Adakah Cinta Di hatimu

Adakah Cinta Di hatimu
Bab 71


__ADS_3

Sampai di lobi rumah sakit Yura langsung mendatangi bagian informasi. Menanyakan ruangan di rawatnya Sely.


"Ayo kak Saira kita ke lantai 3, mbak Sely di rawat di lantai 3 kamar Bougenville" jelas Yura. "Iya Ra" Saira tidak fokus mengikuti Yura karena Juan di hubungi dari tadi tidak kunjung di angkat pesan pun tidak dibalas.


"Kak Juan dimana ya, kok susah dihubungi" gumam Saira setelah memberi pesan bahwa dia tidak langsung pulang tapi menjenguk temannya terlebih dahulu. "Apa kak Juan marah aku pergi menjenguk. Praduga Saira karena Juan tak ada kabarnya.


"Kak, kenapa kok melamun" tanya Yura melihat Saira jalannya pelan. " Apa ada yang sakit kak" tanya Yura. "Tidak Yura, ayo kita ke ruangannya mbak Sely" seru Saira.


Ketika hendak mengarah keruangan Sely Saira memperhatikan setiap ruangan. Sementara Yura pandangannya lurus karena ingin cepat sampai pada ruangan yang dituju. Sedangkan Saira masih memperhatikan setiap lorong tiap poli hingga pandangannya terhenti di sudut ruangan dokter kandungan, Saira melihat orang yang mirip dengan wanita yang dia kenal.


"Helena" sebut Saira. "Ada apa dia menunggu di dokter kandungan" belum juga Saira mencerna pandangannya tak jauh terlihat sosok laki laki yang amat sangat dia kenal. Laki laki yang selama setahun lebih hidup bersamanya.


Kaki Saira bergetar lemas, lidahnya kelu, air matanya sudah berkaca kaca tidak tahu akan tumpah kapan saja. Saira seolah tak mampu untuk menopang dirinya sendiri. Hingga Suara teriakan wanita didengarnya menghampirinya.


"Kak Saira" teriak Yura yang menjadi perhatian orang orang termasuk empat pasang mata yang menyebabkan Saira seperti ini.


"Juan dan Helena menoleh ke asal suara dan begitu kagetnya melihat yang memandangnya tajam dari jauh adalah istrinya yang sekarang sedang mengandung anaknya.


Juan berlari menghampiri istrinya yang terkulai lemas dari kejauhan tanpa menghiraukan Helena. Sebelum Juan tiba membantunya lagi lagi ada laki laki yang terlebih dahulu menangkapnya. Berasa dejavu, Juan serasa kembali dimana ini pernah terjadi sebelumnya.


"Saira" panggil seseorang. "Kak Saira" panggil Yura panik. "Sayang" panggil Juan dengan cemasnya memegang tangan Saira.

__ADS_1


"Lepaskan kak, apa maksudnya ini. Kenapa kakak ada di sini bersama wanita itu" tanya Saira dengan tatapan tajam. "Ini tidak seperti yang kamu pikirkan sayang" jawab Juan. "Memang apa yang harus aku pikirkan kak, melihat seorang pria menemani wanita di dokter kandungan" jelas Saira.


"Oh, ini yang kakak maksud kejutan untukku" ucap Saira. "Bukan Sayang, kakak..." Sebelum Juan melanjutkan ucapannya Saira langsung memegang perutnya.


"Aw.."keluh Saira sambil memegang perutnya. "Ada apa sayang" Juan semakin khawatir. "Akh.." Saira lemas tak tahan hingga keluar cairan putih dari kakinya.


Laki laki yang menopang Saira langsung berteriak. "Tolong dokter, perawat..siapapun itu cepat bantu kami" serunya berteriak memanggil bantuan.


"Pak Rey" Saira dan Yura melihat pak Rey ada dihadapannya.


Dokter dan perawat langsung bersiap membawa brangkar untuk membawa Saira dan Rey dengan cepat mengendong Saira.


"Pak sepertinya ibu ini akan segera melahirkan" ucap dokter. "Melahirkan" ucap Juan kaget ingatnya jadwal lahiran Saira sekitar 2 mingguan lagi. "Baiklah, cepat tangani dokter" ucap Rey dengan cepat.


