti sakit perutnya tapi sekarang tidak lagi.


Juan yang tidak tahu juga menganggap sakit perut biasa.


"Akh.." Saira teriak kembali memegang perutnya tapi kali ini menjadi sering. "Yang, kenapa masih sakit perutnya?" Juan menjadi khawatir. "Kok, perutnya jadi sering sakitnya kak" keluh Saira yang sudah berkeringat dingin.


Juan mendudukan Saira di kursi lantas menghubungi mamahnya yang masih di acara ini.


"Ada apa kak dengan Saira" mamah langsung menghampiri Saira. "Saira perutnya sakit mah" ujar Juan.


"Sebelumnya hilang muncul hilang muncul, tapi barusan jadi sering mah" ucap Saira sambil memegang pinggangnya yang panas.


"Kak, cepat bawa istri mu ke rumah sakit sekarang!" perintah mah.


Jeni yang sedang mencicipi hidangan di buat penasaran melihat kakak iparnya duduk terlemas.


"Kak Saira kenapa?" tanya Jeni


"Jen mamah akan antar kak Saira ke rumah sakit. Kamu jaga Keanu bersama bi Marni dan bilang papah cepat menyusul ke rumah sakit! Mamah akan ikut kakakmu ke rumah sakit" seru mamah.


"Loh memang kak Saira kenapa mah?" tanya Jeni binggung. "Sudah kamu lakukan apa yang mamah perintahkan nanti kamu juga akan tahu" ujar mamah terburu buru.


Juan yang panik menjadi binggung. "Kenapa di bawa ke rumah sakit mah?" tanya Juan. "Istri kamu mau melahirkan kak" mamah kesal. "Tapi mah jadwal nya bukan sekarang masih dua mingguan lagi" imbuh Juan.


"Kakak.." teriak mamah kesal. "Iya iya mah kakak bawa Saira ke rumah sakit sekarang.


"Aduh, ini anak sudah mau punya anak dua tapi makin telat saja pikirnya" gumam mamah melihat tingkah Juan yang panik membuat otak pintarnya hilang.

__ADS_1


Mendengar ribut ribut ibu yang ada di atas pelaminan menyalami tamu undangan datang menghampiri.


"Ada apa ini?" melihat Saira dikerumuni. "Ini loh mbak, Saira sepertinya sudah kontraksi mau kita bawa k rumah sakit saja" ujar mamah menjelaskan.


"Oh ya, ya sudah ayo cepat bawa nak Juan" seru ibu ikutan panik juga.


"Iya bu" Juan membantu Saira memapah masuk ke dalam mobil. Mamah menemani Saira dibelakang untuk menenangkan. Juan menyetir mobil.


"Mah" Saira memegang erat tangan mamah sambil sesekali meringis kesakitan. "Sabar ya sayang sebentar lagi kita sampai rumah sakit" ucap mamah.


Sesampainya di rumah sakit Saira segera ditangani oleh dokter dan perawat.


"Bu, sepertinya ibu sudah mengalami kontraksi melihat durasi yang ibu alami" ujar dokter.


"Bagaimana ini dok?" karena Saira belum berpengalaman melahirkan dengan merasakan kontraksi yang hebat seperti sekarang, mengingat melahirkan yang pertama secara cesar.


Setelah menunggu beberapa jam dan Saira sudah mulai ada pembukaan akhirnya bayi munggil mereka lahir.


"Alhamdulillah" ucap serempak yang ada mengikuti proses lahiran termasuk Juan kali ini dia menyaksikan kelahiran anak keduanya.


"Selamat ya pak bayinya cantik dan sehat" Perawat memperlihatkan bayinya pada Juan kemudian diberikan kepada Saira untuk melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) agar anak bisa menyesui selanjutnya.


Juan sangat bahagia bayinya lahir dengan sehat.


"Sayang, terima kasih kamu sudah berjuang untuk anak kita" Juan mencium kening Saira. "Alhamdulillah kak" Saira yang tampak lelah tapi merasakan kebahagian juga.


Mamah dan papah di luar sudah tidak sabar untuk melihat Saira dan bayinya.


"Saira selamat ya sayang" mamah memeluk Saira bahagia. "Tadi mamah dan papah sudah melihat bayinya di ruang perawatan bayi. Bayinya cantik Ra" ujar mamah.


Besoknya. Setelah melakukan obesrvasi pada ibu dan bayinya dalam keadaan sehat maka hari ini sudah di izinkan pulang.


Mamah dan ibu menjemputku pulang dari rumah sakit sementara Jeni sudah menunggu di rumah menyiapkan segala sesuatunya dengan bi Marni.


"Welcome home mom & baby gril" ucapan yang terpampang di tengah rumah menyambut kedatangan ibu dan bayi.


Kebahagian mereka begitu lengkap dengan hadirnya putri kedua Juan dan Saira.


Jeni yang menimba ilmu kuliah di jakarta kakak dengan pernikahannya dengan kak Tina.


Sementara yang tak kalah membahagiankan datang kabar dari kantor bahwa pak Reyhan dan Yura resmi bertunangan.

__ADS_1


Setelah resign dari pekerjaannya Saira fokus mengurus kedua buah hatinya. Dan seiring waktu Saira merasakan ketulusan cinta dari Juan yang selalu ada untuk nya dan kedua anak mereka.


❤Tamat❤


__ADS_2