
Juan mengangkat bawaannya ke dalam bagasi mobil. kemudian Juan dan Saira berpamitan ke mamah dan papah.
"Jaga kesehatan ya Ra, kalau tiba tiba kerasa cepat hubungi kami" ucap mamah "Baik mah" sahut Saira. "Ra, sebaiknya kamu sudah tinggal di mamah atau ibu mu, mamah khawatir kalau tiba tiba kamu kerasa tapi Juan sedang tidak ada" mamah khawatir.
"Iya mah rencananya begitu tapi karena jadwal HPL Saira masih lama nanti saja ya mah" jelas Saira. "Ya baiklah terserah kamu saja Ra, mamah hanya bisa mendoakan mu lancar dan baik baik saja" mamah memeluk dan membelai rambut Saira. "Terima kasih ya mah, Saira pamit" Saira mencium tangan mamah dan papah di ikuti oleh Juan.
Mobil Juan meninggalkan pekarangan rumah mamah.
"Kak, banyak sekali bawaannya" Saira melirik Juan. "Ya sudah sih yang tidak apa, dari pada mamah tersinggung kalau kita tolak" ucap Juan. "Bukan menolak kak, tapi itu kebanyakan dan belum tentu..." Saira belum menyelesaikan bicara. "Sudah yang disimpan saja nanti kita pilih lagi" potong Juan.
Saira langsung terdiam dan merasa ucapannya menyinggung suaminya.
"Maafkan aku ya kak, aku tidak bermaksud apa apa" jelas Saira. "Sudahlah yang, tidak apa" Juan meneruskan menyetirnya tanpa berbicara lagi.
Sampai di apartemen Juan langsung membantu Saira merapikan bawaan yang tadi di berikan oleh mamah.
"Yang, ini disimpan di mana?" tanya Juan. "Simpan dulu saja di box samping lemari kak, nanti aku rapikan sebelum dimasukan ke lemari" sahut Saira. "Ok" Jawab Juan meletakan barang barang tersebut.
"Yang, masih ada yang kakak bantu?" tanya Juan. "Sudah tidak ada kak" sahut Saira. "Kalau sudah tidak ada yang kakak bantu kakak mandi dulu ya" ujar Juan. " Sudah kok kak, nanti sama aku sisanya. Kakak mandi saja duluan" seru Saira.
Juan mengangguk dan bergegas ke kamar mandi, sementara Saira masih berkutat di dapur memasukan makanan yang tadi diberi mamah ke dalam wadah.
Setelah selesai lalu Saira membersihkan diri ke kamar mandi.
__ADS_1
"Yang kamu kapan mengajukan cuti" tanya Juan. "Mungkin minggu depan kak, menurut dokter kemungkinan HPL aku sekitar 2 mingguan lagi" jelas Saira. " Baiklah" nanti kamu tinggal pilih mau tinggal di rumah mamah atau ibu?" Juan memberikan pilihan tinggal untuk Saira menyiapkan kelahirannya. "Bagaimana nanti saja kak, masih lama ini" ujar Saira.
"Bukan begitu yang, kakak khawatir sama kamu, kalau terjadi apa apa sama kamu saat kakak tidak ada di apartemen bagaimana" ujar Juan mengingatkan. "Kemungkinan minggu depan aku mulai menyiapkannya kak, sekalian aku cuti minggu depan" jelas Saira.
"Baiklah, nanti kasih tahu kakak mau dimana nya supaya kakak bisa membantumu" ujar Juan. "Iya kak" sahut Saira. Saira sebelum tidur mengerjakan tugas kantor yang sebenarnya ini untuk tugas beberapa minggu kedepannya berikut catatan untuk tugas yang akan di handle oleh Yura kedepannya.
"Yang, jangan tidur malam malam!" Juan mengingatkan. "Iya kak, sebentar lagi" jawab Saira. "Tumben kamu bawa kerjaan pulang" tanya Juan. "Untuk persiapan saja kak, aku sudah mulai membuat konsep untuk orang yang akan menghandle pekerjaan aku nanti jika aku cuti supaya dia tidak bingung lagi.
Juan sudah tidak kuat dan tidur terlebih dahulu sedangkan Saira masih mengetik di laptopnya.
