Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Jujur


__ADS_3

Sebelumnya ….


"Terima kasih, Sira." Afra mengusap air matanya setelah Sira berhenti memeluknya. Sira hanya diam dan tidak menjawab meski hanya dengan anggukan kepala.


Sira bergeming dan hanya melihat, memberi pandangannya pada Afra yang sudah menghilangkan air mata itu.


"Ya, lebih baik kita kembali sekarang,"-Sira mendongakkan kepalanya-"hujannya juga, sudah berhenti?"


"T –tapi, Aura …." Afra berhenti berbicara saat Sira langsung menatap mata birunya yang masih menyisakan sedikit cairan bening.


Sira menghela napasnya, "ikut aku."


Afra membelalakkan matanya dan tertegun saat Sira langsung menggenggam erat tangannya. Sira berjalan dan menarik Afra sehingga dirinya harus mengikutinya. Mengikuti sampai di tempat di mana Sira mengambil buku bacaan.


"Di sini." Sira melepaskan genggaman tangannya dan berjongkok.


Afra diam dan melihat Sira yang mulai mengedarkan pandangannya pada lantai kayu. Sampai akhirnya, Sira melebarkan mata dan tersenyum tipis.


"Tanganmu," kata Sira menoleh dan mengulurkan tangannya pada Afra. Afra terkejut, tetapi ia hanya bisa mengangguk dan menerima uluran tangan Sira.


Afra ikut berjongkok, sementara Sira mulai menempelkan tangan Afra pada lantai yang sebelumnya ia sentuh. Afra terbelalak saat bayang-bayang ingatan muncul dalam benaknya. Ia melihat Aura di sana, tetapi seketika bayang-bayang ingatan itu menghilang.


Afra kembali terkejut, "Aura!"


Sira langsung menempelkan jari telunjuknya ke mulutnya sendiri, menandakan agar Afra tidak bersuara keras. Namun, meski Afra sudah tidak mengeluarkan suara, air matanya kembali menetes.


"Aura …," lirih Afra sembari meneteskan air matanya. Sira menggenggam erat tangan Afra, membuat Afra sedikit terkejut.


"Kita kembali saja ke penginapan, tidak ada gunanya—"


"Tidak! Tidak bisa!" Afra memotong perkataan Sira dengan nada tinggi.


Sira tidak bisa berkata-kata dan memilih diam, tetapi ia langsung bangun tanpa menarik Afra agar ikut bangun. Afra tentu terkejut saat melihat Sira yang mulai berjalan meninggalkannya. Meninggalkan dirinya yang kini mulai berdiri, membuka mulut dan berkata.


"Si –Sira …." Afra memanggil Sira dengan nada yang terdengar melemah, tetapi itu berhasil membuat Sira berhenti.


Sira melirik dan memberi tatapan tajam pada Afra, "mencari sesuatu tidak bisa dilakukan di satu tempat yang sama, Bodoh!"


"A –aku …." Afra tidak bisa berkata-kata setelah mendengar perkataan Sira, sampai Sira akhirnya menghela napas panjang.


"Ayo, kita kembali ke penginapan," ajak Sira sambil mengulurkan tangannya setelah berjalan mendekati Afra.


Afra masih terdiam, meski kini dengan rasa yang berbeda. Memang, ia masih tidak bisa berkata-kata karena perkataan Sira sebelumnya, tetapi rasanya ada yang berbeda.


Meski sepertinya itu tidak terlalu tepat di saat seperti ini.


.


Afra mengangguk dan menerima uluran tangan Sira. Keduanya pun keluar dari perpustakaan, meski sebelumnya Sira memberi pertanyaan pada penyihir resepsionis.


"Maaf, tapi aku tidak menerima kebohongan. Apa kau melihat penyihir perempuan berambut panjang berwarna kuning dengan pakaian seperti pelayan?"


"A –aku … tidak terlalu ingat, tapi …." Penyihir resepsionis tampak diam dan tidak melanjutkan perkataannya.


"Tapi apa?" Sira kembali bertanya dan mempertegas perkataannya.


"A –aku juga tidak tahu, tapi sepertinya aku melihatnya ketika masuk, tapi juga … sepertinya tidak." Jawaban penyihir resepsionis sontak membuat Sira terkejut dan kebingungan.


"Hah? Serius?" tanya Sira lebih mengarah pada penekanan. Nada bicaranya seakan memaksa agar lawan bicaranya menjawab spontan dan jujur.


"Aku tidak ingat! Yang ku tahu aku seperti dihipnotis dan buku daftar pengunjungnya langsung hilang—" Penyihir resepsionis langsung menutup mulutnya sendiri, sedangkan Sira hanya menyipitkan matanya.


"Terima kasih, maaf mengganggu," ucap Sira langsung pergi keluar dari perpustakaan dan meninggalkan penyihir resepsionis itu.


Afra? Ia hanya diam dan memperhatikan lalu mengikuti Sira yang sudah menggenggam erat tangannya. Menarik dan memaksanya agar berjalan sampai menuju tempat penginapan.


Matahari senja menjadi saksi atas perjalanan penutup ini.


.


.

__ADS_1


.


.


.


Sekarang ….


"Aakh, cewe itu tidak bisa diam kah?" gumam Sira kesal karena mendengar suara tangisan Afra.


