
Hari pernikahan Saira dan Juan semakin dekat. Persiapan pun sudah hampir 90%. Saira sudah mengajukan cuti dan siap menyebarkan undangan pernikahan ke karyawan yang di kantor termasuk pak Adrian dan pak Rey.
" Ra, bagaimana persiapannya" Sely bertanya karena Sely cukup dekat dengan Saira walau Sely seniornya di kantor tapi Sely memperlakukan Saira dengan baik tidak membeda bedakan.
" Alhamdulillah tinggal sedikit lagi mbak Sely, doanya ya semoga nanti acaranya lancar" ucap Saira. "Iya aku doakan agar lancar semuanya" harap Sely. "Oh iya ini undangannya mbak datang ya" ujar Saira. "Insya Allah Ra, nanti aku usahakan pasti datang" Sely tersenyum hangat. "Aku ke ruangan pak Adrian dulu ya mbak mau antar undangan" ujar Saira. "Ok" sahutnya.
Tok tok..
"Masuk" ucap Adrian.
"Permisi pak maaf menganggu sebentar saya hanya memberikan undangan ke bapak, dan maaf saya titip undangan juga untuk pak Rey" ucapnya.
"Kenapa tidak kamu berikan langsung undangannya" ujarnya. "Em saya takut menganggu pak dan saya belum melihatnya dari pagi" sahutnya. " Ya sudah nanti saya sampaikan undangannya" ujar Adrian.
"Terima kasih pak, kalau begitu saya permisi keluar" pamit Saira. Sebelum Saira keluar ruangan Adrian memanggil Saira.
" Saira" panggilnya.
"Ya pak, ada yang bisa saya bantu" ucapnya. "Kamu setelah menikah apakah mau langsung resign dari kantor ini" tanyanya. Saira terdiam sebentar.
"Insya Allah saya masih bekerja pak selama suami saya nanti mengizinkan saya bekerja". jawabnya.
"Baiklah, sudah itu saja yang saya tanyakan". Adrian mengangguk anggukan kepala. "Baik pak, permisi" Saira berbalik dan pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Jam istirahat Adrian masuk ke rungan Rey.
" Kemana tadi pagi, aku tidak melihatmu pagi"tanya Adrian.
"Oh, aku ada keperluan dulu tadi jadi aku terlambat" jawabnya.
__ADS_1
'Ini ada undangan untukmu" Adrian meletakkan undangan di meja Rey. "Undangan dari siapa?" Rey mengerutkan kening. "Baca saja, nanti juga kamu tahu" ucap Adrian menyeringai.
Rey membuka undangannya dan membaca ekspresi Rey tak menentu setelah membacanya. "Kamu kalah cepat Rey" seringainya. " Apa maksud kamu" Rey mulai wajah serius lagi.
"Wanita yang kamu incar akan menjadi milik orang lain" ujar Adrian mengejek. " siapa yang aku incar memangnya" sangkal Rey. "Sudah aku bisa lihat kok, selama ini kamu mengagumi Saira diam diam kan, tapi kamu tutupi dengan sikap dinginmu" Adrian mencoba menebak.
"Rey tidak menjawab dia langsung mengalihkan melanjutkan pekerjaannya.
" Kamu itu jangan terlalu gengsi apalagi dengan wanita yang kamu suka, jadinya kamu ke tikung kan sama orang lain" ujar Adrian.
"Aku merasa tidak di tikung memang dia bukan jodoh aku saja" ucap Rey. "Nah kan, berati kamu benar benar suka pada Saira" Adrian berhasil menjebak Rey. "Tidak..tidak seperti itu Adrian" Rey mencoba mengelak.
"Sudah lah Rey kamu akui saja, tapi sangat disayangkan pengakuanmu sudah terlambat teman janur kuning sudah mau dipasang akan susah di bongkar" Adrian sekali lagi mengejek Adrian.
" Aku menyesal keceplosan berbicara pada Adrian aku pasti jadi bulan bulanan untuk mengejek ku" hati Rey jengkel.
"Nasihat ku kedepannya jika kamu menyukai sesorang wanita kamu jangan malu untuk mengungkapkannya dan jangan lah kamu terus terusan bersikap dingin, itu akan membuat wanita akan ilfill padamu" terang Adrian memberi masukan.
