
Dengan menggunakan pakaian kerja khusus ibu hamil membuat perut Saira semakin terlihat besar.
"Ra, aku minggu depan mau cuti karena anak ku yang pertama ada acara kelulusan TK dan orang tua diharuskan hadir" ujar Sely memberitahukan. "Ya sudah mbak Sely cuti saja biar pekerjaan aku yang handle nanti kalau aku repot minta bantuan kak Redi" jawab Saira.
"Benar Ra kamu tidak kerepotan menghandle pekerjaan ku" tanya Sely sekali lagi. "Iya kak tenang saja" sahut Saira meyakinkan. "Ok sip, terima kasih Saira" Sely lega dia bisa cuti dengan tenang.
Di hari Sely cuti Saira merangkap tugas pekerjaan. Adrian sebenarnya sudah meminta karyawan lain menggantikan Saira, tetapi Saira bersikukuh kepada pak Adrian bahwa Saira masih mampu mengerjakannya, karena Saira ingin membalas kebaikan Sely yang sering membantunya apalagi di saat dia hamil Sely sering meringankan pekerjaannya.
Dan di saat ada acara rapat keluar. Pak Adrian bingung karena ini tugas Sely sebenarnya tetapi karena sudah diambil alih Saira maka presentasinya juga harus oleh Saira karena yang paham betul pembuatannya Sely dan Saira.
"Saira, kamu yakin ikut rapat dengan kita" pak Adrian ragu mengajak Saira rapat terutama Rey yang mengkhawatirkan Saira yang sedang hamil.
"Saya siap pak Adrian, insya Allah saya sudah menyiapkan semuanya baik materi rapat, presentasi dan fisik saya" ucap Saira.
Adrian melirik Rey meminta persetujuannya. "Baiklah kalau begitu aku juga ikut rapat siang ini keluar" ujar Rey tiba tiba. Adrian maupun Saira kaget mendengarnya. Sebenarnya Adrian melirik Rey hanya meminta pendapat untuk mengizinkan atau mengganti dengan yang lain tapi tidak di sangka Rey malah ikut. Padahal Rey sendiri dia akan menghadiri rapat pemimpin direksi di kantor.
"Rey, biar saya dan Redi saja yang keluar rapat kamu tetap di sini" ujar Adrian menolak. "Kita ganti posisi Adrian kamu yang menghadiri rapat direksi aku yang rapat keluar" ujar Rey yakin.
"Apa apaan kamu Rey" itu yang ada di benak Adrian saat menatap Rey tapi karena ada Saira Adrian tidak bisa mengucapkannya langsung.
"Saira, kamu persiapkan berkasnya yang akan di presentasikan" perintah Rey pada Saira. " Baik pak, saya permisi dulu" sahut Saira kemudian keluar dari ruangan, Saira yang masih kaget "Mengapa ada pak Rey yang harus ikut bukan pak Adrian" pikir Saira.
"Rey, kamu jangan konyol, apa nanti kata direksi kamu tidak hadir" seru Adrian. " "Sudah kamu tenang saja ikuti perintahku, aku sudah memberi tahu para direksi, rapat kali ini kamu yang tangani" ujar Rey dan Adrian hanya pasrah pada bos sekaligus sahabatnya sendiri.
"Saira, Redi apa kalian sudah siap" tanya Rey. "Sudah pak" jawab Saira dan Redi kompak. "Baik kita pergi sekarang" perintah Rey.
Di parkiran Redi sudah menyalakan alarm mobil untuk membuka pintu, di susul dengan Saira yang mengikutinya di belakang Redi.
__ADS_1
"Redi, kamu ikut mobil ku dan kamu Saira ikut juga dengan ku" tanpa mendengar jawaban Rey langsung menaiki mobilnya.
Saira dan Redi saling menatap bingung. Untuk Redi ini kali pertama dia satu mobil dengan atasannya dan merasa sungkan.
Tapi berbeda dengan Saira ini sudah yang ke sekian kalinya. Saira berusaha mencoba menghindari pak Rey dengan ikut mobil Redi tapi sekarang mereka ikut dengan mobil pak Rey.