Sira beranjak dari tempat tidurnya dan keluar dari kamarnya. Sampai dirinya berdiri di depan pintu kamar Afra, ia terdiam. Menatap dan sedikit berpikir.


"Aura …," lirih Afra namun masih terdengar jelas oleh Sira.


Ya, meski ada pintu ataupun dinding kayu sekalipun, suara Afra terasa sangat jelas bagi Sira. Ia sampai mengepalkan tangannya, rasa kesal mulai menyelimuti pikirannya.


Meski begitu, ia mencoba tenang dan mulai menghela napas, sampai ….


"Aku … benar-benar bodoh."


.


Perkataan Afra membuat dirinya berubah pikiran.


.


.


.


Sira langsung mengetuk pintu kamar Afra, "Hei, kau masih menangis?"


Rasa kesal dan emosi, semua itu tidak bisa langsung diluapkan begitu saja 'kan? Meski kekesalan selalu melanda pikiran Sira, sepertinya ia sudah memiliki tanggapan sendiri atas sifatnya ini.


"Aku … tidak menangis, Sira." Jawaban Afra terdengar setelah beberapa detik.


"Aku baik-baik saja." Sementara jawaban ini terdengar setelah dua detik berselang dari jawaban pertama.


Meski itu tidak sampai membuatnya berdarah.


.


"Kau … benar-benar tidak bisa jujur, Afra?" tanya Sira membuat Afra terbelalak.


Afra tertegun, tetapi dengan cepat ia langsung beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri pintu kamarnya. Namun, langkahnya seketika berhenti saat ….


"Apa kau akan baik-baik saja jika seperti itu? Memangnya kau tidak bisa, melakukan hal untuk mendapatkan jawaban hah!"


.


Afra benar-benar tertegun, perasaannya seperti dibolak-balik. Bagai botol kaca yang berada di tengah lautan yang sedang menghadapi badai. Terombang-ambing dan berusaha untuk bertahan dari kilat yang menyambar.


Meski kini rasanya ia tidak bisa diam saja.


"Aku … memang tidak bisa apa-apa, Sira,"-Afra menundukkan kepalanya-"aku benar-benar tidak bisa apa-apa!"


Afra kembali meneteskan air mata, sementara Sira mulai membuat luka di telapak tangannya. Luka yang tercipta karena ia mengepal erat dengan penuh kekesalan.


"Lalu, kenapa … kenapa kau bisa hidup sampai sekarang, Manusia!"-Sira mengambil napas panjang-"bagaimana kau bisa hidup sampai saat ini hah! Jika kau bilang kau tidak bisa apa-apa!"


.


Afra terbelalak dan terkejut, ketidakpercayaan tercipta meski ia tidak bisa membantahnya. Perkataan Sira memang benar, tetapi itu malah merubah masalahnya. Awal yang tercipta karena keberadaan Aura, kini berubah menjadi tentang diri-'Nya'.


Keberadaan Aura hilang, semuanya karena Iliya. Hal itu sudah menjadi inti permasalahannya, bahkan buku dunia sudah memberi petunjuknya. 'Lyvie', itulah kata petunjuk yang sebenarnya adalah kata pemberitahuan.


Pemberitahuan agar Afra menyelamatkan Aura, meski semuanya kini sudah tidak ada gunanya.


.


Pikiran Afra kini malah terfokuskan pada dirinya yang lain. Kepada sang alter yang kini sudah jarang menghantuinya lagi.

__ADS_1


"Hei! Apa kau tidak bisa menjawabnya, Manusia!" Sira kembali menegaskan ucapannya setelah satu menit lebih keheningan tercipta.


.


"Aku … benar-benar tidak tahu!" jawab Afra dengan nada tinggi dan langsung membuka pintu kamarnya.


Sira membelalakkan matanya dan terkejut saat melihat Afra yang sudah basah dengan air mata. Keduanya saling bertatapan, sampai akhirnya Afra langsung ….


.


"Aku … benar-benar tidak tahu, Sira …," lirih Afra mulai menyuarakan rasa kesedihannya.


Menyuarakan dan meluapkan semua tangisannya dengan memeluk Sira, si penyihir bertanduk itu. Sira tertegun dan tidak bisa mengatakan sepatah kata lagi untuk menyadarkan Afra. Ya, dirinya saja semakin kebingungan saat mendengar perkataan Afra itu.


Meski begitu ….


.


"Maaf, aku tidak sopan,"-Sira membalas pelukan Afra-"tapi, kuharap ini bisa membuatmu tenang."


.


.


.


Suara tangisan, angin sepoi-sepoi di waktu malam, bulan dan bintang yang menyinari kegelapan. Awan gelap tampak pergi dan kini cahaya menyinari. Semuanya menjadi sunyi, meski sebenarnya suara selalu meski hanya ada benda mati saja.


"Aku, benar-benar tidak tahu, Sira …," lirih Afra lagi kembali mengulang perkataannya dan terus menyuarakan tangisannya. Terus dan terus mengulanginya dalam pelukan Sira.


Afra memeluk Sira dan Sira membalasnya. Keduanya saling berpelukan dan memberikan ketenangan yang entah akan tercipta atau tidak. Malam hari yang bersinar, tetapi sepertinya membuat rasa kesedihan, apa itu benar?


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ya, sepertinya benar. Meski itu tidak berlaku untuk para antagonisnya.

__ADS_1


__ADS_2