Adakah Cinta Di hatimu

Adakah Cinta Di hatimu
Bab 54


__ADS_3

Saat berangkat kerja Saira tiba tiba merasakan pusing, di mobil Saira hanya menyandar di kursi mobil.


"Yang kenapa" tanya Juan. " Tidak yang hanya pusing sedikit saja" ucap Saira menahan pusing.


"Apa kamu istirahat saja tidak usah kerja" tawar Juan. " Jangan kak, aku baik baik aja" Saira berusaha baik di depan Juan agar di izinkan kerja.


"Tapi kamu kelihatannya tidak baik sayang" tanya Juan khawatir. "Tenang sayang, its ok" Saira meyakinkan Juan agar tetap kerja. "Ya, baiklah. Tapi kalau kamu sakit bilang ya. Nanti aku jemput kamu pulang" ujar Juan. "Iya sayang" sahut Saira.


Saira di kantor pun masih merasakan pusing dan mual.


"Sekarang aku mulai pusing dan mual, padahal sebelumnya aku tidak merasakan hal hal ini, apa mulai berasa efek kehamilanku" gumam Saira.


"Ra, kamu baik baik saja" tanya Sely melihat wajah Saira yang agak pucat. "Insya Allah aku baik mbak, cuma sedikit pusing saja" jawab Saira. "Kalau kamu sakit lebih baik izin saja pulang" Sely memberikan masukan. "Tidak usah mbak, saya masih kuat kok" ucap Saira. "Ya sudah" sahut Sely.


Saira bekerja agak sedikit lambat karena faktor kehamilan yang sekarang baru kerasa. Juan pun tidak berhenti sekedar menanyakan keadaan Saira melalui pesan atau telepon.


"Yang, bagaimana keadaanmu, masih pusing" tanya Juan khawatir saat menjemput Saira pulang. "Sudah mendingan kak, mungkin tadi lelah saja" jawab Saira.


"Besok jadwal kontrol ke dokter kandungan, sekalian kita periksa keadaanmu!" ujar Juan. "Iya kak, besok pagi aku daftar terlebih dahulu melalui telepon" ujar Saira.


Di mobil Juan memegang tangan Saira sesekali karena khawatir.


"Yang, untuk makan malam biar kakak yang menyiapkan" ujar Juan. "Sama aku saja kak, aku tidak apa apa kok cuma masak sebentar" Saira mencoba menolak. "Sudah kamu istirahat saja biar kakak yang menyiapkannya oke, jangan membantah!" ujar Juan tidak ingin Saira kelelahan.


"Baiklah, terima kasih kak. Maaf sudah merepotkan kakak" Saira menjadi tidak enak. "Tidak apa, demi kamu dan calon bayi kita sehat" Juan tersenyum.


Di dapur Juan menyiapkan bahan masakan, Karena Juan jarang masak maka Saira memilihkan menu yang mudah.


"Yang, ini bawang merah dan putih berapa di pakainya" tanya Juan, walau Juan yang memasak tapi Juan tetap bolak balik bertanya bumbu yang di gunakan untuk memasak.

__ADS_1


"Kalau aku biasanya bumbunya hanya sedikit saja kak tidak terlalu banyak, gunakan secukupnya saja dan nanti kakak cicipi dulu setelah matang rasanya lalu koreksi" ujar Saira memberi tahu Juan.


Masakan telah matang Juan menyajikan di meja makan kemudian memanggil Saira di kamar.


"Yang, masakannya sudah matang ayo kita makan" ajak Juan. "Iya kak" Saira ikut ke meja makan.


"Yang, kamu cobain ya masakan kakak ini, kakak sudah susah payah membuatnya" ujar Juan sembari menyendokkan sayur ke piring Saira. "Bagaimana sayang makanannya" tanya Juan penasaran. "Em, lumayan, ternyata kakak bisa masak" tanya Saira melihat Juan bisa memasak.


"Jangan salah yang, kakak kan sudah lama mandiri tinggal sendiri membuat kakak harus serba bisa termasuk masak. Hanya kakak bisa nya masak yang mudah mudah saja tapi" Juan tersenyum.


"Hebat suamiku ini" Saira mengacungkan dua jempol ke arah Juan.


"Jadi kalau babynya di dalam perut minta makanan yang di masak daddynya boleh dong" pinta Saira menyeringai.


"Boleh dong, tapi yang bisa di masak deddynya saja" jawab Juan.


Mereka menghabiskan makanan malamnya dan setelah itu Saira merapikan piring kotornya ke tempat cuci piring.


"Yang, kamu tahu sebenarnya kakak sedang memiliki cita cita atau impian untuk kita kedepannya" ujar Juan sembari memeluk Saira dari belakang. " Apa itu kak, aku boleh tahu" tanya Saira penasaran.


