
Saira sampai di apartemen dan langsung masuk ke dapur merapikan belanjaannya. Setelah itu pergi untuk membersihkan diri.
Di apartemen Saira membuat makanan untuknya dan lupa meminum susu untuk ibu hamil. Sedikit santai sambil duduk duduk di ruang TV.
Terdengar suara pintu apartemen terbuka.
"Assalamualaikum" sapa Juan ketika masuk. "Wa'alaikumsalam" sahut Saira. "Sudah pulang kak" tanya Saira. "Sudah yang" Juan mencium kening Saira kemudian langsung ke kamar untuk membersihkan diri. "Yang kamu sudah makan? minum obat dan minum susu? Juan memberondong pertanyaan yang sudah menjadi alarm untuk Saira mengingatkan selama hamil"
"Sudah kak" Saira terkekeh melihat Juan sudah seperti satpam yang mengontrolnya setiap saat. Juan ikut duduk di sofa bersama Saira sembari mencium perutnya dan menyapa bayi yang ada dikandungan Saira.
Di sela sela dia menonton TV Saira merasakan pergerakan di perutnya campur campur ada gerakan yang aktif dari bayinya adapun Saira merasa sering bolak balik kamar mandi untuk buang air kecil dan merasa sakit sedikit di bagian perutnya.
"Yang, lihat ini perut kamu gerak gerak" Juan memperhatikan perut Saira. "Iya kak, memang suka seperti ini" jelasnya. "Memang kamu tidak sakit. "Kadang terasa sakit selebihnya aku suka mengajak ngobrol. Biasanya dia memberi tahu ingin di ajak berbicara. "imbuh Saira. " Adik kecil, baik baik ya di perut mommy jangan buat mommy kesakitan" Juan berbicara menghadap perut Saira yang besar.
Ada reaksi setelah Juan berbicara tadi. "Yang, yang itu perut kamu kok miring ke kanan ke kiri sih" ujar Juan sedikit ngeri melihatnya. "Tidak apa kak, dia itu bergerak karena badannya semakin membesar dan ruang geraknya semakin kecil.
Juan langsung menciumi terus perut Saira.
"Kak jangan seperti itu takut bayinya tidak nyaman ada tekanan dari luar. "Oh iya maaf sayang. Kakak begitu senang tadi" ucap Juan tersenyum.
__ADS_1
Malam telah tiba waktu mereka beristirahat. Juan dan Saira memasuki kamar mereka.
"Yang, kenapa" tanya Juan saat hendak tidur melihat Saira sering berganti ganti posisi tidur. "Aku sudah mulai susah tidur kak, bingung posisinya" Saira terbangun mengusap ngusap pinggangnya. "Mau kakak usap pinggangnya dan Saira mengangguk.
Saira tidur membelakangi Juan yang mengusap usap punggung Saira hingga Saira tertidur.
paginya
Saira terbangun dengan pinggang yang pegal tapi Saira masih kuat untuk bangun dan menyiapkan sarapan untuk Saira dan Juan.
"Yang, bagaimana masih sakit pinggangnya?" tanya Juan. "Masih tapi tidak sakit sekali cuma pegal pegal biasa" jawab Saira santai agar Juan tidak terlalu khawatir. "Syukurlah, kalau kamu sakit kasih tau ya" seru Juan. "Iya kak" Saira melanjutkan menyiapkan baju kerja Juan. "Sudah yang biar kakak saja yang menyiapkan sendiri kamu tidak usah repot menyiapkan keperluan kakak ya" Juan memotong Saira menyiapkan perlengkapan Juan.
"Kak, hari ini kak Juan pulang malam lagi" tanya Saira. "Memang kenapa yang" tanya Juan. "Tidak" sahut Saira. "Apa mau diantar ke suatu tempat" tanya Juan. " Tidak juga" Saira mengingat ucapan ibu penjual sayur kemarin. "Kalau tidak ada pekerjaan tambahan kakak usahakan pulang cepat dan jemput kamu yang" ujar Juan dan Saira mengangguk.
"Saira turun dari mobil dan memasuki gedung tempat kerja Saira. Saira mengisi absen terlebih dahulu menggunakan name tag di scane.
