Adakah Cinta Di hatimu

Adakah Cinta Di hatimu
Bab 64


__ADS_3

Sely merasa bingung dengan sikap pak Rey yang begitu khawatir dengan Saira tidak biasanya dengan karyawan lainnya.


"Kenapa mbak Sely" tanya Saira melihat Sely diam saat pak Rey meninggalkan mereka. "Ah tidak, ayo kita lanjutkan pekerjaan kita" seru Sely.


Saira sudah merapikan meja kerjanya sementara Sely sedang menyiapkan keperluan rapat sore ini. Saira sudah tidak di ikutkan dalam rapat oleh pak Adrian mengingat Saira sudah hamil besar.


"Ra, kamu sudah dijemput" tanya Sely. "Belum mbak, suamiku masih di jalan mungkin sebentar lagi sampai" ujar Saira. "Ya sudah aku ke ruangan rapat ya" seru Sely. "Baik mbak, semangat!" Saira memberikan semangat kepada Sely yang akan rapat dengan mengepalkan tangan semangat.


Juan sudah sampai di parkiran dan Saira menghampiri mobil Juan dan langsung naik.


"Hallo sayang, bagaimana kerjaan mu hari ini" sapa Juan. "Baik kak" sahut Saira mencium tangan Juan. "Babynya tidak rewel kan" Juan mengusap perut Saira. " Alhamdulillah tidak rewel kak" jawab Saira.


Juan langsung mengemudikan mobilnya pulang ke apartemen.


"Yang besok libur mau keluar atau di apratemen saja" tanya Juan. "Memangnya kakak mau kemana?"tanya Saira. "Mau beli perlengkapan rumah saja" jawab Juan. "Ya sudah liat besok saja kak" sahut Saira. Saira bermalas malasan di hari liburnya. "Tumben yang, biasanya kamu yang paling rajin bangun pagi" ujar Juan melihat Saira bergulung selimut di tempat tidur. "Aku, lagi malas kak" "Ya sudah kamu tiduran saja nanti kakak yang siapkan sarapan kamu tidak perlu masak" ujar Juan keluar dari kamar.


Juan pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Selesai membuatkan sarapan Saira bangun langsung menuju sumber harum yang menggangu penciumannya yang menggugah untuk bangun.


"Loh kok sudah bangun" tanya Juan melihat Saira sudah ada di meja makan. "Bagaimana mau tidur kalau mencium harum masakan seperti ini" ujar Saira. "Maaf mengganggu tidurmu yang, tapi kamu dan babynya harus makan" ujar Juan. Menyajikan makanan di meja makan. Sana mandi dulu" seru Juan. Setelah Saira selesai membersihkan diri Saira kembali ke dapur untuk makan karena sudah tidak sabar menikmati makanan yang dibuatkan oleh suaminya.


Menu simple tapi terasa nikmat jika dibuatkan oleh orang yang di cintai sebenarnya orang lain pun bisa tapi bagi Saira jika Juan yang memasak serasa bahagia sekali. Wanita itu mudah hanya dengan perhatian kecil pun dia sudah merasa bahagia.


"Terima kasih kak" Saira memakan makanan sembari melihat Juan.

__ADS_1


"Yang nanti siang kakak mau keluar, mau membeli kebutuhan bulanan kita" ujar Juan. "Kamu mau ikut" tanya Juan. "Hmm..ayo kita keluar, kita belanja kebutuhan bulanan sama sama " seru Saira.


"Ya sudah kakak terserah kamu saja" jawab menurut pada Saira.


"Ayo yang" seru Juan menunggu Saira tidak keluar dari kamar dan langsung menghampiri Saira di kamar. "Yang, kamu belum ganti baju juga" Juan kesal Saira masih memilih milih baju dari lemari. "Kak, aku pakai baju yang mana" tanya Saira binggung. "Baju kamu itu banyak yang, tinggal pilih saja" Juan mengambil salah satu baju Saira.


"Tapi baju itu sudah tidak muat kak, nanti badan aku semakin terlihat besar" jawab Saira membuat Juan menepuk keningnya. "Terserah kamu sajalah, pokoknya kalau dalam 15 menit kamu tidak keluar kamar kakak tinggal" ancam Juan sembari pergi meninggalkan Saira di kamar.


