
Di tengah persiapan pernikahan mereka yang akan mengurus segala sesuatunya Saira dan Juan malah disibukkan dengan pekerjaan masing masing yang menyebabkan waktu bertemu mereka sulit untuk bertemu.
"Yang, kamu dimana?" tanya Juan. "Aku masih di kantor kak" jawab Saira. "Memang kamu tidak bisa izin sebentar saja pada atasan mu, aku juga sibuk tapi aku menyempatkan diri supaya bisa menemui pihak WO nya" ujar Juan.
"Aku malu kak, kemarin aku sudah izin sekarang sudah izin lagi, apa bisa sore ini janjiannya dengan pihak WO" ujar Saira. "Memangnya mudah bisa mengatur waktunya. Kamu sebenarnya niat tidak sih nikah sama aku" kesal Juan.
Saira mulai berkaca kaca mendengar ucapan Juan yang selalu emosi.
"Baiklah kak, aku izin dulu pada atasanku" ucap Saira.
Tok tok..
" Masuk" ucap Adrian.
"Permisi pak Adrian..maaf menggangu waktunya" ucap Saira.
"Iya ada apa Saira" tanya Adrian. " Mm..sebelumnya saya mohon maaf pak, saya mau meminta izin untuk keluar sebentar" ucap Saira ragu ragu. "Bukannya kamu kemarin juga izin pulang duluan" ujar Adrian.
"Iya pak tapi ada sesuatu hal yang mendesak lagi yang harus saya urus pak" jawab Saira.
Adrian bersidekap tangannya melihat Saira.
"Kalau boleh saya tahu ada kepentingan apa yang membuat kamu pergi" tanya Adrian.
"Maaf pak, ada urusan pribadi" Saira menjawab tidak berterus terang karena malu.
" Saya janji pak setelah urusan saya selesai saya akan kembali lagi ke kantor secepatnya dan saya akan lembur mengerjakan tugas saya yang tertinggal hari ini" ujar Saira.
"Ya baiklah" jika itu urusan penting saya tidak melarang tapi jangan sering sering kamu keluar kantor di jam kerja!" Adrian memperingati.
"Terima kasih pak..terima kasih" ucap Saira berulang karena pak Adrian sudah berbaik hati mengizinkannya.
"Saya permisi pak" yang dijawab anggukan oleh Adrian.
Saat Saira keluar ruangan tidak sengaja berpapasan dengan Rey.
"Ada apa Adrian" tanya Rey melihat wajah Adrian sedikit berbeda setelah Saira keluar ruangan.
__ADS_1
"Tidak apa apa, aku hanya aneh saja. Saira 2 hari ini meminta izin keluar ada keperluan pribadi saja" ungkap Adrian.
" Ya memang kenapa memang urusannya sepertinya mendesak mungkin, tadi saja jalan nya terburu buru" ujar Rey.
" Tumben kamu bela Saira biasanya kamu yang paling kejam padanya" ujar Adrian.
Kemudian pintu diketuk kembali.
Tok tok..
"Masuk" ucap Adrian.
" Permisi pak saya mau menyerahkan laporan yang pak Adrian minta" ujar Sely sambil meletakan laporannya di meja Adrian. "Iya" jawab Adrian tapi sebelum Sely pergi Adrian memanggil Sely.
" Sely" panggil Adrian. " Iya pak, ada yang bisa saya bantu" sahut Sely.
"Kamu tahu kenapa 2 hari ini Saira sering izin keluar" tanya Adrian penasaran.
" Em.. saya kurang tahu betul pak" Sely binggung menjawabnya. "Tapi yang saya tahu Saira sebentar lagi mau menikah" ragu ragu Sely memberitahunya.
Deg..
"Oh, pantas saja dia mungkin sedang sibuk mengurus persiapannya" ujar Adrian.
" Memang Saira akan menikah dengan siapa?" tanya Rey tiba tiba.
"Sama tunangannya pak, yang sering menjemputnya pulang.
Rey langsung gusar dia kalah cepat dengan pria itu, pria yang sering dia lihat jika pulang kantor.
" Adrian aku kembali ruangan ku" ucap Rey singkat dan langsung pergi. " Orang aneh tadi datang sekarang tiba tiba pergi memang dia mau apa tadi keruangan ku" Adrian geleng geleng kepala.