"Sayang maafkan kakak" Juan sudah tidak mampu berkata kata tubuhnya merosot di dinding. Tapi Rey yang melihat Juan langsung menarik kerah Juan. "Apa yang sudah kamu lakukan lagi pada Saira" tanya Rey emosi. "Apa maksudmu, bertanya seperti itu, aku suaminya. Anda siapa, anda hanya orang luar yang selalu ikut campur urusan rumah tangga orang lain" Juan tidak mau kalah. "Sudah aku katakan jika kau kamu sudah tidak menginginkannya lagi tolong lepaskan jangan menyiksanya seperti ini" kecam Rey.


"Apa kata anda menyiksa? mana ada suami dengan tega menyiksa istrinya yang sedang mengandung darah dagingnya sendiri" tegas Juan.


Yura hanya mampu tergugu melihat perkelahian mereka tanpa bisa melerai. Entah apa yang terjadi antara mereka mengapa pak Rey bersikap seperti itu. Ada apa ini?" Yura bertanya tanya dalam hatinya.


"Hentikan!"

__ADS_1


Suara yang begitu lantang membuat mereka yang bersitegang saling melepaskan cengkraman. "Apa yang kalian lakukan, tidak lihatkah kalian di dalam ada nyawa yang sedang dipertaruhkan. "Ujar papah Tirta. "Dan kamu Juan, papah ingin berbicara sama kamu berdua" seru papah dengan serius.


Tak lama mamah Sinta dan bu Rani datang bersama ayah datang dengan kecemasan. Sebelumnya Yura sempat menghubungi keluarga Saira.


Rey yang sudah melihat keluarganya Saira telah berkumpul pamit.


"Ibu, bapak perkenalkan saya Reyhan Aditama, atasan Saira di kantor Saira bekerja, dan saya Yura teman kerja kak Saira. Kalau begitu kami pamit pulang" izin Rey.


"Baik pak Reyhan dan nak Yura terima kasih sudah memberitahu kami" ujar ibu Rani berterima kasih. "Sama sama bu" ucap Yura.


Ibu Rani dan mamah Sinta tidak tenang mereka khawatir dengan Saira. Yura akhirnya tidak jadi menjenguk Sely karena kejadian ini yang membuat Yura kaget dan tidak memungkinkan.


Kemudian suara pintu terbuka dan dokter perawat keluar.


"Keluarga ibu Saira" panggil dokter. "Iya dok saya suaminya" sahut Juan. "Pak, ibu Saira kondisinya sangat lemah beliau harus segera di lakukan operasi cesar karena air ketubannya banyak keluar tidak baik untuk bayinya"Jelas dokter. "Tapi dok menurut dokter kandungannya sekitar 2 minggu lagi" imbuh Juan. "Iya pak tapi kelahiran seseorang tidak bisa ditentukan dengan tepat bagaimana kondisi ibunya. Karena kondisi bu Saira ada suatu tekanan yang menyebabkan kontraksi jadi harus segera dilahirkan bayinya" terang dokter.


Ibu dan mamah yang mendengar hanya terduduk lemas sambil menutup mulutnya dengan tangan. "Dok, cepat lakukanlah yang terbaik untuk istri dan anak saya dok" Juan memohon. "Baik pak kami akan siapkan operasi sekarang juga, bapak silakan bisa ke bagian adminitrasi" ujar dokter.


Juan segera mengurus persyaratan yang harus dipenuhi agar Saira cepat ditangani.


Papah Tirta sebelum menemui Juan sempat bertemu dengan Helena di lobi rumah sakit dan papah Tirta langsung menghubungkan dengan Juan. Papah Tirta amat kesal dengan Juan yang masih berhubungan dengan Helena mantan kekasihnya dulu.

__ADS_1


Setelah selesai dari bagian adminitrasi Juan kembali keruangan operasi berkumpul dengan mamah, papah, ibu dan ayahnya yang sedang menunggu jalannya operasi Saira. Sementara papah sudah menatap tajam pada Juan ingin meminta penjelasan pada Juan tapi diurungkan karena ada istrinya serta orang tua Saira.


Helena pergi setelah Juan mengetahui Saira melihatnya dengan Juan di depan dokter kandungan dia takut disalahkan maka dia memperhatikan dari jauh dan langsung bergegas meninggalkan rumah sakit. Sebelum keluar dari rumah sakit papah Tirta berpapasan dengan Helena yang akan meninggalkan rumah sakit.


__ADS_2