
"Hei, Iliya …," panggil Afra dengan nada lirih dan tetap menatap lantai penuh luka.
"Ha? Apa kau memanggilku, Manusia?" jawab Iliya kembali tertawa kecil dan tersenyum jahat.
Afra diam dan tidak mengeluarkan apapun dari mulutnya. Hanya tangan dan kakinya, juga beberapa bagian tubuhnya yang mengeluarkan cairan kental berwarna merah.
"Apa … maksudmu dengan manusia, Iliya Viely?" tanya Afra dengan nada yang berbeda dari sebelumnya.
Rasa takut tidak terpancar dari tubuh dan nada bicaranya. Hanya penekanan serius dan kekosongan yang dirasakan oleh Iliya.
Iliya tersenyum miring, "manusia adalah makhluk yang sudah seharusnya tidak pernah ada di dunia ini!" tegasnya dengan lantang.
"Heeh, begitukah?" tanya Afra lagi sambil mendongakkan kepalanya dan menatap mata Iliya.
Iliya seketika melebarkan matanya dan merasakan tekanan yang menekan tubuhnya. Tekanan yang menyuruhnya untuk tunduk dan patuh. Netra biru dan merah menatap mata Iliya yang sudah terbelalak.
Mata Afra kini kembali berubah, tetapi tidak semua. Satu merah dan satu tetap biru. Netranya kini sedang menatap tajam Iliya yang mulai gemetar. Meski sebenarnya tidak ada cahaya yang terlihat di netra yang berlawanan itu.
"Apa menurutmu … aku ini manusia, Iliya?" tanya Afra lagi dengan nada yang sama.
Serius dan hanya menginginkan jawaban. Kekosongan sudah tercipta dalam diri Afra dan itu artinya Ilva sudah membuka waktu untuk manusia ini.
"Ha? Apa kau ingin menjadi monster yang menggunakan kekuatan—"
"Hihi," tawa Afra saat melihat Iliya terbelalak dan menghentikan ucapannya sendiri.
Tidak ada yang memotong kecuali sang pembicara sendiri. Mata melebar dan terkejut dengan apa yang dikatakannya sendiri. Iliya kini berada di posisi yang Afra rasakan sebelumnya, bahkan lebih buruk dari itu.
Tubuh yang semakin gemetaran dan netra merah yang bergerak-gerak sendiri. Raut jahat itu kini beralih menjadi ketakutan saat melihat dua ekspresi yang ditampilkan gadis manusia.
Netra merah di sisi kiri menampilkan raut penuh kejahatan, sedangkan netra biru di sisi kanan malah menunjukkan kekosongan jiwa. Bagaikan hidup namun mati. Kejahatan mengambil alih sebagian dan kekosongan mempertahankan sebagiannya.
"Ya, tubuh ini memang manusia, tapi jiwa di dalamnya bukanlah manusia, Iliya Viely!" tegas Afra mengeluarkan dua suara dari mulutnya. Ya, suara miliknya dan suara Ilva.
Seketika, rantai hitam yang terselimuti cairan kental berwarna merah langsung menusuk perut Iliya. Iliya membelalakkan matanya dan memuntahkan cairan kental dari dalam tubuhnya. Kegelapan adalah asal rantai hitam berdarah itu.
"Hihihi." Tawa Afra yang sebenarnya adalah tawa dari sang alter.
"Shine!" lirih Iliya seketika mengeluarkan cahaya dari tubuhnya.
Cahaya kuning yang langsung menyelimuti seluruh ruangan dan menghilangkan pandangan. Rantai hitam terselimuti darah kini hanya menusuk udara. Bekas cairan merah itu hampir menyelimuti seluruh ruangan karena cahaya kuning itu. Begitu juga dengan buku tebal yang sudah tergeletak di lantai.
Iliya menghilang dan netra Afra kembali normal. Tidak ada setengah-setengah. Mata biru dan wajah polos yang dipenuhi rasa takut juga tanda tanya. Tekanan di kepala membuatnya menutupi kedua matanya dan terduduk di lantai penuh pecahan kaca berdarah.
"Akh!" teriak Afra kesakitan dan mengeluarkan darah dari matanya. Sampai akhirnya Afra terjatuh tak sadarkan diri.
__ADS_1
***
Untuk manusia. Hanya tokoh utama saja yang manusia, lainnya bukan. Meski demikian, entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Kekosongan dan ketidaktahuan, juga kesendirian. Manusia tidak sekuat itu 'kan?
.
.
.
.
Aku … di mana? batin Afra setelah membuka kelopak matanya.