"Kakak sedang menabung untuk impian kakak itu, kalau sudah cukup nanti kakak baru kasih tahu" imbuh Juan. "Ih, kakak senangnya buat orang penasaran saja, tahu gitu jangan bicara dulu sama Saira kan jadi penasaran" kesal Saira.


"Iya sayang, sabar ya nanti secepatnya kakak kasih tahu kalau sudah terwujud" ujar Juan mengeratkan pelukannya sesekali mencium rambut Saira.


"Baiklah, jika itu impian kakak yang baik, Saira doakan agar cepat terwujud dan dimudahkan" ujar Saira. "Aamiin, terima kasih sayang" sahut Juan.


Untuk beberapa hari ini Juan tidak menggangu Saira karena Juan masih takut akan terganggu pada kehamilannya. Juan sangat protektif pada Saira begitu pun masalah hubungan suami istri Juan masih takut.


Paginya Juan tidak banyak meminta bantuan pada Saira, biasanya segala keperluan Juan Saira yang menyiapkan tapi ketika Saira hamil Juan mencoba menyiapkan kebutuhan sendiri walau beberapa kali masih membutuhkan bantuan Saira.

__ADS_1


Saira di kantor menghubungi rumah sakit yang dituju untuk mendaftar ke dokter kandungan dan mendapatkan jadwal sore hari.


"Mbak Sely saya izin pulang cepat ya, mau periksa ke dokter kandungan jadwalnya sore ini" Saira memberi tahu.


"Iya Ra, tapi kamu jangan lupa izin ke pak Adrian ya" Sely mengingatkan. " Siap mbak" canda Saira seakan memberi hormat dengan telapak tangan di samping kepala.


Tok tok..


"Masuk" sahut pak Adrian dari dalam.


" Permisi pak Adrian, maaf menggangu waktunya" ucap Saira. "Ada apa Saira" tanya Adrian menyimpan pulpennya di meja. "Pak saya mau izin pulang cepat hari ini, karena saya ada jadwal periksa ke dokter sore ini" izin Saira. "Memang kamu sakit apa Saira" tanya Adrian binggung."Maaf pak, saya tidak sakit saya hanya periksa ke dokter kandungan. "Oh iya, baiklah saya izinkan kamu pulang cepat" ujar pak Adrian mengizinkan.


"Terima kasih pak Adrian" Saira menunduk mengucapka terima kasih. "Iya" sahutnya.


"Kalau begitu saya izin keluar pak" pamit Saira.


Juan pum sama menjemput Saira sebelum waktu pulang karena mereka sudah janjian akan pulang cepat untuk menemui dokter kandungan.


"Yang, sepertinya kita langsung saja ya ke rumah sakit. Kalau pulang dulu ke apartemen akan lama" Juan melihat situasi di jalan cukup ramai dan sedikit macet. "Iya kak langsung saja" ucap Saira menyetujuinya.


Di rumah sakit Juan langsung mendaftar ulang untuk mengambil no antrian. Di tempat tunggu banyak pasien yang kebanyakan berpasangan sama halnya dengan Saira dan Juan mereka yang akan periksa ke dokter kandungan.


"Nyonya Saira" panggil suster memanggil antrian masuk. "Iya sus" sahut Saira. "Ibu silakan di periksa dulu tensi dan berat badannya" ujar perawat. "Silakan masuk ke dalam bu" ujar Perawat. Juan mengikuti Saira masuk kedalam.


"Selamat sore bapak, ibu" sapa dokter tersebut kemudian dokter bertanya tentang terakhir menstruasi lalu melihat catatan tensi Saira. "Bu Saira tensinya sedang rendah ya, apa ibu kecapean" ujar dokter Fatma. "Mungkin belakangan ini saya suka pusing dan mual dok tapi tidak sering" jawab Saira sembari melirik Juan.


"Baik, mari kita periksa dulu bu" dokter Fatma menujuk ke arah tempat tidur periksa. Perawat mengoleskan gel pada perut Saira dan dokter Fatma mulai menempelkan alat USG dan memutar sekitar perut Saira.


"Bu, bisa di lihat disini" menujuk ke arah monitor. "Pada minggu ke-8, janin telah berhasil melalui masa kritis dari perkembangan organ dan struktur tubuhnya, telah berukuran hampir 3 cm panjangnya, semakin banyak bergerak, dan semakin terlihat seperti manusia. Pada minggu ini, bayi dalam kandungan telah siap untuk berkembang" dokter menjelaskan.

__ADS_1


Saira dan Juan saling melirik tersenyum meluapkan kegembiraannya dengan kondisi calon bayinya.


__ADS_2