Adakah Cinta Di hatimu

Adakah Cinta Di hatimu
Bab 23


__ADS_3

Saira terdiam melihat sikap Juan yang marah karena pertanyaan Saira tentang Gwen. "Apa aku salah karena bertanya, apa aku tidak boleh curiga pada wanita yang jelas jelas ingin merebut kekasihnya"? Saira berkecamuk dengan pikirannya sendiri. Saira mengalah dan menghampiri Juan ke balkon.


"Maafkan aku kak, sudah banyak bertanya dan curiga pada kakak". Lirih Saira. Juan membalikan badan dan mematikan rokoknya.


"Sudahlah, maafkan kakak juga sudah keras padamu". Jawab Juan dengan memegang pundak Saira yang dijawab dengan anggukan oleh Saira.


"Ayo masuk" ajak Juan dengan mengiring bahu Saira masuk ke dalam. "Sebentar lagi kakak akan mengantarkan mu pulang". Ucap Juan. "Iya kak", jawab Saira. Juan menganti bajunya dan langsung mengambil kunci mobil. Mereka pergi meninggalkan apartemen menuju rumah Saira.


Di mobil tidak ada yang memulai pembicaraan hanya keheningan saja yang ada. Sesampainya dirumah Juan membantu menurunkan beberapa barang yang dibawa pulang oleh Saira di dalam mobil Juan. Setelah berpamitan Juan langsung pergi dan bersikap biasa saja di depan orang tua Saira seolah olah tidak terjadi apa apa.


Saira hanya memperhatikan sikap Juan yang masih bersikap dingin terhadapnya.


"Yang kakak pulang dulu ya, kamu istirahat ya. Nanti kabari kakak kalau ada apa apa". UjarJuan masih dengan perhatiannya walau sedikit berbeda. "Baik kak, kakak juga banyak istirahat ya. Terima kasih sudah mengantarku". Saira tersenyum dan mencium tangan Juan dan dibalas dengan senyuman singkat Juan.


Huft..Saira menghela nafas dengan kenyataanya bahwa setiap kesalahan dia tidak bisa marah dan seolah olah setiap perbuatan selalu salah di mata Juan. Saira masuk ke dalam rumah dan merapikan barangnya yang tadi di bawa. Kemudian ibu masuk ke kamar Saira.


"Nak, kamu sudah membawa sebagian barang barangmu pulang"? "Iya bu" jawab Saira. Memangnya kamu sudah tidak ada kuliah lagi setelah ini" tanya ibu. "Sudah tidak ada kuliah lagi bu, paling tinggal nunggu jadwal wisuda bu." Saira sembari melanjutkan merapikan barang barangny. " Nanti kosan kamu bagaimana"? tanya ibu lagi.


"Akhir bulan ini kosan aku habis bu, mau tidak mau aku harus mengosongkan nya, kan sayang kalau harus bayar lagi sedangkan aku sudah tidak banyak kegiatan disana" sahut Saira. " Oh ya sudah kalau seperti itu. Nanti ibu bilang sama ayah untuk meminjam mobil pak Ahmad tetangga kita untuk membawa sisa barang barang kamu disana" ucap ibu. "Baik bu" sahut Saira. Saira sudah tidak enak untuk meminta bantuan terlalu sering ke Juan takutnya dia sering merepotkannya.

__ADS_1


Hari hari berikutnya Juan jarang menemui Saira karena kesibukannya dan Saira di rumah kembali membantu ibunya untuk berjualan. Juan sering bepergian dengan Gwen karena pekerjaan yang menjadi kesempatan oleh Gwen untuk dekat dengan Juan. Apabila Juan sering dengan Gwen maka Gwen sebisa mungkin selalu berusaha untuk menghindarkan pikiran Juan terhadap Saira dan itu berhasil. Juan sudah beberapa hari ini tidak menghubungi Saira.


Saira dengan pikirannya yang kemana mana sudah membayangkan bahwa Juan saat ini sudah tidak seperhatian dulu jarang komunikasi dan membayangkan dia sudah memiliki yang lain.


"Apa aku hubungi dia duluan ya, ah tapi aku takut menggangunya. Nanti dia pikir aku yang mengemis ingin dihubungi. Sudahlah biarkan saja jika dia masih ingat aku juga pasti menghubungiku".


Saat malam tiba selepas solat isya. Pintu kamar Saira diketuk oleh ibu.


Tok tok..


"Ra, Saira"! panggil ibu


"Iya bu ada apa"? Saira membukankan pintu. "Di depan ada nak Juan kamu sana temui kasian dia datang ingin bertemu kamu". Ujar ibu. "Iya bu sebentar aku akan kedepan", sembari merapikan mukenanya.


