
Setelah kembali dari kafe Juan merasa kacau dengan situasi ini. Juan sudah menghindar dari bayang masa lalunya dan mencoba memulai dengan masa depannya bersama Saira akan tetapi Helena selalu mengikutinya.
Apalagi sekarang Saira sedang hamil, Juan tidak ingin ada kesalahpahaman dirinya dengan Saira lagi karena akan mempengaruhi kehamilannya.
"Akh..." teriak Juan di dalam ruangan. "Pusing aku harus bagaimana" Juan memegang kepalanya dengan bermonolog.
Tok tok
"Masuk" sahut Juan.
"Permisi pak saya mengantarkan berkas untuk di koreksi" ujar pegawai tersebut. "Ya, kamu simpan saja di meja" ucap Juan.
"Baik pak kalau begitu saya permisi keluar pak" pamitnya. "Ya" jawab Juan singkat.
Ada apa dengan pak Juan, tidak biasanya mukanya kusut dan berantakan seperti itu" gumam pegawai tersebut setelah keluar dari ruangan Juan. Gwen yang tidak sengaja mendengar ucapan pegawai tadi langsung berpikir.
"Memang kenapa Juan, perasaan tadi sebelum bertemu Helena wajahnya ceria. Apa ada hubungannya dengan Helena" Gumam Gwen.
Juan mencari informasi tentang keberadaan suami Helena dia harus segera menemui Suami Helena.
Pulang kerja Juan terlihat sangat kusut wajahnya.
Di mobil saat menjemput Saira Juan tampak dingin dan diam.
"Kak kenapa ada masalah di kantor" Saira memberanikan bertanya. "Iya yang, kerjaan kakak sedang banyak" jawab Juan agar Saira tak curiga. " Kak Juan jangan terlalu capek. Kalau ada yang perlu dibantu yang Saira bisa katakan saja, Saira siap bantu kak" ujar Saira agar Juan tidak merasa sendiri.
"Terima kasih sayang, kakak bisa mengerjakannya" Juan mulai tersenyum.
Malam pun tiba Juan tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan agar menyelesaikan masalah tanpa Saira mengetahuinya.
"Yang, kakak sabtu ini ada acara dengan teman kantor kakak. Kamu tidak apa di apartemen sendiri" tanya Juan karena mamah Sinta sudah pulang pagi tadi.
"Tidak apa sayang, kakak pergi saja tidak usah memikirkan ku" jawab Saira.
__ADS_1
"Terima kasih sayang" Juan mencium kening Saira. Juan semakin tidak enak dengan Saira. Saira begitu pengertian tapi dia takut mengecewakannya lagi.
Hari sabtu telah tiba Juan akan bertemu dengan Pram suami Helena.
Mereka sudah janjian di salah satu kafe yang sudah di tentukan.
"Selamat siang, anda yang bernama Juan" tanya Pram tanpa basa basi sembari mengulurkan tangan. "Iya betul, dan anda Pram" sahutnya membalas ulur tangan Pram.
"Ya aku Pram, suami dari wanita yang sudah menyuruhmu membuntuti ku" ujar Pram sinis. "Apa maksudmu" Juan kaget. "Aku sudah tahu, istriku pasti yang memintakan" tanyanya. " Jika kamu tahu mengapa kamu tidak melepasnya" tanya Juan.
"Juan..Juan mau saja kau diperalat olehnya" Pram tertawa mengejek. " Mengapa kamu tertawa apa yang sudah kamu lakukan pada istrimu, asal kamu tahu aku sebenarnya tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga orang lain tapi jika itu menyangkut kekerasan aku tidak bisa diam, apalagi Helena adalah temanku" terang Juan. "Lebih tepatnya mantan kekasihmu" timpah Pram. Juan terdiam.
"Apa kamu sadar, jika seseorang masih ingin membantu ke urusan pribadi apakah itu bukannya hati yang bergerak" tegas Pram.
Degh
Juan merasa tersentil hatinya, karena jika bukan perasaannya yang masih ada untuk Helena, mungkin dia tidak akan melakukannya.
"Asal kamu tahu, tidak semuanya salah aku tapi Helena juga ikut andil dengan retaknya rumah tangga kami, aku sudah berusaha untuk memperbaikinya tapi apa nyatanya dia semakin tidak menghargai aku sebagai suaminya terutama orang tuanya, di matanya Helena seorang wanita atau istri yang baik karena di tutupi oleh harta yang dia berikan dari ku.
