Adakah Cinta Di hatimu

Adakah Cinta Di hatimu
Bab 63


__ADS_3

Di Outlet baby shop Juan tampak antusias memilih perlengkapan bayi. Semuanya hampir di dominasi oleh warna biru.


"Sayang, yang ini sepertinya bagus" Juan menunjukan baju yang ke sekian kalinya. "Kak, sudah jangan banyak banyak ini juga di keranjang sudah banyak" protes Saira.


"Tidak apa yang kan buat gonta ganti" sela Juan. "Kak, aku capek" keluh Saira, Juan langsung menghentikan aktifitas memilih pakaian. "Kenapa sayang" Juan khawatir. "Aku capek kak, ingin istirahat" ulang Saira. "Ya sudah kakak bayar dulu belanjaannya, kamu duduk dulu ya di kursi itu" Juan memapah Saira agar duduk menunggu.


Setelah selesai membayar Juan menghampiri Saira.


"Yang ayo kita pulang, kamu masih kuat kan" ajak Juan. " Masih kak" jawab Saira. Sebenarnya selain sudah tidak kuat berdiri lama, juga untuk menghentikan Juan memborong semua perlengkapan bayi.


Saat akan meninggalkan toko tersebut Saira melihat orang yang pernah dia kenal dulu. "Seperti aku kenal dengan wanita tadi" gumam Saira yang di dengar Juan tidak jelas. "Ada apa yang" tanya Juan. "Perasaan aku atau memang benar ya tadi aku melihat orang yang mirip dengan temanku dulu kak" ujar Saira melirik ke berbagai sudut. "Siapa yang" tanya Juan. "Itu kak, wajahnya seperti teman SMA ku dulu Keyla" imbuh Saira. Juan hanya mengangkat bahunya tidak tahu. "Ayo yang, tadi katanya kamu capek" Juan mengingatkan.


" Keyla kan sudah pindah tidak di sini lagi " gumam Saira. "Yang, maafkan kakak buat kamu berdiri lama" ujar Juan. "Tidak apa kak, akunya saja yang sering capek selama hamil" jawab Saira.


Saira langsung duduk di kasur menyender di kepala kasur. Juan yang melihat Saira lelah langsung memijit kaki Saira.


"Yang, kaki kamu jadi bengkak" Juan memperhatikan kaki Saira sembari memijitnya. "Iya kak, aku juga tidak tahu tiba tiba kaki ku pegal dan keras seperti ini.


"Kak" panggil Saira. "Kakak, malu kah punya istri seperti aku sekarang" tanya Saira. "Malu kenapa" tanya balik Juan.


"Ya aku sekarang kan gemuk, muka aku juga jadi tidak terawat" ujar Saira merasa tidak percaya diri. "Namanya juga sedang hamil yang, wajar saja. Nanti juga kalau sudah melahirkan kamu akan kembali lagi seperti semula" jawab Juan.

__ADS_1


"Kalau seperti ini terus, tidak kembali lagi bagaimana?" tanya Saira. "Sudahlah jangan bahas itu yang penting sekarang kamu dan bayinya sehat" ujar Juan tidak mau memperpanjang. Sementara Saira cemberut mendengar jawaban Juan yang menggantung.


Saat masuk kerja Saira sudah tidak bisa lagi memakai sepatu yang ada hak nya. Sepatunya pun sudah tidak ada yang muat karena mengalami bengkak di kakinya.


"Ra, kaki kamu kenapa, kamu masih kuat untuk bekerja" tanya Sely melihat Saira sudah susah menggunakan sepatu. "Masih mbak, tenang saja" jawab Saira.


"Kamu jangan banyak jalan ya biar aku saja yang mengantarkan berkas" ucap Sely. "Tidak apa mbak, justru aku harus banyak gerak biar kaki aku tidak bengkak dan kaku" imbuh Saira. "Ya sudah, kalau kamu butuh sesuatu katakan saja ya," ucap Sely. "Siap, terima kasih mbak Sely ku yang cantik dan baik hati" ujar Sely tersenyum pada Sely.