"Baiklah aku akan keluar" tapi sebelum keluar Rey berbalik badannya. "Rey kamu baik baik ya jangan sampai frustasi di tinggal nikah" Adrian terkekeh dan langsung pergi. " S***, Rey mengumpat sambil melempar pulpen ke arah Adrian tapi Adrian sudah pergi keluar.
"Huff, Rey menghembuskan nafas sambil menyender dikursi kebesarnya. "Saira kenapa kamu secepat itu menikah dengan pria lain. Di saat aku ingin mengenalmu lebih tiba tiba kamu akan menjadi milik orang lain.
Sebenarnya Rey baru bisa membuka hatinya untuk wanita, sebelumnya Rey dulu pernah merasakan patah hati dikhianati oleh seorang wanita tetapi sekarang terjadi lagi bedanya sekarang kalah sebelum berperang ditinggal nikah.
"Naas sekali nasibmu Rey" gumam Rey meratapi nasib percintaanya.
"Juan aku dengar kamu akan menikah dengan tunanganmu" tanya salah satu teman kantor Juan yang di dengar oleh Gwen yang langsung memanas.
"Iya benar ini undangannya, aku harap kalian datang ya!" sahut Juan yang memberikan undangan satu per satu ke teman kantornya. " Siap " sahut teman Juan.
__ADS_1
"Juan kamu sudah berpikir matang matang untuk menikah dengan Saira, jangan sampai kamu menyesal kemudian hari" Saira mulai mempengaruhi Juan. "Apa kamu tidak malu menikah dengan gadis yang masih manja, ABG yang emosinya masih labil dan apa kamu tidak melihat penampilannya yang tidak pantas untuk bersanding denganmu yang memiliki jabatan di sini" tambahnya.
" Insya allah tidak Gwen aku sudah yakin dengan keputusanku, aku sudah lama memikirkannya dan maaf apa yang kamu pikirkan tentang Saira itu tidak semuanya benar hanya aku yang tahu bagaimana Saira" tegas Juan yang langsung memberikan undangan untuk Gwen dan meninggalkannya.
Gwen kesal bujukannya untuk membatalkan pernikahan Juan dengan Saira gagal.
"Tenang saja Juan walaupun kamu menikah dengan Saira si anak manja itu aku tetap mengganggumu, Saira tidak ada apa apanya, dulu saja saat masih dengan Helen yang sangat cantik, kamu bisa berpaling darinya apalagi dengan anak ingusan seperti Saira. Aku akan jadi duri dalam pernikahanmu" Tekad Gwen yang masih mengharapkan Juan.
Sore ini Juan menjemput Saira pulang kantor.
"Yang kakak sudah di parkiran" tulis Juan di ponselnya. "Ok" jawab Saira.
" Ayo kak" ajak Saira yang sudah duduk di bangku samping pengemudi.
Rencananya mereka akan ke tempat fiting baju untuk final baju pernikahan mereka.
"Kak bagus tidak" tanya Saira sambil membolak balikan badannya ke cermin. " Sudah cantik yang pas" Juan membentuk jari seperti huruf ' O'."
Setelah beres melakukan fiting baju mereka pergi ke tempat makan sebelum pulang.
"Yang seminggu lagi acara pernikahan kita kamu sudah siap" tanya Juan meyakinkan. "Insya Allah siap kak, kakak bagaimana sudah siap lahir batin semuanya, siap menghadapi aku yang masih muda, siap dengan keluarga aku yang sederhana, dan siap dengan aku yang begini adanya tidak menarik" ujar Saira
Degh..
Kata kata Saira mengingatkan Juan dengan ucapan Gwen tadi di kantor.
"Kak..kak Juan kok diam, ayo jawab kakak sudah siap belum dengan keadaan aku" tanya Saira penasaran.
" Ya siap dong yang, kakak berani mengajak mu menikahi berarti kakak siap menerima mu apa adanya" ujar Juan yang sedikit kaku menjawabnya.
__ADS_1
Di pikiran Juan masih terngiang ucapan Gwen yang memang benar menikah dengan Saira harus menerima segala konsekuensinya.