
"Kenapa yang" tanya Juan melihat Saira masuk kamar dengan wajah ditekuk.
"Tidak kak" Saira berbaring di ranjang. "Kamu izin sakit sampai kapan" tanya Juan. "Lusa aku sudah masuk lagi kak" tidak enak pegawai baru sudah banyak cuti" ujar Saira.
Mereka sudah berbaikan kembali, Saira tidak memperpanjang kesalahpahaman mereka karena Juan sudah tidak bertemu kembali dengan mantan kekasihnya itu yang di lihat Saira tapi entah jika di belakangnya.
Juan pun mengurangi komunikasi dengan Helena walau sesekali masih mengirim pesan atau telepon jika di kantor.
Karena Juan tidak ingin terjadi apa apa pada Saira dan calon bayinya.
Helena kesal hubungannya dengan Juan sekarang jauh lagi, sebelumnya dia sudah hampir dekat lagi dengan Juan karena masalahnya dengan suaminya, sekarang Helena menelan pil pahit karena mengetahui Saira sedang mengandung anak Juan.
Begitu pun dengan Gwen, semenjak mendengar Saira sedang hamil Juan sering pulang cepat tidak ada waktu lagi untuk berbincang sambil nongkrong di kafe atau sekedar mengantarkan pulang.
Juan semakin perhatian pada Saira sehingga Juan lebih protektif pada Saira. Apa yang di makan akan di cek dulu kebersihan dan nilai gizinya.
Di kantor Saira seperti di istimewakan, pekerjaan yang biasanya menumpuk sekarang dikurangi. Itu berkat campur tangan Rey yang sudah tau pertama kali jika Saira hamil.
"Mbak Sely berkas yang kemarin diberikan pak Adrian kemana mbak?" tanya Saira yang melihat beberapa berkas sudah tidak ada di mejanya.
"Sudah aku selesaikan Ra, tadi pagi pak Rey memintanya segera diselesaikan dan aku yang harus mengerjakannya" ujar Sely.
"Maaf ya mbak Sely itu kan tugas aku, malah dikerjakan sama mbak Sely" Saira merasa tidak enak. "Sudahlah Ra, aku juga sedang tidak banyak pekerjaan" sahut Sely. Nanti juga ada waktunya kamu harus bantu aku kalau aku sedang repot" ucap Sely.
"Siap mbak Sely" Saira tersenyum senang.
Sore ini Juan menjemput Saira seperti biasa, karena sering menjemput satpam di kantor Saira jadi hapal dan mereka kadang suka berbincang sembari menunggu Saira keluar kantor.
Jam kantor selesai sore itu Siara pulang agak telat dari biasanya karena ada yang harus dibahas materi yang akan di rapatkan besok pagi dengan pak Rey dan pak Adrian.
__ADS_1
Saira keluar bersamaan dengan Rey dan Adrian.
Juan teringat, pria itu sepertinya pernah melihatnya tapi dimana?
Rey dan Adrian berpisah menuju mobil masing masing di parkiran. Sedangkan Saira mencari cari Juan.
"Saira" panggil Juan.
"Ah iya kak" Saira menghampiri Juan dan mencium tangan Juan.
"Kakak sudah lama menunggu" tanya Saira. "Ya lumayan hampir setengah jam yang lalu. Untung ada pak satpam yang menemani kakak mengobrol jadi tidak bosan kakak" ujar Juan.
"Maafkan Saira kak, tadi Saira ada sedikit pekerjaan yang harus dibahas untuk besok rapat" jelas Saira.
"Iya tidak apa apa yang" sahut Juan.
"Yang, kakak mau tanya?" tanya Juan.
"Hmm" sahut Saira. "Kakak mau tanya pria yang mengantarkan kamu ke rumah sakit siapa, kok tiba tiba dia muncul pas kamu mau jatuh pingsan" tanya Juan penasaran.
"Oh, itu pak Rey. Atasan Saira di kantor" jawab Saira. "Kok bisa ada bersamaan saat kamu di apartemen itu" tanya nya lagi. "Waktu itu aku mau pulang kerja, saat sedang menunggu lama aplikasi ojol tapi tidak dapat terus. Akhirnya bos ku menawarkan pulang bersama mungjin karena kasian waktu itu sudah magrib" ujar Saira.
