Adakah Cinta Di hatimu

Adakah Cinta Di hatimu
Bab 26


__ADS_3

Saira di kamar terus memikirkan apa yang ibunya ucapkan. Terlepas dari kesalahan papahnya yang dulu meninggalkan ibu, Saira dan kak Safa saat itu tapi Saira teringat kembali ucapan ibunya yang memang benar syarat sahnya pernikahan anak perempuan salah satunya adalah wali nikah (ayah kandungnya sendiri).


Meskipun Saira saat terjadinya perpisahan antara ibu dan papahnya masih kecil belum mengerti tapi lambat laun dengan bertambahnya usia akhirnya Saira mengerti mengapa ibu dan papahnya berpisah.


"Menjadi dewasa itu tidak gampang, apalagi dengan dunia pernikahan butuh pemikiran yang matang untuk melangkahnya" gumam Saira yang masih mengotak ngatik isi kontak dalam ponselnya. Saira bingung apa harus menghubungi papahnya atau tidak usah sama sekali.


Tiba tiba ada pesan masuk dari kampusnya yang memberitahukan jadwal wisuda angkatanya. "Alhamdulillah sudah keluar jadwalnya, aku harus kasih tahu ibu dan ayah" ujar Saira. "Oh iya lupa kak Juan juga harus di beritahu kalau tidak nanti bisa marah lagi" gumamnya.


"Bu, ibu" Saira mencari ibunya didapur. "Ada apa nak. "Bu jadwal wisudanya sudah ada nanti ibu dan ayah bisa kan ikut menghadirinya" tanya Saira. "Insya Allah nak ibu akan usahakan mudah mudahan ayah kamu juga bisa. Nanti kita pinjam lagi mobilnya pak Ahmad ya" terang ibu.


"Iya bu" sahut ibu. "Oh iya bu kebaya yang waktu aku lulus SMA masih ada kan"? tanya Saira. "Coba kamu lihat di lemari ibu, kamu coba lagi kebayanya masih muat tidak, itu kan sudah hampir 4 tahun yang lalu kamu memakainya" ujar ibu.


"Iya bu, semoga masih cukup supaya tidak usah beli lagi". Saira tersenyum. "Lusa aku juga mau ke kampus ya bu mau mengambil perlengkapan wisuda di kampus" izin Saira."Iya boleh nak, tapi sama siapa kamu kesananya"? tanya ibu. "Belum tahu bu, mungkin sendiri".


Saira mengirim pesan ke Juan memberitahuan jadwal wisuda Saira. Tak lama Juan langsung mengubungi Saira


Dert dert..


Juan :"Assalamualaikum . Yang, kamu Wisuda jadinya tanggal 28?


Saira : "Iya kak"


Juan : " Ya sudah kakak akan ajukan cuti dari sekarang supaya bisa mengantarmu ke acara wisuda"


Saira : "Kak Juan kalau sedang repot tidak apa apa aku sm ibu dan ayah saja"


Juan : "Kakak sedang tidak terlalu repot kok yang"


Saira : "Baik lah kalau tidak merepotkan kakak" dan besok aku mau ke kampus dulu kak karena ada yang harus aku ambil dikampus.


Juan : "Ya, tapi maaf untuk besok kakak tidak bisa mengantarmu yang"

__ADS_1


Saira : Tidak apa apa kak, aku sendiri saja hanya sebentar kok aku ke kampusnya"


Juan : "Ya sudah kakak matikan ya teleponnya. Assalamualaikum"


Saira : "Wa'alaikumsalam"


Saira memilah milah baju kebayanya yang ada lemari ibu. "Akhirnya, ketemu aku coba deh" gumam Saira.


Saira mencoba kembali baju kebaya yang bekas perpisahan kelulusan SMA nya dengan susah payah Saira mengancingkan kebayanya. "Alhamdulillah masih cukup walau agak sempit dikit" ujar Saira senang.


Saira berlengak lengok di cermin memantaskan kebayanya. "Hem..lumayan masih bagus untuk dipakai wisuda nanti, sekarang aku cuci lagi deh supaya terlihat baru dan wangi" pikirnya.


Hari sudah petang Saira bersiap untuk menjalalankan solat magrib dan tak lupa mengisi waktu menjelang isya untuk mengaji.


Keesokan harinya Saira berpamitan ke ayah dan ibu, kebetulan saat itu kak Safa sedang libur ada dirumah jadi yang mengantar ke terminal oleh lak Safa.


Diperjalan Saira berbicara pada kakaknya Safa.


" Kenapa kamu tiba tiba menanyakan itu, Ra"? tanya Safa aneh. "Tidak, hanya ingin tahu saja" sahut Saira. "Kamu anak kecil ingin tahu saja" seru Juan tak menjawab.


"Ish, kakak aku kan ingin tahu." ucap Saira. Saira tak melanjutkan bertanya lagi kepada kakaknya.


Sesampainya di terminal Saira langsung menuju ke mobil bus yang ditujunya.


