
Di hutan kawasan netral, atau lebih tepatnya … di hutan pinggiran kota Etral. Sesosok iblis tingkat setan terlihat sedang menyalakan api hitam kebiruan.
Sepasang tanduk di kepala yang berbeda ukuran, rambut hitam pendek dengan beberapa helai nya yang berwarna biru dan putih, kedua telinganya yang runcing, dan netra biru gelap yang selalu memberi kesan yang takkan mudah dilupakan.
Di bawah pohon yang daunnya berguguran, Vendry menatap bulan purnama dengan tatapan misterius. Angin malam yang berhembus membuat dedaunan pohon berguguran, dan terbakar api unggun berwarna hitam milik Vendry.
"Tanda bintang, seharusnya sudah cukup," lirih Vendry sembari menatap purnama yang mulai tertutup awan.
***
Sementara di tempat lain, atau lebih tepatnya … di kamar tempat Sira berada.
Seekor burung hantu tepat hinggap di jendela kamar Sira, dan masuk ke dalam. Beranjak dari posisi terbaring, Sira menatap dingin burung hantu itu. Dan…
Burung hantu itu seketika berubah menjadi sesosok makhluk perempuan berambut putih dengan netranya yang mirip matahari terbit. Dengan panjang rambutnya yang sebatas menutupi lehernya itu, ia menunjukkan raut wajah dinginnya pada Sira. Meski, nampak tatapan serius di matanya.
"Sira, kita semua harus pergi mencari yang lainnya, sekarang!" perintah Phia dengan nada serius sambil menatap tajam mata Sira, meski … Sira bergeming mendengarnya.
Seketika … ledakan cahaya terlihat di luar jendela kamar, dan … suaranya pun mulai melengking di telinga pendengarnya. Phia langsung menoleh dan melihat keluar jendela. Ledakan cahaya di langit malam itu membuat bintang-bintang yang padam menjadi bercahaya.
Tidak hanya Phia dan Sira yang melebarkan mata, penghuni kamar sebelah juga … sama-sama merasakan hal yang sama.
.
.
"Hei, apa itu benar-benar … tanda bintang?" kata Yuu bertanya dengan mata terbuka lebar.
Afra hanya bisa diam dengan wajah penasaran, dan … kebingungan. Tie yang sebelumnya memegang ranting kecil dengan bibirnya mulai memindahkannya kepada dua jarinya.
"Ya, sepertinya benar," jawab Tie dengan aura ketenangan dan kembali menghisap ranting kecilnya.
Afra, Yuu, Tie, Cyrèn, Phia, dan Sira. Mereka semua masih memandang bintang-bintang yang berkedip-kedip di langit malam yang penuh awan. Meski dengan pemikiran dan perasaan yang berbeda-beda, tetapi … ada satu kepastian di sini.
.
.
"Tanda bintang … Vendry sudah mengirimkannya," ucap Phia lirih dengan netra bagaikan mentari terbit miliknya yang mulai bersinar.
Tiba-tiba, Phia langsung mendekati jendela dan mengeluarkan sayap burung hantunya. Ia terbang, dan keluar dari kamar Sira melalui jendela. Sira sontak terkejut dan tak percaya. Satu keyakinan yang langsung muncul di pikirannya adalah…
"Woy! Jan gerak sendiri!" teriak Sira dengan lantang, tetapi tidak tersampaikan pada sang tujuan. Sira dengan cepat langsung keluar dari kamarnya, tentu melalui pintu dan pergi dari penginapan.
Langkah dan kecepatan, Sira tanpa basa-basi langsung mengejar Phia yang terbang di langit dengan sayapnya yang tak bersuara. Meski bangunan-bangunan kota membuatnya kesulitan melihat sang burung hantu, ia tetap berlari mengejar.
__ADS_1
Sementara itu, di penginapan. Sepertinya para senior dan juga dua junior sudah mengetahui apa yang terjadi di kamar sebelah. Meski…
"Wah, wah, kata-katanya benar-benar aneh, ya! Seperti … 'mereka' itu …!" ujar Cyrèn sembari melirik ke arah Afra. Afra yang mendapat tatapan dari netra merah tajam itu tak bisa apa-apa.
Afra hanya bisa tertegun dan berusaha untuk tenang, meski rasanya … ia ingin … membiarkan sesuatu mengendalikannya. Namun, hal lain langsung mengubah topik pembicaraan yang aneh ini.
"Bicara membuang waktu!" tegas Tie dan Yuu bersamaan, dan langsung mengambil tindakan cepat. Kabut hitam dan putih bersatu dan membuat pandangan kabur.
Kedua werewolf itupun langsung menghilang setelah kabut putih dan hitam yang bersatu itu lenyap terbawa udara malam. Cyrèn dan Afra hanya bisa diam dan diam. Walau sebenarnya, senyuman miring tercipta di bibir sang siluman.
"Benar-benar assassin, ya," kata Cyrèn memberi kesan tanda tanya bagi Afra. Ya, Afra masih menyimpan begitu banyak pertanyaan, dan pertanyaan-pertanyaannya mulai bertambah.
.
.
Apa itu assassin?
Apa itu tanda bintang? Lalu …
… Apa yang dimaksud dengan 'mereka'? batin Afra bertanya-tanya mengenai inti masalahnya sekarang.
***
Bulan berputar mengelilingi bumi, tetapi tidak sama seperti matahari. Matahari akan tetap dan tidak akan berubah. Ia tak mungkin bersinar di kegelapan malam, dan tak mungkin berada di tempat bulan berada. Meski … bulan bisa melakukannya.
