Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Berdarah


__ADS_3

Dunia bawah, tempat di mana tidak ada kehidupan yang baik-baik saja. Langit masih menitihkan air mata dan membasahi tanah sampai menghasilkan genangan kecil. Suaranya terdengar keras meski sebenarnya sudah memberi sedikit rasa ketenangan.


.


.


.


Meski itu tidak berlaku untuk tokoh utama ini.


.


.


.


.


.


Terjerat rantai berdarah, itulah tiga kata yang menyimpulkan kondisi dari tokoh utama saat ini.


"Akh!"


Afra Afifah, tokoh utama ini masih menyuarakan dengan lirih rasa sakitnya. Sementara tokoh lainnya, yaitu Aura, sedang memberi pengobatan untuknya. Hanya luka dan darah yang dilihat oleh Aura, tetapi yang dilihat oleh Afra adalah rantai hitam di perutnya.


Rantai hitam yang merupakan inti dari rasa sakitnya itu. Rantai hitam yang kini mulai melilit dan menjadi kalung pada leher putihnya itu. Rantai hitam yang sudah membuatnya semakin kesakitan.


"Rantai ini … adalah pengganti dirimu, ya, diriku yang lain," batin Afra sambil berusaha menahan rasa sakit itu dalam diam.


Sembari melihat Aura yang menutupi luka-luka di tubuhnya, ia hanya bisa diam dan menyimpulkan senyuman tipis. Aura masih dalam posisi serius dan terus menutupi luka juga darah yang keluar dari tubuh Afra.


.


.


.


.


.


.


.


Langit masih menitihkan air mata. Butiran-butiran bening terus diturunkan olehnya. Terus turun tiada henti bersamaan dengan darah yang masih mengalir keluar dari tubuh gadis manusia bernama Afra Afifah ini.


Berdarah, mungkin itu satu kata yang cocok di sini.


"Sekali lagi, terima kasih, Aura," kata Afra dengan suara yang mulai lirih.


Aura tersenyum, "ya, ini belum seberapa! Aku hanya melakukan tugasku saja!"


"Tugas?" Afra penasaran mendengar jawaban Aura itu. Aura langsung mengeluarkan sedikit keringat dingin di wajahnya.


"Aah! Bukan apa-apa kok, jangan dipikirkan, lebih baik kau istirahat saja!"-Aura beranjak dari tempatnya duduk-"untuk masalah kau ingin pergi, biarkan aku yang mengaturnya!"


Afra membelalakkan matanya, mendengar jawaban Aura yang seperti itu membuatnya terkejut. Namun, rasa sakit di tubuhnya kembali menyebar dan terasa, membuatnya harus diam juga tak membalas perkataan Aura.


Afra hanya menganggukkan kepalanya, sementara Aura kembali tersenyum pada dirinya.


Waktu pun terus berjalan dan tak mempedulikan kondisi para makhluk yang berjalan di waktu alami. Berbeda dengan mereka yang sudah melampaui batasan waktu. Ya, benar-benar berbeda.


Afra memejamkan matanya dan tertidur, sedangkan Aura memandang keluar rumah. Gadis penyihir itu berdiri di pintu dan menatap butiran-butiran air di atas kepalanya. Butiran-butiran yang turun dari langit itu semakin terasa sunyi.


Netra gradasi gadis penyihir menatap Afra yang tertidur, lalu kembali memandang pemandangan hujan.


"Aku harus menjaga gadis manusia ini, sesuai perintah 'nya'," lirih Aura dengan kedua mata dan telinganya yang merasakan makna sebenarnya dari tangisan langit ini.


Sedangkan di tempat lainnya…


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Di suasana hujan yang sama, terdapat dua penyihir. Keduanya sedang berteduh di bawah dedaunan pohon yang besar. Warna hijau dan kuning, itulah identitas kedua penyihir itu.


Penyihir berambut kuning keemasan dan berpakaian layaknya pembantu di sebuah bangunan mewah. Tidak, memang model pakaiannya yang seperti itu. Mata penyihir itu berwarna merah pekat, meski sekarang mulai diselimuti warna kuning.


"Ini benar-benar sesuatu yang langka, lho, Iliya! Hihi."


Iliya Viely, itulah nama dari penyihir kuning. Ia saat ini sedang bersandar di pohon yang memiliki batang berwarna hijau. Ya, tidak ada kayu di hutan ini dan semua tanamannya berwarna hijau.


Iliya masih dalam kondisi penuh luka, meski sekarang lukanya sudah hilang dan hanya tersisa bekas darah. Ia hanya diam dan tidak menanggapi perkataan dari penyihir hijau.