"Kak, Saira berangkat" sembari mencium tangan kak Safa takzim. "Iya, hati hati kamu di jalan Ra". Safa menunggu sampai Saira masuk ke dalam bus tersebut sebelum pulang.


Bus yang ditumpangi Saira telah sampai di kota Bandung. Saira langsung menyambung kembali dengan menaiki angkutan kota (angkot) langsung ke kampusnya karena Saira sudah tidak punya kosan lagi.


Sesampainya di kampus Saira langsung mencari teman temannya yang sekelas, di sana Saira mencari informasi kepada teman yang dia kenal untuk menanyakan ruangan yang dituju untuk menggambil perlengkapan wisuda.


"Halo Na, kamu juga mau ambil perlengkapan untuk wisuda," tanya Saira. "Iya Ra," sahut Nina yang juga teman Saira di kelas tapi tidak terlalu dekat. " Kamu sudah tahu tempatnya" tanya Saira lagi. "Iya, kalau begitu ayo!" Ajak Nina.

__ADS_1


"Ra, tumben kamu tidak sama teman teman kamu, kalian kan sudah seperti carles angel yang kemana mana selalu bertiga" tanya Nina. "Oh, Tania sama Fika. Mereka datangnya nanti siang karena ada keperluan dulu. Kalau aku sengaja datang pagi supaya siang aku sudah bisa pulang lagi." Terang Saira.


"Memang kamu langsung pulang kerumah mu tidak ke kosan dulu" tanya Nina. "Aku sudah tidak ngekos lagi Na, sayang sudah tidak ada perkuliahan lagi cuma sesekali datang saja" jawab Saira.


"Iya juga sih, tapi apa kamu tidak capek," ujar Nina. "Ya mau bagaimana lagi, biar hemat" Saira sambil mengedipkan matanya dan tersenyum.


Setelah mereka selesai ke bagian persiapan wisuda. Saira berjalan menuju ke arah keluar kampus dan tak sengaja ada yang memanggil namanya, dan suaranya hampir tidak asing lagi.


"Ra" panggil seseorang. Saira langsung menoleh ke belakang. "Kak Valen" sahut Saira kaget. "Hai Ra, apa kabar" Valen mengulurkan tangannya. "Alhamdulillah baik kak" jawab Saira sembari menerima uluran tangan Valen.


"Kakak apa kabar juga" tanya Saira. "seperti yang kamu lihat aku baik" Valen mencoba tersenyum getir sebenarnya hatinya tidak baik karena perasaan yang tidak terbalaskan.


"Syukurlah, kakak sedang apa di sini?" tanya Saira dengan menampakan senyumannya. "Aku sedang ada projek yang harus bolak balik kampus, dan tadi aku melihat kamu di kampus" jawab Valen. Bisa kita ngobrol sebentar Ra, aku janji sebentar saja" Valen khawatir Saira menolaknya. "Sebenarnya aku setelah ini akan langsung pulang kerumah sih kak takut kesorean. Tapi tidak apa apa kalau sebentar saja" ujar Saira.


Valen mengajaknya ke salah satu kafe yang dekat dengan kampus.


"Di sana mereka memesan minum sambil mengobrol ringan tentang Saira dan sahabat sahabatnya.


"Ra, sebelumnya aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu yang selama ini selalu menganjal di hati aku.


Lama Valen berbicara.


Sebenarnya sudah lama ingin di katakan tapi belum ada kesempatan saja." Ujar Valen. " Ada apa kak, katakan saja" sahut Saira.


"Tapi setelah itu kamu janji ya jangan berubah sama aku" ucap Valen. "Ih apa sih kak Valen bikin aku penasaran saja" Saira penasaran.


"Sebenarnya aku suka sama kamu Ra," Ucap Valen serius. "Ya kalau suka tidak apa apa kak, yang aneh itu kalau kak Valen benci sama aku" Saira tertawa ringan. "Aku serius Ra, aku bukan hanya suka tapi cinta sama kamu Ra, entah kenapa rasa itu selalu tumbuh bukannya berkurang untuk kamu". Valen berterus terang. Saira yang tadinya tertawa langsung terdiam.


"Aku tahu dengan diamnya kamu menunjukan jawaban bahwa kamu tidak menerima cintaku" ujar Valen.


"Cinta memang tidak harus memiliki tapi karena rasa cinta ini terlalu besar untukmu dengan melihat mu bahagia dengan pasanganmu aku ikut bahagia karena orang yang aku cintai hidup bahagia, kamu harus janji ya Ra, kamu harus bahagia jika kamu tidak bahagia aku ikut tersakiti." Terang Juan mengungkapkan perasaanya yang selama ini dia pendam.

__ADS_1


"Maaf," hanya kata itu yang sanggup Saira ucapkan bahkan matanya pun mulai berkaca kaca. Seandainya dia belum mengenal Juan mungkin dia akan memilih Valen yang sudah jelas mencintainya tidak meragukannya. Karena selama mengenal Valen Saira merasa Valen sosok pria yang dewasa dan bertanggung jawab dan halus cara memberi perhatiannya.


__ADS_2