Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Teman


__ADS_3

Matahari pun sudah terbit sempurna, dan para murid mulai berdatangan masuk ke kelas. Hari ini, Afra mendapat kenalan baru, tetapi … apa Afra menganggap nya sebagai teman? Eh, apa Afra tahu apa itu teman?


"Eh, itu buku apa, Afra?" tanya Yuu sambil menunjuk buku yang dibawa Afra.


Afra pun melihat ke buku yang ada di tasnya itu, lalu mengambilnya dan menunjukkannya pada Yuu.


"I-ini buku bacaan ku…," jawab Afra masih terbata-bata.


Yuu tersenyum, "jangan gugup gitu, lah! Kita kan teman!"


Afra terkejut mendengar perkataan Yuu, "t-teman? Apa itu?"


Yuu terbelalak tak percaya mendengar perkataan Afra itu. Namun, Afra benar-benar terlihat tidak tahu sama sekali tentang 'teman', dan itu membuat Yuu sedikit kebingungan.


"Eum … bagaimana aku menjelaskannya, ya?" tanya Yuu pada dirinya sendiri sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Afra terlihat masih penasaran dan ingin tahu. Namun, ekspresi wajah Yuu yang terlihat kebingungan itu membuat Afra keheranan.


"Ah, iya! Apa … kau tahu manusia?" tanya Yuu membuat Afra terkejut, begitu juga beberapa murid yang sudah masuk kelas.


Beberapa murid langsung menoleh ke arah Afra dan Yuu, "hei, pertanyaan macam apa itu!" jawab salah satu murid dari ras siluman.


"Ya! Semua makhluk itu sudah tahu kalau ada manusia meski hanya cerita buatan makhluk-makhluk sendiri!"sambung murid lainnya yang berasal dari ras penyihir.


Afra hanya bisa mendengarkan perkataan mereka dengan tubuhnya yang gemetaran. Bagaimana … jika mereka nanti menyadari kalau aku manusia? batin Afra bertanya-tanya.


Meski begitu, sepertinya Yuu tidak terima dengan perkataan mereka.


"Hei, hei, hei! Aku kan hanya bertanya saja! Memangnya, kalian bisa jelaskan apa itu teman?" ucap Yuu dengan nada mengejek sambil berjalan menghampiri kedua murid itu.


Kedua murid itu tampak gemetaran mendengar perkataan Yuu, sedangkan Afra sudah ketakutan terlebih dahulu. Bukan karena Yuu, tetapi karena ucapan dua murid itu tentang manusia. Bagaimana jika … mereka mengetahui kalau dirinya adalah manusia?


Murid dari ras penyihir pun bangun dari bangkunya, "baiklah! Akan ku jelaskan apa itu teman!"


Murid dari ras siluman hanya bisa duduk dan diam tanpa mengatakan sepatah katapun, sedangkan Yuu terlihat senang.


"Silahkan!" ucap Yuu masih dengan nada mengejek.

__ADS_1


Murid dari ras penyihir itu tampak kesal karena Yuu benar-benar terang-terangan mengejeknya.


"Teman itu adalah … hal yang diungkapkan manusia, sebagai … bentuk suatu ikatan antara hubungan satu sama lain!" jawab murid dari ras penyihir itu dengan wajahnya yang mulai ragu.


Yuu tersenyum miring, "waah, aku tidak paham sama sekali dengan penjelasan mu!" ejeknya sambil memalingkan wajahnya dari murid itu.


Murid dari ras penyihir itu pun langsung duduk di bangkunya, "terserah kau saja!"


Yuu tertawa senang karena berhasil mengejek kedua murid itu, sedangkan Afra … ya, sepertinya Afra masih menundukkan kepalanya dengan tubuhnya yang gemetaran.


***


Kelas pun dimulai dengan bunyi jam, karena loncengnya sudah menghilang. Dan di kelas I 1, iblis pendiam sudah hadir dan sepertinya akan memberi pelajaran. Ya, memangnya siapa iblis pendiam itu?


.