"Tch, berterima kasihlah padaku, Iliya! Mungkin kau sudah benar-benar hilang dari dunia ini jika aku, Iylasvi yang baik ini menolongmu!"


Ya, Iylasvi adalah nama dari penyihir hijau. Dan dia adalah yang menyelamatkan Iliya, si penyihir kuning. Benar-benar kejadian yang tak terduga.


"Aku bukan penyihir baik, jadi tidak ada kata terima kasih untukmu, dasar pembunuh—" Ucapan Iliya seketika langsung terhenti. Ia tiba-tiba merasa mual dan langsung memuntahkan darah dari mulutnya.


Tangannya tentu langsung menutup mulutnya sendiri, agar darah yang keluar bisa berkurang. Meski itu membuat Iylasvi tertawa-tawa.


"Baiklah, baiklah! Aku memang pembunuh. Lagipula, mengendalikan nyawa adalah sihirku, jadi tidak apa 'kan, aku membunuh? Hihi!" ucap Iylasvi dengan santainya sembari duduk di dekat Iliya.


Iliya mulai berhenti memuntahkan darah dan menjauhkan tangannya dari mulutnya. Ia memandangi tangannya sendiri yang basah dengan darah.


"Gadis itu … bisa merubah semuanya," lirih Iliya masih terdengar oleh Iylasvi.


Iliya langsung mengepalkan tangannya dan menunjukkan ekspresi kesal. Iylasvi hanya diam dan menatap bingung Iliya.


"Wah, ternyata kau punya hubungan dengan manusia itu, ya, Iliya?" tanya Iylasvi langsung dibalas dengan tatapan tajam oleh Iliya.


"Menurutmu?" Iylasvi langsung menelan ludahnya sendiri setelah mendengar perkataan Iliya itu.


"Baiklah, aku tidak akan mengatakan apapun, jadi nikmati saja, ya!"


.


Keheningan pun tercipta. Iylasvi memalingkan wajahnya dari Iliya dan mulai memejamkan mata. Iylasvi tertidur, tentunya dengan posisi yang masih duduk. Sedangkan Iliya, ia masih memikirkan sesuatu dan memandang langit biru yang tertutupi awan.


Suasana pagi seakan-akan menjadi malam yang penuh hawa dingin. Tidak ada cahaya mentari yang cerah, hanya ada titisan air hujan yang kembali turun dan membasahi tanah juga daun-daun pohon.


Iliya menghela napas panjang, "aku harus menemui yang lainnya," gumamnya sambil menyimpulkan senyuman tipis. Setipis kertas, bahkan tidak terlihat seperti senyuman.


Iliya mulai mengepalkan tangannya dan menatap tajam awan hitam di langit. Butiran bening mulai mengenai tubuhnya, tetapi ia tidak mempedulikannya.


"Tapi, aku harus memastikan sesuatu, tentang gadis manusia itu."


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


Kembali ke tokoh utama.


***


Suasana pagi mulai berganti, tetapi awan masih menyelimuti. Hujan semakin deras dan tidak mungkin berhenti begitu saja. Tidak ada harapan untuk mentari bersinar saat ini. Hanya ada kekejaman dan ketidakadilan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


"Hihi"


.


"Ah! Kau sudah bangun, ya, Afra?" ucap Aura setelah melihat Afra yang langsung terbangun dari tidurnya.


.


.


.


Meski sepertinya, Aura tidak sadar kalau Afra terbangun dengan tubuh yang basah akan keringat dingin. Ya, tubuh Afra benar-benar basah dengan keringat dingin sekarang. Aura tidak mengetahui hal itu karena ia sedang menyiapkan sesuatu di meja.


Ya, tentu saja meja itu jauh dari tempat Afra berada. Dan, tentang keadaan Afra sekarang ….


.


"A –ada apa ini? Kenapa aku merasa sangat takut?"


.


… Ya, tentu saja dia ketakutan. Ketakutan setelah mendengar tawa dari dirinya yang lain. Tawa dari Ilva Ilyani, tawa itu seketika menciptakan hal baru dalam dirinya. Ketakutan yang membuatnya langsung terbayang-bayang akan kejadian penuh darah.


.


"Akh!"


.


"Afra!" Aura seketika langsung berhenti melakukan kegiatannya dan mendekati Afra, setelah mendengar suara teriakkan Afra.


Afra sekarang sedang memegangi kepalanya sendiri. Tidak, lebih tepatnya menutupi kedua telinganya. Suara-suara teriakkan tiba-tiba terdengar melengking di telinganya. Tentu, itu tidak berlaku untuk Aura.


"A –Aura …,"

__ADS_1


__ADS_2