
Di kafe tersebut Saira masih termenung mendengar kata kata dari seorang pria yang seharusnya dia dengar dari mulut kekasihnya calon imam untuk dirinya kelak tapi kenyataannya bukan dia tapi dari mulut laki laki yang baru dikenalnya beberapa tahun belakang ini.
"Kak Valen, aku tak sebaik yang kakak kira, kakak baru mengenalku belum tahu sifat aku bagaimana, aku begitu banyak kekurangan tidak ada yang dibanggakan dari aku" Ujar Saira menatap Valen.
"Tidak Ra, kamu begitu istimewa bagi aku. Kamu masih ingat pertama kali kita bertemu."
"Jujur saja kamu berbeda dengan wanita yang seumuran dengan mu yang lebih mementingkan penampilan, gaya hidup yang tinggi, aku melihat kamu tampil apa adanya. Terang Valen.
"Aku memang berbeda kak, bukan karena aku apa adanya tapi ya memang begini lah aku, jangankan untuk bergaya bisa kuliah saja aku sudah bersyukur.
Aku bukan anak orang berada seperti mereka, tapi aku hanya seorang anak dengan orang tua yang pas pasan". Jelas Saira.
"Aku tidak melihat kesitu Ra, yang aku lihat ketulusan dan sikap mu. Kita berjuang sama sama untuk satu tujuan" sahut Valen.
"Kak Valen boleh menyukai atau mengagumi aku itu hak kak Valen tapi maaf kak aku sudah menemukan seseorang yang ingin bersamaku untuk satu tujuan juga". Ujar Saira yang di dalam hatinya dia berucap Semoga saja. "Semoga kak Valen mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku karena aku tahu kak Valen orang baik" Saira tersenyum.
"Baiklah Ra, aku sudah tahu sebenarnya jawabannya aku hanya ingin mengutarakan isi hati aku saja supaya aku ikhlas merelakan mu dengan orang lain" ucap Valen dengan tersenyum getir.
Saira melihat jam di pergelangan tangannya.
Kak Valen, maaf aku harus pergi takut kesorean karena sekarang aku pulang langsung ke rumah orang tuaku jadi tidak bisa lama lama" Ujar Saira terburu buru. "Baik, aku antar ya sampai terminal" tawar Valen.
"Tidak usah kak terima kasih, sampai jumpa lagi kak Valen" tolak Saira halus dan langsung berpamitan pergi meninggalkan Valen yang masih termangu di kafe tersebut.
Di perjalanan menuju pulang, Saira masih kepikiran dengan ucapan ucapan Valen. Siara merasa tidak enak dengan Valen yang sudah begitu baik terhadap dirinya dan teman temannya yang sering membantu tetapi dia juga harus tegas untuk mengambil sikap supaya tidak menyakiti lebih dalam tentang perasaan Valen.
Sesampainya di rumah Saira langsung masuk kamar merebahkan badannya karena lelah diperjalanan.
__ADS_1
Tok..tok..
Ibu mengetuk pintu kamar Saira.
" Ra, Saira. Kamu di dalam nak" panggil ibu. "Iya bu, ada apa" sembari membukakan pintu kamar. " Kamu sudah makan nak" tanya ibu. "Belum lapar, nanti saja kalau lapar" sahut Saira. "Ra, jangan suka menunda nunda lapar, kamu kan punya penyakit maag jadi tidak boleh telat makan." Ujar ibu. "Baik ibu nanti Saira makan," ucap Saira bermalas-malasan.
Saira ke dapur untuk makan dia menyendokan nasi dan lauknya. Saira makan sambil menscrol berita yang ada di media sosial. Dan suara panggilan di ponsel Saira berbunyi.
Saira : "Hallo Assalamualaikum"
Juan : "Walaikumsalam..yang kamu sudah pulang"
Saira : "Sudah kak"
Juan : " Kamu tidak ada acara kan malam ini"
Saira : "Tidak kak"
Saira : "Iya silakan kak"
sambungan telepon pun terputus
Saira segera menyelesaikan makanannya dan langsung membersihkan piring kotornya.
