
Sabtu pagi Saira bersiap untuk kembali lagi ke Bandung dan Juan pun sudah siap mengantar Saira yang sudah menunggu di di rumah Saira.
" Ayah, ibu Saira berangkat lagi ya ke Bandung." doakan Saira supaya cepat selesai kuliah nya dan mendapatkan nilai terbaik. Saira ingin cepat cepat kerja bu ." Lirih Saira melihat ayah nya sudah sakit sakitan dan terus bekerja untuk biaya kuliah Saira. Sedangkan kak Safa sampai sekarang belum juga mendapatkan pekerjaan.
"Tidak usah dipikirkan nak, ayah dan ibu masih sehat untuk bekerja, kamu doa kan juga supaya ayah dan ibu sehat ya." Ucap ibu sambil mengelus kepala Saira.
Ayah hanya diam tidak bisa berkata banyak.
"Ayah doakan kamu berhasil ya nak," Ujar ayah. "Kenapa setiap aku pulang selalu melow." Batin Saira.
Di perjalanan Juan memberitahu Saira tentang kepergiannya bersama teman teman semasa kuliahnya.
"Yang, besok kakak mau ada acara sama Kevin dan Rio mereka ngajak kakak liburan ke pantai." Ujar Juan.
"Ya sudah silahkan kak," Jawab Saira.
"Toh aku tidak suka pun dia tetap akan pergi." Batin Saira.
Mobil Juan telah sampai ke kosan Saira. Juan ikut masuk ke kosan Saira dan ikut istirahat karena lelah di perjalanan.
"Yang, kakak ikut tidur ya, kakak ngantuk sekali tadi malam kakak tidak bisa tidur.
"Ya, kakak istirahat saja dulu, aku sambil beres beres.
Dan Juan pun langsung tertidur di kasur Saira. Sedangkan Saira sambil merapikan kamar kosannya karena sudah di tinggal beberapa hari.
Hari sudah siang Juan terbangun dan tidak melihat Saira ada kamarnya.
__ADS_1
"Yang..yang..Saira!" Juan memanggil.
Tak lama suara handle pintu berbunyi.
Ceklek..
"Saira dari mana kamu?" Tanya Juan kebingguan dan masih terlihat muka bantalnya.
"Aku baru beli makanan kak, untuk makan siang kita." meyiapkan piring dan gelas yang di letakan di atas karpet.
Mereka makan bersama dan setelah selesai makan Saira merapikan kembali bekas makanannya, sedangkan Juan melihat lihat ponselnya sesekali memperhatikan Saira. Juan menarik tangan Siara hingga jatuh dipangkuan Juan.
"Kak, apaan sih?" Saira kaget. "Kakak bakalan kangen lagi kalau kamu jauh dari kakak." Ucap Juan.
"Kan kita bisa telepon atau video call kak." atau tidak kakak datang kemari saja kalau lagi libur. "Jawab Saira tersenyum hangat.
Juan langsung mencium bibir Saira yang tadinya ciuman hangat berubah menjadi ciuman panas yang hampir saja Juan kebablasan kalau tidak Saira mengingatkan dengan melepas ciuman tersebut.
"Kak, sudah ah nanti khilaf." Ujar Saira yang sebenarnya dia juga menginginkan lebih tapi berhasil di hentikan.
"Sayang, sebentar lagi kuliah kamu akan selesai. Apa kamu sudah memikirkan rencana kedepannya?" Tanya Juan sambil menyelipkan rambut Saira ke telinga. "Untuk saat ini aku hanya ingin cepat selesai kuliah dan langsung bekerja, aku ingin membahagiakan ayah dan ibu dulu kak." Jawab Saira. " Kamu tidak kepikiran untuk hubungan kita kedepannya?"Tanya Juan mulai berubah. " Ya kepikiran kak, tapi aku sudah punya apa kak kalau aku menikah sedangkan orang tua ku ingin aku sukses berkarir. Jawab Saira.
Juan terdiam mendengar ucapan Saira ada sedikit menganggu pikirannya barusan. "Kalau kakak mendambakan seorang wanita yang mendampingi kakak yang mengurus segala kebutuhan suami dan anak anaknya kelak. Ujar Juan.
Saira diam hanya tersenyum tidak bisa menjawab karena bingung harus menjawab apa karena dipikirannya Saira bukan wanita dari keluarga yang berkecukupan yang setelah menikah tinggal menunggu suami pulang dan hanya berpangku tangan sedangkan orang tuanya banyak mengantungkan harapannya kepada anak anaknya. Dan Saira tidak mau hanya di rumah saja tidak memiliki penghasilan karena sekarang pun saat masih pacaran Juan sering mengungkit dan tidak suka kalau terus mengandalkan dia apalagi nanti menikah.
Saira bertekad ingin kerja setelah kuliah dan ingin mencapai cita citanya dulu.
__ADS_1
Sedangkan Juan terus mendesak Saira karena bujukan orang tuanya dikarenakan faktor usia Juan yang sudah matang.
"Ya sudah kakak pulang ya sayang, jaga diri baik baik di sini." Sambil mengecup kening dan bibir Saira. "Bukan terbalik harusnya dia yang harus jaga diri karena sering main dengan teman temannya." Batin Saira.
Selepas Juan pergi Saira beristirahat karena besok jadwal kuliah Saira akan padat.
Saira berangkat ke kampus sendirian karena Tania dan Fika belum datang. Saira duduk sendiri di bawah pohon besar sambil menunggu temannya datang sebelum masuk kelas.
"Hai, Ra." Sapa Valen.
"Hai kak Valen." Jawab Saira. "Kamu kemana hari minggu kemarin, aku datang ke kosan kamu tapi tidak ada siapa siapa?" Tanya Valen.
"Aku pulang kak, sudah lama aku belum pulang ke rumah, kangen sama ibu ." Saira tersenyum. "Oh, pantas." Ujar Valen.
"Ngomong ngomong laki laki yang di mall itu siapa Ra, maaf aku jadi kepo?" Tanya Valen penasaran. "Em..itu tunangan aku kak." Jawab Saira gugup. "Oh, ternyata kamu sudah bertunangan. Ujar Valen.
Ketika mereka berbincang Tania datang di susul Fika dari belakang.
"Hai Ra, hai kak Valen." Sudah lama nunggu."Tanya Tania sambil melirik ke sebelah Saira. "Tidak juga, aku sambil ngobrol sama kak Valen.
"Hai Tan," Sapa Valen dengan tersenyum ramah. "Karena kamu sudah ada temannya aku langsung masuk kelas ya." Ucap Valen. " Iya kak." Jawab Saira.
Tania dan Fika langsung ke kelas mereka langsung menarik Saira untuk cepat cepat duduk. Saira seolah olah sedang di sidang oleh Tania dan Fika.
"Ra, kamu jawab jujur yang waktu di mall itu siapanya kamu Ra?". Tanya Tania serius. "Iya Ra, siapa?" Fika tidak mau kalah bertanya.
"Itu..tunangan ku namanya kak Juan." Jawab Saira. "Oh itu yang selama ini suka bantu dan menemani kamu Ra?" Tanya Tania. "Iya, Tan." Jawab Saira malu. 'Tapi sepertinya usia kalian berbeda dia jauh lebih dewasa dari kamu Ra." Ujar Fika dengan polosnya.
__ADS_1