Semua murid sekarang sudah hadir di akademi dan sudah masuk ke kelas. Waktu pelajaran pun sudah dimulai. Para senior dari kelas III lah yang akan mengajar para junior kelas I. Dan hanya kelas II lah yang akan dibiarkan untuk belajar sendiri.


Afra berada di ruang kelas I 1, bersama dengan Vendry yang kemarin ditantang untuk duel dan … Yuu yang baru saja Afra kenal. Semua murid terlihat duduk tenang di bangkunya, meski pandangan mereka tidak melihat ke depan.


"Kira-kira siapa … yang akan mengajar?" tanya Afra pada dirinya sendiri. Afra sekarang sudah lebih baik dan tidak takut lagi setelah….


"Kelas I 1," ucap Rye tiba-tiba muncul di depan pintu masuk kelas.


Semua murid langsung menoleh ke arah pintu, termasuk Afra dan Yuu. Rye pun membuka pintu dan masuk ke kelas, membuat semua murid tak bisa berkata-kata. Semuanya hanya diam dan melihat Rye sampai berdiri di depan kelas.


Suasana hening tercipta. Rye diam dan menatap para murid di kelas, dan para murid hanya bisa diam dan berusaha untuk tidak takut.


Rye pun berbalik dan menghadap papan tulis. Ia pun menyentuh papan tulis itu dengan satu tangannya, dan … tulisan pun muncul di papan tulis itu.


Rye berbalik dan menatap para murid lagi, tetapi kini pandangan Rye langsung menuju pada Afra. Afra yang menyadari dirinya ditatap Rye langsung menunjukkan wajah heran. Ya, tidak seperti ekspresi murid-murid lain yang … ketakutan.


"Rye Else," ucap Rye membuat semua murid tertegun, termasuk Afra yang masih ditatap olehnya.


Rye pun langsung berjalan keluar dari kelas setelah mengatakan namanya sendiri itu. Semua murid hanya bisa diam sampai Rye sudah pergi jauh dari kelas.


"Hah…," ucap semua murid menghembuskan nafas lega.

__ADS_1


Afra sedikit kebingungan melihat semuanya yang terlihat seperti … baru saja terbebas dari monster. Yuu juga termasuk salah satu yang menghembuskan nafas lega.


"Yuu, kenapa kau … seperti itu?" tanya Afra tidak tahu harus mengatakannya seperti apa.


Yuu pun menoleh ke arah Afra, "eh, apa kau tidak merasakannya?"


Afra terkejut dan keheranan mendengar perkataan Yuu.


"Me-merasakan apa? Dia cuma diam saja kan, setelah itu dia menyentuh papan tulis dan—"


"Hei! Ini pasti gila kan!" potong salah satu murid dari ras penyihir. Murid itu langsung bangkit dari bangkunya dan terlihat gemetaran setelah melihat papan tulis.


Semua murid pun satu persatu ikut terkejut dan ketakutan.


"Apa-apaan ini!"


"Ini pasti bohongan kan!"


Afra dan Yuu pun langsung bangkit dari bangku dan melihat ke arah papan tulis.


"Temukan aku, atau satu persatu dari kalian akan mati, Rye Else!" ucap Vendry membaca tulisan di papan tulis itu.


Afra dan Yuu terkejut dan tak percaya mendengar perkataan Vendry itu. Semua murid terlihat panik, dan ini tidak terlihat seperti biasanya. Ya, seperti ada yang aneh.


"A-apa maksudnya itu?" tanya Afra kebingungan.


Vendry tersenyum tipis, "itu tantangan, lho! Tidak ada pelajaran diam di kelas untuk kita!"


"Semuanya! Jika kita bisa menemukan Kak Rye dan mengalahkannya, maka jam pertama ini akan berakhir!" sambung Vendry bangkit dari bangkunya dan mengatakannya dengan lantang.


Semua murid yang mendengar perkataan Vendry pun langsung mengubah rasa panik itu menjadi semangat.


"Ya, dengan begitu kita—"


.


.

__ADS_1


.


"Mati!"


__ADS_2