" Tidak bolehkah kakak datang ke sini"? tanya Juan yang masih menggunakan baju kerjanya. "Bukan begitu kak, tapi tumben saja tiba tiba kakak datang di jam segini" sahut Saira. "Kakak kangen sama kamu yang", Juan langsung mengelus rambut Saira. "Oh" jawab Saira singkat. "Kok oh saja sih, memang kamu tidak merindukan kakak". Juan menaikan halisnya. "Iya" dengan pelan Saira menjawab.


"Kita keluar yuk yang, sudah lama kita tidak nge date", ajak Juan. "Hah, keluar" Saira binggung. "Iya keluar" juan memastikan. "Em, sebentar aku izin dulu sama ayah", sahut Saira.


Saira menghampiri ayah yang sedang beristirahat di ruang tengah.

__ADS_1


"Yah, boleh tidak aku keluar dengan kak Juan sebentar"? izin Saira. Ayah lalu melihat jam dinding yang menunjukan pukul 8 malam. "Boleh, tapi jangan malam malam pulangnya"! ayah memperingati. "Baik ayah, aku pergi dulu ya". Saira tersenyum. Dan Saira bergegas ke kamar dahulu sebelum meenghampiri Juan untuk berganti pakain.


"Ayo kak" ucap Saira. "Lest go" Juan tersenyum dan langsung berjalan masuk mobil. "Kamu sudah izin sama ayah"? tanya Juan. "Sudah kak, kata ayah pulangnya jangan malam malam" ujar Saira. "Oh tenang saja tidak akan malam malam kok pulangnya paling pagi dianterinnya". Canda Juan. " Ih, apaan sih kak, mau digantung aku sama ayah" Saira memukul tangan Juan. " Tidak digantung palingan juga di suruh cepat nikahin". Goda Juan yang menambah kesal Saira.


"Yang, maaf ya kemarin kemarin kakak sibuk jadi jarang menghubungi mu". Ujar Juan. "Iya tidak apa apa kak", jawab Saira.


"Ngomong ngomong kamu kapan kamu wisuda" tanya Juan. "Insya Allah akhir bulan depan kak", jawab Saira.


"Nanti kakak antar ya, kamu kabari aja tanggal pastinya supaya kakak bisa ambil cuti jauh jauh hari". terang Juan. "Siap kak".


Juan mengarahkan mobilnya ke salah satu kafe di daerah tersebut yang tidak begitu ramai. Tiba di kafe Juan langsung memilih menu.


"Yang, kamu mau pesan apa" Juan sambil melihat lihat buku menu. "Aku minuman saja kak, aku sudah makan tadi" sahut Saira. "Jangan minuman saja dong temani kakak makan, kakak belum makan malam loh ini kakak sengaja ke rumah kamu langsung dari kantor belum sempat makan" Ujar Juan.


"Ya sudah aku cemilan saja deh" pilih Saira. Juan memesankan makanan nasi dan makanan ringan untuk Saira.


Selesai makan Juan berbincang sebentar dengan Saira. Juan melihat jam tangan sudah menunjukan pukul 9 malam waktunya mengantar Saira.


"Ayo sayang kita pulang". Juan langsung ke meja kasir untuk membayar tagihannya dan Saira mengikuti dibelakang Juan. Sesampainya di rumah Saira Juan tidak langsung turun dari mobil tetapi langsung menahan tangan Saira dan menarik tengkuknya dan menempelkan bibir Juan ke bibir Saira, mereka saling menikmati ci*man itu, dan Saira sadar mereka ada di depan rumahnya dan menghentikannya takut tiba tiba ada yang memergokinya.

__ADS_1


"Aku masuk ya kak, kakak tidak usah mengantarkan aku ke dalam sudah malam" Ucap Saira memecah kegugupan. "Baiklah, tolong sampaikan ke ayah kakak langsung pulang" Ujar Juan. "Iya kak" Saira langsung turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah sembari menahan malu karena kejadian barusan.


"Baru pulang nak"? tanya ayah yang masih menunggu di ruang tamu. "Oh iya yah" Saira kaget sejak kapan ayahnya di sana, apakah tadi lihat apa yang dilakukannya di dalam mobil bersama Juan". Pikir Saira dalam hati. "Maaf tadi kak Juan langsung pulang tidak berpamitan ke ayah karena sudah malam". Ucap Saira gugup. "Tidak apa apa, kamu langsung istirahat ya sudah malam". Ucap ayah. " Baik yah", Saira merasa lega karena ayahnya tidak melihatnya jadi tidak.marah.


__ADS_2