Akhirnya Saira keluar dari kamar menggunakan baju yang sedikit longgar. Juan tidak berkomentar takut Saira berubah pikiran untuk mengganti pakaiannya.


"Ayo yang, sudah siap" tanya Juan. " Sudah kak" sahut Saira. Mereka pergi ke supermarket untuk belanja bulanan. Setelah keluar dari supermarket Juan mereka melewati baby shop tak jauh dari supermarket.


"Yang tunggu sebentar" tahan Juan. "Ada apa kak, ada yang lupa" tanya Saira ikut berhenti. "Kita masuk kesana Juan menunjuk toko perlengkapan bayi. "Kak, yang kemarin saja sudah banyak. Sudah ya nanti lagi takutnya tidak terpakai kalau kebanyakan" imbuh Saira.


"Yang, buahnya nanti tolong kupas ya!" seru Juan. "Iya kak" Saira merapikan belanjaannya ke tempatnya. Kemudian terdengar suara bel pintu apartemen berbunyi.


Ting tong.


Saira membukaan pintu.


"Assalamualaikum" sapa mamah dan di sambut oleh Saira mencium tangan mamah. "Mamah, Jenita kok tidak kasih tau mau ke sini" tanya Saira.


"Surprise dong Ra" ucap mamah. "Tahu nih kak, mamah paksa aku suruh antar mamah belanja" Jenita mengangkat tas belanjaannya memperlihatkan pada Saira. "Apa itu mah?" tanya Saira penasaran.

__ADS_1


"Ini mamah tadi tidak sengaja ke toko perlengkapan bayi lihat ini lucu lucu, ya sudah mamah beli" ujar mamah memperlihatkan satu persatu belanjaannya.


"Mamah, Jenita kapan datang?" Juan mencium tangan mamah di sambut Jenita mencium tangan Juan. "Mamah baru juga sampai kak" ucap mamah melanjutkan memperlihatkan belanjaannya.


"Mamah bawa apa saja, banyak sekali" Juan binggung melirik mamah dan Jenita, Jenita malah menyebik mengangkat bahunya.


"Ini loh kak, mamah bawaain buat calon cucu mamah" ujar mamah. "Tapi banyak sekali ini mah" protes Juan. "Mamah kenapa tidak tanya dulu sama Juan atau Saira" ujar Juan.


"Kelamaan kalau tanya dulu" ujar mamah dengan cueknya. Juan hanya mengelengkan kepala melihat sifat mamahnya yang suka heboh.


"Kak Saira kok perutnya keras sekali" Jenita memegang perut Saira penasaran. "Tidak berat memangnya" tanya Jenita dengan polosnya. Saira hanya tersenyum. "De, kalau wanita memang kodratnya seperti itu hamil dan melahirkan. Mamah juga dulu pas hamil kamu dan kakakmu sama ya berat ya susah untuk bergerak tapi di nikmati prosesnya. Nanti kamu juga akan merasakannya, eits nanti ya kalau sudah waktunya dan calonnya!" mamah memperingati.


"Ya iya dong mah Jeni kan belum lulus sekolah" jawab Jenita. "Anak kecil tugasnya bantu saja kak Saira nanti kalau sudah lahir bayinya hitung hitung latihan" tambah Juan terkekeh. "Ok, tapi kakak berani bayar berapa sama aku" jawab Jenita.


"Ya sudah kalau tidak mau bantu kakak kurangin uang jajan kamu dari kakak" seru Juan pura pura mengancam. "Yah jangan ke situ dong kak, bukannya menambahkan uang saku adiknya di kasih tugas baru" jawab Jenita cemberut.


Semuanya tertawa melihat Jeni yang sering di bercandai mamah dan Juan.


Lama mereka bersenda gurau dan akhirnya mamah dan Jenita pamit pulang.


"Kak, Ra mamah pulang ya. Kamu hati hati ya jaga kesehatan. Kalau ada apa apa hubungi mamah, papah atau Jeni ya" seru mamah. "Baik mah" Saira mencium tangan mamah. "Sehat sehat ya keponakan aunty" Jeni mencium tangan Saira dan mengelus perut Saira sebelum pulang.


"Kak, kalau Saira sudah mendekati HPL usahakan jangan pulang malam ya. Takut Saira kerasa tiba tiba" Mamah mengingatkan. "Iya mah" jawab Juan.

__ADS_1


__ADS_2