Saira cepat cepat membuka pintu belakang mobil agar Redi duduk di samping pak Rey.
"Sudah santai saja Redi" ucap Rey melihat kecanggungan Redi yang duduk di samping pak Rey atasannya. Di tambah pak Rey jarang menggunakan sopir sehingga semakin tidak nyaman Redi pada pak Rey karena di sopiri oleh atasannya.
Redi yang sering melihat ke belakang ke arah Saira membuat Saira tersenyum menahan tawa.
"Untung ada kamu Red, biar jadi tumbal kedinginannya pak Rey kalau tidak aku yang di situ" Saira dalam hati menertawakan Redi yang tegang duduk di samping atasannya.
Mobil Rey sudah sampai di parkiran kantor tempat tujuan rapat dengan perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaan ...
Redi hanya mengikutinya dibelakang membantu Saira. Pihak perusahaan sangat tersanjung karena yang hadir merupakan direkturnya langsung.
"Kami merasa senang karena pak Rey yang datang langsung ke perusaan kami"
ujar pemimpin perusahaan tersebut. "Saya sengaja datang karena ingin memantau langsung kerjasama ini agar tidak salah" ujar Rey dengan sikap tegasnya.
"Apa mungkin pak Rey ingin menemani istri pak Rey juga" ujar pak Heri melirik Saira. Rey tidak menjawab. "Apa bisa kita langsung ke tempat rapatnya" Rey melihat jam di tangannya seolah memberi kode mempersingkat waktu.
"Baik pak Rey, mari silakan masuk kami sudah menyiapkan ruangan untuk kita" ujar pak Heri selaku manager di perusahaan tersebut.
Rapat telah selesai pukul 8 malam. Ketika keluar ruangan rapat, Saira membuka ponselnya dan melihat Juan sudah beberapa kali menghubungi Saira tapi tidak terjawab karena saat rapat ponsel Saira di silent. Saira langsung menghubungi Juan.
__ADS_1
Saira : "Assalamualaikum"
Juan :"Waalaikumsalam, kamu di mana"
Saira :"kak maaf tadi ponsel ku di silent karena sedang rapat.. "
Juan :" Kamu di mana sekarang kirim lokasi mu sekarang juga, kakak jemput"
Saira mengirim lokasi kantor dimana Saira mengadakan rapat.
Setelah menerima telepon wajah Saira berubah sedih sembari memandangi ponselnya.
"Saira, kamu pulang ikut kita atau di jemput" tanya pak Rey. "Saya di jemput suami saya pak, sebentar lagi sampai" jawab Saira. "Ya sudah" sahut Rey.
Saat Rey hendak pergi tiba tiba Rey berhenti.
"Redi kamu tunggu di sini ada barang ku yang tertinggal di ruang rapat" ujar Rey. " Kamu tunggu di sini aku masuk dulu" tambah Rey. "Baik pak" jawab Redi.
Rey sebenarnya tidak ada yang tertinggal tapi dia masuk untuk mengulur waktu menunggu Saira sampai ada yang menjemput. Dengan menyuruh Redi menunggu di dekat Saira agar ada yang menemaninya, karena jika Rey yang menunggunya akan curiga Saira.
"Sepertinya itu suamiku Redi" seru Saira hapal dengan mobil Juan. " Aku duluan ya Redi" pamit Saira. "Iya Saira, hati hati" seru Redi sembari melihat Saira hingga masuk mobil.
"Di dalam Rey melihat Saira sudah di jemput oleh suaminya dan Rey akhirnya keluar. "Sudah ketemu pak" tanya Redi. Rey bingung langsung berinisiatif mengambil pulpen yang di sakunya.
"Ini sudah ada, ayo kita pulang. Sekarang kamu yang menyetir" perintah Rey.
"Baik pak" sahut Redi mengambil kunci mobil pak Rey.
__ADS_1
Rey lega Saira sudah pulang di jemput suaminya. Tapi ada yang mengganjal Rey yaitu setelah melakukan panggilan telepon raut wajah Saira berubah menjadi sedih seperti takut akan sesuatu hal.