"Mbak Sely mau kemana" tanya Saira melihat Sely membawa tas tidak seperti biasanya hanya membawa dompet dan ponsel jika ke kantin saja. "Aku mau pesan makanan untuk rapat sore ini Ra," ujar Sely. "Ko tidak pesan online saja mbak seperti biasanya" Saira heran.


"Bos ingin pesan yang fresh Ra, sesuai menunya yang diinginkan. Sekalian lah Ra, aku juga pengen refreshing masa di kantor terus, kalau pesan online kapan aku keluar di jam kantor" ujar Sely tersenyum.


"Aku boleh ikut mbak" pinta Saira. "Ish kamu Ra, kamu lagi hamil besar jangan nanti takut ada apa apa, lagian kerjaan kamu bagaimana?" seru Sely. " Ini kan masih jam makan siang mbak. Mbak Sely tidak akan lama kan" tanya Saira.


Saira dan Sely pergi ke tempat restoran yang tidak jauh dari kantornya sekaligus makan siang di sana.


Ketika Sely sedang memilih menu yang akan di pilih di dalam ruangan, Saira menunggu di meja makan. Saira melihat sesosok wanita yang semalam dia lihat juga. Saira penasaran dan langsung mengamati dan mendekati.


"Keyla.." panggil Saira.


"Sa..Saira" sahutnya. "Kamu Keyla kan yang di SMA 2 itu kan" Saira meyakinkan. "Iya Ra, ini aku Keyla" jawabnya dengan ragu.

__ADS_1


" Apa kabar Key, lama kita tidak bertemu" Saira memeluk Keyla. "Baik Ra, kamu bagaimana" Keyla sembari melihat dari atas hingga ujung kaki. "Kamu sedang hamil Ra" tanya Keyla.


"Iya Key, alhamdulillah. Kamu di mana sekarang Key, sudah lama sekali kita tidak bertemu" Saira memberondong pertanyaan. "Ra, maaf ya waktu pernikahan kamu aku tidak datang" Keyla tampak tidak enak. "Memang kamu kenapa Key, aku hubungi kamu dan datang ke rumah orang tua mu katanya kamu di jakarta belum pulang" ujar Saira.


Sebelum Keyla menjawab Sely datang.


"Ra, kamu sudah pesan makanan" tanya Sely melihat jam. "Oh iya aku lupa mbak, sebentar aku pesankan" jawab Saira. "Ra, aku duluan ya suami aku sudah menunggu di luar" Keyla langsung pamit tanpa menjawab pertanyaan Saira.


"Ra, maaf ya aku mengganggu dengan temanmu" Sely merasa tidak enak. "Tidak apa mbak" jawab Sely. "Jam makan siang akan habis kita harus cepat ke kantor lagi" ujar Sely.


Mereka langsung memesan makanan dan setelah selesai langsung kembali ke kantor.


Rey sudah menunggu di depan meja Sely.


"Dari mana kalian, sudah jam berapa ini" Rey bertanya sembari menyilangkan tangan di dada. "Maaf pak, kami tadi baru pulang memesan makanan untuk rapat sore, sekalian makan siang" Sely menjelaskan. "Dan kamu" Rey melirik Saira. "Saya yang minta pak untuk menemani saya ke restoran" ujar Sely menutupi Saira agar tidak di marahi.


"Kamu kan sedang hamil, kenapa ikut dengan Sely" ketus Rey" sebenarnya Rey mengkhawatirkan Saira karena melihat Saira tidak ada di ruangannya cukup lama Rey memilih menunggu di ruangannya.


"Maaf pak, sekali lagi saya minta maaf tadi saya pikir Saira bosan jadi saya ajak sekalian menemani makan siang di luar" Sely menunduk.


"Baiklah, lain kali jangan ajak wanita yang sedang hamil bepergian" ujar Rey langsung meninggalkan mereka.

__ADS_1


"Mbak Sely kenapa tidak bilang aku yang memaksa ikut" Saira sangat menyesal. " Sudah lah Ra, dari pada pak Rey memarahi mu aku sih sudah kebal dengannya" jawab Sely santai.


__ADS_2