"Selamat pagi mbak Sely, Yura" sapa Saira saat tiba di ruangan kerjanya. "Pagi Ra, pagi kak Saira" sahut Sely dan Yura. Mereka sebelum memulai pekerjaan saling bercerita.
"Ra, kita sore ini pulang kerja mau ke rumah sakit dulu" ujar Sely. "Ada apa mbak ke rumah sakit" tanya Saira. "Kita mau nengok bu Ratih yang baru saja melahirkan" imbuh Sely. "Yang ikut banyak mbak" tanya Saira. "Tidak hanya perwakilan saja.
__ADS_1
"Aku boleh ikut mbak" tanya Saira ingin di ajak. "Aduh jangan deh Ra, kamu kan sedang hamil besar" larang Sely takut di salahkan lagi. "Masa orang hamil tidak boleh menjenguk yang baru melahirkan, kan aku juga biar ada persiapan lihat yang sudah melahirkan" kilah Saira.
"Kamu Ra, pasti bisa saja merayunya" Sely mencebik. "Ih, mbak Sely ini kan diluar jam kerja tidak ada yang marah kok" jawab Saira. "Iya di luar jam kerja tapi kalau di luar jam kerja yang marah beda lagi" seru Sely. "Siapa mbak?" tanya Saira penasaran. "Ya suami kamu lah Ra, masa suami aku" Sely terkekeh. Saira memanyunkan bibir kesal.
"Jangan marah dong Ra, nanti cantiknya hilang loh" rayu Sely. "Ya sudah aku titip salam saja ya mbak untuk bu Ratih" ujar Saira tersenyum kembali. Bu Ratih merupakan atasan Saira di divisi bagian Saira bekerja. Dan bu Ratih merupakan atasan yang baik pada bawahannya Saira mengangumi bu Ratih walau jabatannya lebih tinggi tapi tetap ramah dan mengayomi bawahannya.
Hari ini Juan menjemput Saira lebih awal dan sudah menunggu di parkiran seperti biasa. "Mbak, aku duluan ya suami aku sudah menunggu" ucap Saira. "Ok, hati hati Ra" seru Sely dan yang lainnya yang sudah bersiap untuk pergi juga ke rumah sakit.
Saira setelah melihat mobil Juan sudah menunggu langsung menghampiri. "Assalamualaikum kak" Saira mencium tangan Juan. "Wa'alaikumsalam sayang" sahut Juan. "Ayo kak" seru Saira sudah siap. Juan melajukan mobilnya keluar dari parkiran gedung kantor Saira.
"Yang, kita mampir dulu sebentar ya ke rumah mamah" ujar Juan. "Memangnya ada apa kak" tanya Saira. "Tadi mamah telepon kita di suruh mampir ke rumahnya ada yang harus di bawa" imbuh Juan. "Apa kak" tanya Saira. "Tidak tahu" Juan mengangkat bahunya.
Mobil Juan telah sampai rumah mamah Sinta.
Saat Juan dan Saira masuk ke rumah mamah Sinta langsung menyambut Saira. "Hallo menantu mamah yang cantik, sini sayang" panggil mamah. Saira mengikuti saja perintah mamah ke kamar. "Ra, nanti kamu bawa ya baju baju ini dan ini ada baju hangat rajut. baju ini mamah yang rajut sendiri loh khusus buat calon cucu mamah" seru Mamah.
"Wah, bagus sekali mah. Saira sampai tidak menyangka mamah bisa membuat baju hangat sebagus ini" puji Saira. "Mamah sengaja buatkan saat waktu kosong mamah" ujar mamah. "Dan satu lagi Ra" tambah mamah mengajak Saira ke arah dapur.
"Ini mamah buatkan makanan sayuran yang sudah matang dan mentahnya juga untuk kamu supaya nanti lahirannya lancar" jelas mamah menunjukan satu satu sayuran apa saja yang akan di bawa Saira berikut Khasiatnya.
__ADS_1
Saira melirik Juan dan melihat lagi bawaannya. Juan hanya mengangguk mengartikan "iya saja jangan membantah".