Malam hari nya Juan datang mengunjungi rumah Saira sesuai apa yang di ucapkan di telepon.
" Hai yang" sapa Juan yang langsung masuk melihat Saira sudah menunggu di depan pintu. "Bagaimana tadi sudah beres mengambil perlengkapan wisudanya" tanya Juan. "Sudah kak" jawab Saira. "Kamu tadi pulang jam berapa, lama disananya?" tanya nya beruntun. "Ya lumayan, sebenarnya tadi siang juga sudah selesai, tapi tadi aku ada perlu dulu dengan teman." jawab Saira ragu takut Juan menanyakan detail nama temannyang ditemui. Tapi untungnya Juan tidak menanyakannya.
__ADS_1
"Yang, apa kamu tahu apa kak Safa sudah memiliki pasangan" Saira terdiam, mengapa akhir akhir ini topiknya selalu berhubungan dengan kak Safa?.
"Aku tidak tahu kak" jawab Saira.
"Apa kamu tidak bertanya pada kak Safa?" tanya Juan yang membuat Saira binggung menjawabnya.
"Aku sudah sempat menanyakan pada kak Safa tapi kak Safa tidak menjawabnya dan selalu menghindar. Apa memang tidak punya atau malu" jawab Saira mengangkat bahunya.
"Kenapa kakak bertanya tentang kak Safa?" tanya Saira.
"Bukan apa apa Ra, jika seandainya kakak melamarmu dan menikah apa kak Safa tidak keberatan?" ucap Juan, yang sebenarnya Saira pun sedang bertanya tanya tentang kakaknya.
"Oh iya, minggu depan acara wisudanya kemungkinan aku akan berangkat duluan 1 hari sebelum hari H karena akan ada GR dulu kak di kampus" terang Saira. "Ayah dan ibu akan datang pas hari H berangkat subuh dari sini" tambahnya.
"Ya sudah ayah dan ibu bareng sama kakak pas hari H nya saja nanti kakak jemput" ujar Juan. "Kakak memangnya tidak kerja? tanya Saira.
"Kakak sudah mengambil cuti yang agar bisa menemani mu wisuda" ujar Juan. "Maaf ya kak dulu aku tidak bisa menemani kakak wisuda" ucap Saira. "Sudah tidak apa yang, kan kamu waktu sedang sakit masa harus dipaksakan pergi" ujar Juan.
"Iya kak. Ya sudah nanti aku kasih tahu ayah dan ibu" sahut Saira.
Dan Hari dimana wisuda akan diselengarakan. Saira sudah berangkat sehari sebelumnya. Saira menginap di kosan Fika bersama Tania juga. Ayah dan ibu dijemput oleh Juan pagi sekali karena perjalanan cukup jauh dan jika waktu wisuda pasti akan macet dengan kendaraan keluarga pengantar wisuda.
"Ayah, ibu sudah siap semua?" tanya Juan yang sudah ada dirumah Saira. "Sudah nak, ayo kita langsung berangkat" sahut ayah yang langsung dibukakan pintu mobil oleh Juan.
"Nak Juan terima kasih banyak sudah menjemput ayah dan ibu, maafkan ayah ya nak Juan sering merepotkan nak Juan" Ujar ayah.
"Tidak apa apa ayah, Juan senang bisa membantu ayah dan ibu, apalagi ini momen special wisuda Saira" ucap Juan.
__ADS_1
Mobil Juan sudah sampai di depan kampus tapi di luar sudah terlihat barisan kendaraan yang sudah mengantre untuk masuk ke kampus. Hampir semua yang akan mengikuti acara wisuda.
"Ayah dan ibu masuk saja ke dalam saya akan menunggu di depan sini" ujar Juan yang mengantar ayah dan ibu ke depan gedung tempat wisuda Saira. " Nak Juan tidak apa apa kami tinggal masuk" tanya ayah tidak enak. "Tidak apa apa yah, undangannya kan hanya untuk dua orang, Juan tunggu di sini saja banyak sepertinya yang menungggu di sini juga" ujar Juan yang meyakinkan ayah. "Baiklah ayah masuk ya nak Juan" seru ayah. "Iya yah silahkan." Juan mengangguk.