Langit biru gelap yang dipenuhi titik-titik putih bercahaya. Angin sepoi-sepoi berhembus dan memberi hawa dingin. Afra mulai bangun dan melihat sekelilingnya. Pepohonan hutan dengan daun yang masih berwarna hijau. Rembulan bersinar terang dan menghilangkan kesan kegelapan di sekelilingnya.
"I –ini … hutan di sekitar rumahku! Hutan kawasan terlarang!" ucap Afra dengan mata terbelalak.
Angin sepoi-sepoi kembali berhembus. Hawa dingin nan sejuk dirasakan oleh Afra. Meski awalnya ia merasa sangat tenang dan senang, tetapi ia kembali mengingat sesuatu. Dan bisikkan sang alter mulai terdengar setelah ia mengingatnya.
"Ya, ini memang hutan tempatmu, tapi ini bukanlah yang asli, Afra!" bisik Ilva dengan nada khasnya. Napas dingin ia hembuskan sampai ke lorong pendengaran Afra.
.
.
.
Afra diam sejenak dan menghela napas panjang. Membiarkan aura ketenangan menyelimuti tubuhnya, begitu juga dengan Ilva. Ilva tersenyum tipis dan membiarkan gadis bermata biru itu merasakan ketenangan.
"Tapi … ini terasa nyata, benar-benar nyata," gumam Afra sambil tersenyum dengan matanya yang masih ia pejamkan. Perlahan, ia membuka kelopak matanya dan menatap bulan yang senantiasa purnama.
"Nikmati saja, ini untukmu, Manusia!"-Ilva menutup kedua mata Afra-"sebelum kau menghadapi rantai kematian!"
.
Perlahan dan tidak pasti. Seketika, semuanya langsung bercahaya dan membuat Afra tidak bisa melihat apapun. Meski ia masih merasakan tangan dingin yang menutup matanya, tetap saja.
.
.
.
Hei, Ilva …
__ADS_1
Sebenarnya … apa yang terjadi?
Kenapa aku harus kembali? Kenapa takdir harus berubah?
Kenapa?
.
Heeh, kau benar-benar polos, ya …
"Manusia!"
Seketika, kegelapan langsung menyelimuti pandangan Afra. Sekarang, ia bisa melihat dengan jelas, meski tidak ada cahaya sedikitpun. Hanya ruangan gelap tanpa dinding dengan dirinya dan juga sang alter di dalamnya.
Gadis bermata biru dengan rambut pendek berwarna hitam kebiruan. Satu-satunya manusia yang terlahir di dunia bawah ini sedang menunjukkan jati dirinya. Kekosongan dan ketidaktahuan, seperti ruangan tempatnya berada saat ini.
Ia menolehkan kepalanya ke belakang dan menatap sang alter dengan tatapan kosong. Gadis bermata merah itu menyimpulkan senyuman miring padanya.
"Hei, apa kau butuh jawaban dariku, Afra?" tanya Ilva dengan tangannya yang mengusap wajah Afra.
Afra masih menunjukkan wajah tanpa ekspresi dengan netranya yang tidak memantulkan titik cahaya. Namun, mulutnya perlahan mulai membuka dan mengeluarkan satu kata.
"Ya," lirihnya menjawab pertanyaan sang alter.
Senyum penuh makna tersinarkan di wajah Ilva setelah mendengar perkataan Afra. Makna dari sebuah kegelapan penuh noda merah.
"Tutup matamu dan biarkan kegelapan menyelimutimu, Afra Afifah!"
.
.
Kesadaran Afra mulai menghilang, tetapi juga mulai kembali. Suara samar terdengar berulang-ulang. Membisik dan berusaha menyadarkan sang pendengar. Itu bukanlah bisikan dari 'nya', tidak seperti yang sebelumnya. Suara itu … berlawanan dengan suara dari sang alter.
"Afra … bangunlah! Afra …!"
"Buka matamu, Afra!"
.
Netra biru seketika terbuka secara cepat. Sinar mentari menyinari ruangan kotor dan penuh bekas darah.
Afra mulai berdiri dan melihat dirinya di cermin yang sudah retak. Raganya penuh luka dan pakaian kotor oleh debu juga cairan merah. Meski awalnya ia merasakan sesuatu, tetapi perasaan itu tiba-tiba hilang. Berganti dengan matanya yang memandang kosong pantulan dirinya di cermin.
"Aku … harus memulai ini lagi, sendiri," lirih gadis bermata biru itu sembari menyentuh cermin di hadapannya, "sebagai gadis manusia."
__ADS_1