.
.
Hutan hijau yang gelap. Api hitam yang memercikkan cahaya biru gelap. Suasana panas yang mendinginkan. Semuanya … terukir di pinggiran kota Etral.
Sang burung hantu mulai mendarat perlahan ke tanah, diikuti dengan dua bayangan hitam dan putih, yang seketika berubah menjadi makhluk yang masih satu ras namun berbeda bangsa itu.
Ketiga makhluk itu terbelalak sejenak, melihat cahaya hitam yang bersinar karena dominasi warna biru dari dalam hutan. Cahaya … kobaran api yang tercipta dari satu iblis tingkat setan.
"Iblis tingkat setan," gumam Tie setelah melemparkan ranting kecil di mulutnya ke kobaran api hitam itu. Namun, belum sampai mengenai api, ranting kecil itu sudah terbakar dan menjadi abu setelah terkena aura dari api itu.
Tie melebarkan matanya sejenak, lalu kembali ke wajah tenangnya. Dan benar saja, sesosok makhluk hitam keluar dari kobaran api hitam itu.
"Ternyata itu benar-benar kau, Senior Tie Aphas!" ucap Vendry dengan netra birunya yang bersinar.
***
Bintang. Bukan satu, melainkan seribu. Bahkan lebih dari itu. Seluas-luasnya semesta, keberadaannya masih tetap bagaikan simetri lipat dan putar lingkaran.
__ADS_1
Bagaikan ruang hampa udara, aura dinginnya terasa mencekam dan menusuk jiwa yang kosong. Setiap langkahnya, selalu meninggalkan jejak es yang menyebar ke sekelilingnya. Hembusan nafasnya yang mengeluarkan hawa dingin, memberikan kesan sebiru es darinya.
"Ayolah, Sira! Hibur aku sebentar saja, ya?" ucap penyihir kecil dengan netra merah bagaikan api dalam kegelapan, atau lebih tepatnya … batu permata merah.
Sira yang awalnya berniat mengejar Phia, akhirnya harus terjerumus dalam permainan penyihir hijau ini. Ya, Iylasvi … entah kenapa dan bagaimana, tiba-tiba saja langsung menyerangnya dengan sekumpulan kerangka-kerangka manusia.
"Sialan!" umpat Sira penuh emosi dalam hatinya. Iylasvi tertawa dengan nada jahatnya.
Seketika, kerangka-kerangka manusia mulai muncul dari dalam tanah dan berjalan mendekati Sira. Di gang kecil dan gelap ini, Iylasvi melayang dengan tongkatnya dan melihat Sira yang kewalahan dengan perasaan senang.
Satu persatu kerangka-kerangka manusia itu membeku dan hancur menjadi kristal-kristal es kecil. Meski begitu, kerangka manusia lainnya mulai berdatangan dari arah yang berbeda, dan itu … membuat Sira semakin kesal.
"Es membekukan, air mencairkan!" kata Sira dengan lantang sambil menatap tajam langit malam yang gelap.
Seketika, udara dingin keluar menyelimuti gang kecil tempat Iylasvi dan Sira berada. Dan … suara-suara es yang pecah terdengar nyaring dan menggaung di telinga pendengarnya. Pandangan yang terhalang membuat Iylasvi kesulitan melihat, dan hanya bisa terganggu oleh suata pecahan es itu.
"Beku abadi, cair sementara, dan tidak ada yang nyata!"
Iylasvi langsung menoleh ke belakang, dan mendapati Sira yang langsung menatap kedua bola matanya setelah menoleh. Iylasvi tak bisa bergerak, tubuhnya terasa membeku. Sedangkan Sira, ia tetap menatap tajam netra merah itu dengan netra kuning keemasannya.
Keduanya sama-sama melayang di atas tanah, dan saling menatap, sampai…
"Bermain itu ada waktunya, Penyihir!" tegas Sira seketika membuat … Iylasvi terbelalak. Namun, hujan darah langsung membasahi tubuh keduanya … setelah beberapa kristal es yang pecah mengenai tubuh keduanya.
.
.
.
"Aku … sudah terlalu senang, Sira!" jelas Iylasvi seketika langsung … membuat keduanya terjatuh ke tanah, dengan darah yang langsung berhenti keluar dari tubuh mereka.
"Akh, dasar penyihir gila!" umpat Sira penuh kekesalan.
***
Jadilah seperti bintang, meski kadang tak pernah sama, tetapi ia selalu hadir dan setia. Senantiasa bersama, meski … saling tak mengerti asal-usulnya.
Rambut merah muda, netra tiga warna, dan … raut wajah yang tak senantiasa sama. Biru dan hitam menjadi ciri khas pakaiannya, dengan dominasi garis kuning biru muda. Ras penyihir pengguna sihir teleportasi itu … kini sedang berada di atap bangunan di perbatasan kota Etral.
Ya, perbatasan antara … kota Etral dan kota Earth, kota kerajaan hewan.
Aura terlihat memandangi kota Earth, dengan tatapan sebelah. Begitu juga dengan kota Etral, tempat ia berdiri saat ini. Aura melihat jauh di hutan pinggiran kota, dan melihat kobaran api hitam di sana.
Matanya terbelalak sejenak, lalu semakin melebar saat melihat hawa dingin di lingkungan kota. Namun, eskpresi nya langsung berubah.
__ADS_1
Senyuman tipis tercipta di bibirnya.
"Kepercayaan itu … sangatlah sulit di dunia ini. Iya 'kan, Teman?"