"Kamu mau ikut begitu saja dengan pria asing" ujar Juan. "Maksudnya?" Saira sudah merasa Juan memojokannya.
"Kak, dengarkan pertama dia bukan pria asing dia bos ku di kantor, kedua aku sudah menolaknya dan aku mau naik bis tapi ingat sudah gelap naik bis agak jauh harus berjalan kaki dulu ke pertigaan jalan, ya mau tidak mau aku ikut dengan bosku itu" jelas Saira.
Juan langsung terdiam sudah mencurigainya. "Tapi lain kali kamu jangan sembarangan ikut pria lain,ya!" ujar Juan memperingati Saira. "Iya" jawab Saira singkat.
"Lalu apa kabarnya dia yang dengan sengaja bersama wanita lain yang merupakan mantannya, sedangkan aku hanya diantar pulang sudah bertanya tanya" dengus Saira dalam hati.
__ADS_1
Di apartemen Saira memasak masakana yang sudah ibu siapkan di freezer, sebelum ibu pulang ibu sudah membuat makanan yang tinggal panaskan dan di masak sebentar saja tapi tetap sehat.
" Yang, kamu kok tidak mual seperti orang hamil pada umumnya" tanya Juan. "Ya hamil itu berbeda beda kak, ada yang mual karena makanan, atau mencium bau tertentu ada juga yang biasa saja" ujar Saira.
"Ya syukurlah yang, kakak tidak begitu khawatir jadinya, bahkan yang kakak lihat kamu malah makannya jadi dua kali lipat" Juan tersenyum.
"Tidak tahu kak, perasaan aku bawaanya lapar terus mungkin apa yang aku makan langsung di sedot sama babynya di dalam" Saira sembari memegang perutnya. "Tidak apa sayang yang penting kamu dan calon bayi kita sehat" Juan ikut memegang perut Saira.
"Iya sehat tapi badan akunya jadi melebar begini" Saira cemberut. "Aku takut kak" Saira menunduk. "Takut kenapa sayang" tanya Juan binggung. "Suatu saat kakak akan meninggalkan aku karena badan aku besar tidak seperti sebelumnya" imbuh Saira.
" Ya nanti ada masanya kalau sudah melahirkan dan menyusui kamu akan dengan sendirinya menyesuaikan badan kamu" ujar Juan. " Yang terpenting sekarang adalah kehamilan kamu, sehat dua duannya" tambah Juan menenangkan Saira.
"Iya kak" Saira mengangguk.
Entah pikiran Saira atau kebanyakan wanita, momok menakutkan kehamilan adalah setelah melahirkan tapi tidak mengurangi rasa bersyukur dianugerahi anak, akan tetapi ketakutan seorang istri dengan penampilannya kelak setelah melahirkan.
Karena setiap wanita berbeda beda ada yang setelah melahirkan badannya bisa berubah menjadi besar dan tidak terawat adapula wanita sudah dari lahirnya setelah melahirkan masih memiliki badan yang yang bagus itu tergantung pasangan kita apa bisa menerima keadaan istrinya atau si istrinya harus pandai pandai menjaga penampilan.
Saira sebenarnya seorang 'over thinking' tapi karena teringat dia sedang mengandung sekarang Saira mengedepankan hal hal positif (mood baik) demi kesehatan kehamilannya.
Sebelum tidur Juan tidak lupa untuk mengingatkan Saira untuk minum susu dan vitamin.
"Yang minum vitamin dulu setelah itu jangan lupa minum susu" Juan menyodorkan nampan berisi vitamin dan susu. "Iya sayang" Saira tersenyum karena sering melewati minum vitaminnya kalau tidak diingatkan.
"Sayang bagaimana pekerjaan mu dikantor?" tanya Juan. "Baik kak, rekan kerja dan atasanku memaklumiku karena aku sedang hamil jadi tidak terlalu direpotkan oleh pekerjaan" ujar Saira.
"Apa setiap yang hamil dikantor mu ada keistimewaannya dalam bekerja" tanya Juan. "Aku tidak tahu kak, aku kan masih baru bekerja disitu, tapi sepertinya seperti itu" jawab Saira.
"Oh" Jawab Juan singkat sebenarnya Juan memikirkan akan beban kerja Saira dengan kesehatan janinnya.
__ADS_1