"Alhamdulillah, akhirnya selesai semoga bisa membantumu Yura" gumam Saira. Kemudian Saira merapikan laptopnya dan bersiap untuk tidur. "Hmm, ternyata kak Juan sudah tidur"Saira bermonolog dan mengikuti tidur di samping Juan.
Hingga ke esokan harinya Saira terbangun dan melihat Juan sudah tidak ada di tempat tidurnya. Saira turun dari tempat tidurnya menyusuri kamar, terdengar suara gemiricik air dari dalam kamar mandi.
"Kak, tumben sudah mandi pagi pagi" tanya Saira heran biasanya Saira yang selalu bangun terlebih dahulu. "Iya kakak ada urusan pagi pagi sekali, kamu bisa bersiap siap lebih pagi sekarang" seru Juan. "Bisa kak" Saira langsung pergi ke kamar mandi. Setelah itu menyiapkan sarapan hanya dengan roti lapis karena tidak sempat memasak.
"Aku sudah siap kak" ucap Saira selesai makan. "Baik, kakak ambil tas dulu" ucap Juan mengambil tasnya dan keluar bersama Saira menunju parkiran mobil.
Di sela sela menyetir.
"Yang, nanti akan ada kejutan untukmu tapi kakak tidak akan memberitahumu sekarang" ujar Juan. "Kalau tidak mau memberi tahuku ya jangan berbicara sekarang dong kak, kan buat aku penasaran saja" sahut Saira.
"Ya, kakak hanya memberitahukan mu saja nanti akan ada kejutan untukmu, kamu jangan kaget" ujar Juan. "Apa itu kak, ada clue nya tidak" tanya Saira penasaran. "Ada saja pokoknya ini menyangkut masa depan kita" Juan tersenyum.
__ADS_1
"Saira terus berpikir kira kira akan ada apa ya" pikir Saira. "Sudah yang nanti juga kamu akan tahu" ucap Juan melihat Saira melamun.
"Kak, apa pekerjaan kakak akhir akhir ini sedang banyak" tanya Saira yang sebenarnya tidak ingin menanyakan tapi karena penasaran pulang malam terus Saira memberanikan diri.
"Ya begitulah yang, pekerjaan kakak tidak ada selesainya dan kakak sedang kejar target akan sesuatu" terang Juan. "Oh ya, jika itu urusan kerjaan semoga kak Juan sehat terus dan targetnya bisa tercapai" ujar Saira memberi dukungan.
Juan sempat terdiam sebentar dan langsung mengucapkan terima kasih pada Saira yang selalu mendukungnya.
"Kak, apa ini kenapa ya kadang mempunyai pikiran yang tidak tidak tentang kakak, apa karena hormon kehamilan yang menjadikan aku seperti ini lebih sensitif perasaannya" ungkap Saira.
Juan yang mendengarnya di dalam mobil hanya bisa menghela nafas mendengar Saira lebih banyak cerita tentang perasaan. Mungkin karena mood swingnya jadi seperti itu. Juan hanya bisa menjawab secukupnya agar tidak ada lagu pertanyaan berikutnya karena membahas perasaan akan panjang.
Dan entah apa yang di rasakan oleh Juan pun tidak tahu. Apa dia sudah mulai mencintai Saira seutuhnya apa hanya keterbiasaan saja yang menjadikan dirinya nyaman. Entah lah hanya Juan yang tahu akan perasaannya.
Mobil Juan telah sampai di gedung tempat Saira bekerja, sebelum Juan berangkat lagi meneruskan perjalannya ke tempat kerja Juan.
"Sayang, hati hati ya, selalu ingat aku dan bayi kita mencintaimu Dad" ucap Saira sebelum keluar dari mobil. "Iya sayang" Juan hanya tersenyum mendengarnya. Kemudian Juan melanjutkan perjalananya.
Di perjalanan Juan memikirkan kata kata yang diucapakan Saira tadi.
Hingga mobil Juan sampai. Juan memarkirkan mobilnya di tempat biasa hingga sampai lobi kantornya seseorang memanggilnya.
"Juan" Panggil seseorang.
__ADS_1
Juan mengedarkan pandangannya ke arah suara yang memanggil namanya.