
Saira menyelesaikan pekerjaan agar dia bisa pulang dengan cepat sementara Juan hari ini sedang mengadakan rapat dengan direktur perusahaan dan para staf.
Hari ini Juan cukup disibukan dengan pekerjaan sehingga tidak bisa menjemput Saira dan membantu mempersiapkan acara tujuh bulanan besok.
"Yang, sudah di rumah" tanya Juan saat menghubungi Saira. "Sudah kak, baru sampai" jawab Saira yang baru masuk kamar. "Syukurlah, kakak akan pulang secepatnya kalau sudah beres pekerjaan kakak" ujar Juan. "Baiklah hati hati kak" seru Saira.
Setelah selesai membersihkan diri Saira menyempatkan datang ke kamar ibu untuk menanyakan persiapan untuk besok.
Waktu tak terasa sudah pukul 8 malam dan Juan baru pulang dari kantor.
"Assalamualaikum" ucap Juan memasuki rumah. "Wa'alaikumsalam" jawab Saira dan ibu. "Bu, aku ke kak Juan dulu ya" ucap Saira beranjak dari kamar ibu menghampiri Juan yang baru pulang.
"Kak, baru pulang" tanya Saira mencium tangan Juan. "Iya yang" jawab Juan. "Aku buatkan teh hangat ya kak" ujar Saira. " Iya" sahut Juan sembari beranjak ke kamar.
Saira membuatkan teh hangat dan susu hamil untuk dirinya.
"Kak, ini teh hangatnya" ucap Saira menyimpan tehnya di nakas kemudian Saira meminum susu hamilnya juga. "Saira berbincang sebentar dengan Juan sebelum tidur. "Yang, besok kamu jangan terlalu capek ya" Juan mengingatkan. "Iya sayang" jawab Saira memeluk Juan hingga tertidur.
Paginya sebelum acara syukuran di mulai mamah dan ibu di sibukan dengan persiapan baik makanan maupun persiapan acara yang dibantu dengan orang yang menyiapkan segala sesuatu yang di tunjuk oleh Juan.
Tamu mulai berdatangan mulai dari saudara terdekat hingga para tetangga sekitar rumah ibu dan ibu ibu pengajian.
Pembukaan acara di isi dengan lantunan ayat ayat suci alquran dan sholawatan yang di pimpin oleh ustadzah.
Di akhir acara ibu ibu mengucapkan selamat dan ikut mendoakan.
"Semoga lancar sampai nanti lahirannya ya " ucap salah satu ibu ibu. "Iya biar lungsur langsar lahirnya" tambah ibu lainnya. "Aamiin, terima kasih" sahut Saira. "Terima kasih ibu ibu sudah berkenan hadir di syukuran anak kami" ucap ibu dan mamah bersalaman dengan ibu ibu.
Tamu satu persatu pulang. Saira masih berbincang dengan mamah dan saudara yang belum pulang, sementara Juan berkumpul dengan para bapak bapak.
__ADS_1
Para ibu ibu sedang membicarakan pengalaman proses melahirkan masing masing, ada yang secara normal ada juga yang melalui secar dengan keluhan dan pertimbangan masing masing.
"Kalau sudah waktunya lahir yang penting jangan panik Ra, tetap tenang tapi kita sudah mempersiapkan mulai dari perlengkapan melahirkan sampai perlengkapan bayi baru lahir sudah disiapkan " ujar bi Nina salah satu saudara dari ibu.
"Iya, Saira juga harus jaga kondisi kesehatannya karena kalau melahirkan normal butuh tenaga yang kuat, kalau bisa makan yang banyak dulu" imbuh bi Rina.
Saira mendengarkan satu persatu nasihat dari orang orang yang sudah berpengalaman agar nanti pas waktunya sudah ada gambarannya.
" Kalau begitu kami pamit ya" ucap saudara saudara dari ibu pamit pulang. Tidak lama Mamah Sinta pun berpamitan karena sudah selesai acaranya.
"Sehat sehat ya menantu dan calon cucu mamah, jaga kesehatan jangan kecapean" mamah mengingatkan. "Iya mah, terima kasih mah" Sahut Saira mencium tangan mamah dan papah.
"Kami pulang ya mbak, mas" pamit mamah dan papah pada ibu juga ayah. "Iya terima kasih, hati hati" seru ayah.
"Kamu jangan lupa mulai membelikan perlengkapan melahirkan dan calon bayimu" ibu berbisik mengingatkan Juan. "Iya mah, kan baru tujuh bulannya" jawab Juan. "Iya, makannya jangan sampai lupa" seru mamah. "Iya mah" sahut Juan menganguk.