"Pak, bapak tahu tidak saya juga aneh loh dengan pak Rey" bisik Sely pada Adrian. "Aneh bagaimana maksud kamu" tanya Adrian bingung. "Aneh saja dengan sikapnya pak Rey, coba saja bapak perhatikan setiap ada Saira pak Rey menjadi lebih perhatian. Bayangkan saja sejak saya bekerja disini mana pernah pak Rey mau mengantar karyawannya sampai ke rumah dan bertanya tanya tentang profil karyawannya" ujar Sely. "Maksud kamu Rey ada perasaan yang berbeda dengan Saira. "Maybe" sely mengangkat kedua pundaknya.
Adrian mulai berpikir.
"Sudah pak, jika tidak ada yang diperlukan lagi saya izin keluar" pamitnya. " Iya silakan" sahut Adrian.
__ADS_1
Adrian mulai berpikir dan menyambungkan hal yang berhubungan dengan Rey dan Saira.
" Pantas saja dia tertarik jika membahas tentang Saira dan ingin dia terus yang mengikuti rapat atau kunjungan kerja. Ternyata dia ingin dekat dengan Saira" Adrian menganguk angukan kepala. "Kena kau Rey akan jadi bahan penindasan mu kali ini" Adrian menyeringai.
Di sisi lain Saira dan Juan sedang mengadakan pertemuan dengan pihak WO untuk memilih desain dan tema pelaksanaan penikahannya mereka.
"Yang kamu saja yang pilih tema nya aku ikut saja" ujar Juan yang tak ingin pusing memilih. " Kalau ini bagaimana kak?" tanya Saira. "Ok, tapi jangan terlalu berlebihan kakak tidak suka." jawab Juan.
Ahirnya mereka telah memilih tema yang disepekati dengan banyak syarat dari Juan.
"Kak maaf aku harus kembali lagi ke kantor karena tadi aku izin sebentar" ujar Saira. "Baiklah, kakak antar kamu sampai kantor" jawab Juan. "Yang kakak pulangnya tidak bisa jemput kamu karena kakak harus menyelesaikan pekerjaan yang tertunda" ujar Juan. " Iya kak tidak apa apa" sahut Saira.
Saira kembali lagi ke meja kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaan dan sudah berjanji akan menyelesaikannya hari ini.
Waktu sudah menunjukan pukul 6 sore tapi Saira belum pulang.
"Ah sudah magrib aku solat dulu nanti dilanjutkan lagi" gumam Saira. Ketika Saira akan menuju musola kantor berpapasan dengan Rey dan Adrian.
"Saira, kamu masih di kantor" tanya Adrian.
"Iya pak, saya harus menyelesaikan pekerjaan saya yang tadi tertunda" jawab Saira.
"Tapi ini sudah jam 6 yang lain sudah pulang tinggal kamu sendiri di bagian ini yang masih dikantor" imbuhnya. "Tidak apa apa pak saya harus menyelesaikannya tanggung sebentar lagi karena date line nya hari ini harus selesai.
Rey melihat meja kerja Saira dan mengambil berkas yang sedang dikerjakan Saira.
"Saira tinggalkan saja pekerjaan mu biar besok kamu lanjutkan sekarang sudah malam kamu pulang saja" Rey memberi perintah kepada Saira. "Tapi pak ini kan harus selesai datanya masuk hari ini" ujar Saira.
"Aku beri toleransi hari ini, aku tidak mau di bilang bos yang tega terhadap karyawannya sampai pulang malam" ujar Rey.
"Baik pak Rey, terima kasih" Saira menunduk.
"Adrian yang berada di samping Rey heran. Apa kecurigaan ku dan Sely benar, Rey berbeda dengan Saira selalu perhatian dibalik sikap kerasnya" pikirnya dalam hati.
"Saira langsung menyelesaikan solatnya. Dan tiba tiba melihat pak Adrian dan pak Rey masih berada di kantor.
"Bapak belum pulang" tanya Saira. " Aku masih memastikan kantor benar benar kosong" jawab Rey yang sebenarnya merasa khawatir terhadap Saira karena di kantor sendiri.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu saya permisi pulang pak" pamit Saira. "Silakan dan hati hati" ucap Rey yang sudah di tinggal Adrian pulang duluan karena Rey pura pura mengambil barang yang tertinggal di ruangannya.
Rey tidak berani lagi menawarkan Saira tumpangan karena pasti akan di tolaknya.