Dan saat itulah aku menemukan sesosok wanita yang mau mengerti dan menerima aku dalam keadaan apapun. Dan dia Helena baru merasa terancam kedudukannya" ungkapnya.
Tapi aku akui aku memang sebelumnya aku seorang casanova sering bergonta ganti pasangan karena hidupku dulu di luar negeri bebas dan aku berkepribadian tempramental karena emosi ku aku selalu khilap untuk melakukan kekerasan karena aku laki laki yang jika dipancing emosinya akan meluapkannya" imbuh Pram.
Juan mendengar penjelasan dari Pram merasa bingung harus mempercayai yang mana.
"Aku tidak tahu harus percaya persi yang mana, tapi aku mohon selesaikan urusan mu dengan Helena karena dia menginginkan kau menceraikannya agar dia bisa hidup bebas dari mu" terang Juan.
"Itu saja yang aku sampaikan padamu, aku masih banyak urusan. Selamat siang" Juan meninggalkan Pram yang masih mencerna ucapan Juan.
Juan masuk ke dalam mobil dan merenunginya. Dan terbesit untuk menghubungi Helena.
Helena : "Hallo Juan, akhirnya kamu menghubungiku"
__ADS_1
Juan : "Helena ada yang harus aku bicarakan padamu"
Helena : "Baik Juan, kamu ingin kita bertemu di mana"
Juan : "Tempat biasa saja
Helena : Baik"
Helena begitu senang saat Juan tiba tiba menghubunginnya. Helena bersiap untuk bertemu Juan dengan memberikan penampilan yang terbaik menurut dia.
Helana memilih baju yang yang seksi dan riasan yang cantik agar bisa memikat Juan.
Juan sudah menunggu Helena di tempat biasa mereka bertemu. Tempat itu juga dulu tempat mereka bertemu saat masih pacaran dulu l, begitu banyak kenangan di tempat itu saksi dari kisah cinta mereka pada saat itu.
"Juan" sapa Helen mengahampiri meja yang di duduki Juan.
"Helena, kamu sudah datang" tanya Juan. "Juan aku senang kamu mau menemuiku lagi" Helen masih merasa senang dengan pertemuan ini.
"Helen, ada yang akan aku sampaikan dan tanyakan padamu" tanya Juan mulai serius. "Helena yang tadinya sumrigah sekarang berubah tegang mendengar ucapan Juan yang serius.
"Apa yang akan kamu tanyakan Juan" tanyanya. "Apa yang sebenarnya terjadi pada rumah tangga mu Helen" tanya Juan. "Juan sudah berapa kali aku bilang aku ingin berpisah dengan Pram, aku tidak mau bersamanya lagi, dia itu jahat Juan sudah tidak selingkuh dari ku dan kasar" ungkap Helena. " Cukup Helen, aku sudah tahu semuanya. Itu bukan karena Pram saja yang salah tapi kamu juga" ujar Juan.
Degh
"Mengapa Juan berbicara seperti itu, apa dia tahu tentang masalah rumah tanggaku dengan Pram" pikir Helena dalam hati.
"Apa yang kamu bicarakan Juan, aku di sini yang tersakiti" Helena masih berkelit dengab ekspresi sedih. " Helen dengarkan aku, semua masalah rumah tangga mu bisa kamu selesaikan sendiri tidak perlu bukti apapun untuk kamu lepas dari suami mu.
Cukup kamu berbicara pada suami mu akan keingananmu untuk berpisah tidak dengan menyangkut pautkan aku" Terang Juan. Helena tidak bisa berbicara apa apalagi. Karena dia ingin memiliki bukti perselingkuhan suaminya agar mendapatkan harta gono gini karena Helena pasangan yang tersakiti. Bila dia bercerai begitu saja Helena tidak mendapatkan apa apa.
"Juan bantu aku mencari buktinya supaya aku bisa mengajukan cerai pada suamiku" mohon Helena sekali lagi. "Helen, maaf aku tidak bisa membantumu banyak, hanya ini yang aku dapatkan" Juan memberikan photo kedekatan suamimu dengan wanita ini. Selebihnya kamu yang berusaha untuk menguatkannya" ujar Juan.
"Terima kasih Juan, kamu memang yang terbaik" peluk Helena senang. "Helena ini di tempat umum" Juan menepis pelukan Helena takut ada yang melihat.
__ADS_1
Helena justru sengaja agar ada yang melihatnya dan menyampaikan pada Saira.