Saira sudah akan ikut merapikan ruangan." Eh, jangan nak biar ibu sama bu isah yang merapikannya" larang ibu. "Ya sudah Saira ke kamar dulu ya bu" ucap Saira.
Ibu melarang Saira membantu karena tahu Saira sering membantu ibunya setiap ada acara, maka ibu meminta bantuan bu Isah tetangga ibu yang biasa membantu ibu jika ibu repot berjualan.
"Yang, besok setelah dari dokter kandungan kita belanja ya. Kita nyicil perlengkapan bayi" ujar Juan. "Iya kak" sahut Juan.
Besoknya Saira dan Juan berpamitan pulang karena akan ada jadwal cek up dengan dokter kandungan sorenya.
"Ibu, ayah kami pamit dulu, sekalian kami akan ke dokter kandungan " ucap Juan mencium tangan Ayah dan ibu. "Aku pulang ya bu, ayah. Terima kasih" Saira mencium tangan dan memeluk ibu.
"Ibu selalu mendoakan kalian sehat dan lancar semuanya" ujar ibu mendoakn. "Aamiin" Juan dan Saira menjawab. Mereka pergi menuju rumah sakit tempat biasa Saira periksa. "Dan rumah sakit ini juga yang akan jadi tempat pilihan Saira nanti lahiran.
"Yang semoga sekarang sudah terlihat ya jenis kelaminnya. Kakak sudah tidak sabar" Juan di sela sela antrian dokter. " Iya kak" jawab Saira singkat yang sebenarnya ada perasaan takut.
__ADS_1
"Ibu Saira" panggil perawat.
"Iya saya sus" sahut Saira.
"Silakan di tensi dan di timbang dulu" seru perawat. "Ibu tensinya agak tinggi ya, dan berat badannya naik juga" perawat tersebut sembari mencatat buku kehamilan.
"Silakan masuk" seru perawat mempersilakan. Saira dan Juan masuk ke ruang periksa.
"Selamat sore ibu dan bapak" sapa dokter Fatma. "Bagaiamana ibu Saira apa ada keluhan" tanya dokter. "Tidak dok" jawab Saira menggeleng. Dokter melihat keterangan di buku catatan yang tadi di catat perawat. "Ibu tekanan darahnya sedang tinggi ya tapi berat badannya bagus naik dari bulan sebelumnya" ujar dokter. Saira menengok ke sebelah Juan.
"Apa ibu kecapean atau ada beban atau yang dipikirkan" imbuh dokter. "Hmm, sepertinya saya hanya tegang saja dok karena mau diperiksa" Saira menutupi walau salah satunya itu juga tapi sebenarnya lebih ke takut akan mengetahui jenis kelamin bayinya. Takut tidak sesuai yang diharapkan Juan dan mertuanya.
"Baik kita periksa dulu ya, silakan ibu berbaring. dokter mengarahkan ke tempat pemeriksaan.
"Ibu jangan tegang rilex saja" dokter melihat Saira tegang saat alat usg bergerak gerak di atas perut Saira. "Dok, apa sudag bisa terlihat jenis kelaminnya" Juan tiba tiba bertanya. Saira melirik ke arah Juan dan semakin tegang.
"Sebentar ya pak kita lihat dulu" dokter mengarahkan alat usgnya mencari posisi yang pas.
"Sudah pak, coba ibu dan bapak perhatikan" dokter Fatma sengaja memperbesar ukuran nya Juan semakin antusias. " Ayo dek kasih tahu ayah ibu adiknya cantik atau ganteng" canda dokter untuk mencairkan suasana.
"Selamat ya ibu dan bapak babynya ganteng, mudah mudahan tidak berubah nanti sampai lahir" ujar dokter.
Juan senang mendengarnya sementara Saira sudah menahan matanya yang berkaca kaca.
"Ibu jangan terlalu banyak pikiran ya, tenangkan pikirannya. Dan bapak tolong perhatikan ibunya ya kalau bisa jangan ada tekanan atau beban pikiran saat kehamilan apalagi menjelang persalinan sebentar lagi. Nanti akan mempengaruhi proses kelahiran ibu dan bayinya" terang dokter.
"Baik dok, Terima kasih. ujar Juan. "Terima kasih dokter" ucap Saira dan meninggalkan ruangan tersebut.
"Ayo yang, kita langsung ke mall ya kita cari perlengkapan bayi" Juan semangat. "Iya kak" Saira tersenyum lega.
__ADS_1